Khubab Al-Mundzir: Pemilik Strategi Brilian Kemenangan Perang Badar

Ilustrasi foto (Liputan6)
Penulis: KH. DR. Miftah el-Banjary, MA 
Atorcator.Com – Sama sekali tak ada ketakutan pada raut wajah mereka. Menjadi
syahid dalam peperangan Badr adalah hal yang sangat diidamkan oleh setiap
Muslim. Pasukan itu dipimpin langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersama para sahabat tercintanya.
Jumlah kaum muslimin memang masih belum banyak. Mereka hanya
berjumlah 313 orang dengan peralatan persenjataan yang seadanya. Bahkan, ada
satu ekor unta atau kuda yang ditunggangi dua hingga tiga orang. Namun
demikian, semangat juang mereka menegakkan kalimat Allah kian berkobar-kobar.
Pepeperangan Badr merupakan perang terbuka terbesar pasca
hijrah di tahun ke-2 Hijrah. Meski sebelumnya, sudah pernah berlangsung
penyerangan kecil-kecilan yang hanya melibatkan puluhan orang pada tahun ke-1
Hijriyyah, baik yang dipimpin oleh Rasulullah secara langsung atau hanya
sahabat saja.
Pemicu peperangan Badr disebabkan fitnah yang dihembuskan
oleh Abu Sufyan terhadap warga Musyrikin Makkah yang menyatakan bahwa dia dan
kafilah dagangnya dirampok oleh kaum muslimin sewaktu melewati jalur Madinah.
Laporan Abu Sufyan memicu kebangkitan gelora kemarahan besar
dari elite kafir  Quraisy, semisal Abu Jahal dan Abu Lahab serta tokoh
pemuka Quraisy lainnya hingga mereka mempersiapkan kekuatan 1.000 pasukan untuk
menyerang Madinah. Kekuatan itu juga ditambah dengan kekuatan pasukan dan
persenjataan yang lebih lengkap dari belbagai koalisi dari suku-suku Arab
Yahudi.
Rasulullah dan para sahabat yang mendengar info penyerangan
itu segera bergegas mempersiapkan pasukan untuk mempertahankan kota. Dengan
jumlah kecil dan peralatan perang seadanya terhimpunlah kekuatan sebanyak 313
orang pasukan.
Bertepatan pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 hijrah, perang
Badar terjadi dalam sejarah peradaban Islam sebagai perang pertama terbesar dan
perang yang dimenangkan kaum muslimin dengan jumlah pasukan paling sedikit
jumlah personilnya.
Rasulullah pun mengarahkan pasukannya menuju bukit Badar.
Sebuah bukit yang berada di dekat kota Madinah. Namun sayangnya, masih ada
beberapa pasukan yang lebih menyarankan Rasul untuk menunggu kafilah dagang Abu
Sufyan saja. Hingga muncullah teguran dari Allah:
وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ
وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللَّهُ
أَن يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ
Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa
salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu
menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan
Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan
memusnahkan orang-orang kafir.
” (QS al-Anfal: 7)
Setelah turunnya ayat teguran itu, semakin menggelorakan
semangat jihad kaum muslimin hingga mereka pun bersepakat untuk tetap berangkat
menuju mata air Badar dan mengabaikan kafilah dagang Quraisy yang dipimpin Abu
Sufyan.
Setibanya di mata air Badar, Rasulullah pun memerintahkan
pasukannya untuk mencari posisi yang tepat sebagai pos pertahanan mereka. Rasulullah
kemudian menjadikan lembah badar sebagai pos pertahanan mereka. Yakni tepatnya
di sumur pertama yang dilalui mereka.
Namun, datanglah seorang pria pejuang pemberani kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tampaknya pria ini telah memiliki
rencana lain selain rencana yang telah diputuskan oleh Rasulullah.
Pria itu bernama al-Khubab bin al-Mundzir. Disebutkan oleh
Syamsuddin al-Dzahabi dalam Târikh al-Islâm wa Wafâyât Masyâhir al-Aḥlâm, bahwa
dialah yang mengusulkan sebuah taktik perang yang jitu pada saat perang Badar
terjadi.
Ia dengan hati-hati bertanya kepada Rasul. Ia tidak ingin
menajadi sahabat yang membantah titah dan perintah Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, ampunilah aku jika terlalu lancang
bertanya kepadamu. Wahai Rasul, apakah tempat ini adalah tempat yang diwahyukan
oleh Allah kepadamu sehingga engkau tidak bisa menolaknya atau tempat ini
hanyalah pendapat pribadimu atau bagian dan siasat perang?”
Nabi kemudian menjawab, “Bukan wahai Khubab, ini hanyalah
pendapatku semata. Ini bukan wahyu dari Allah subhanahu wata’ala.”
“Jika benar begitu, bolehkah aku berpendapat wahai Rasul?”
Pria ini kemudian melanjutkan pertanyaannya dengan tenang dan
hati-hati. Ia takut jika pendapatnya ini menyakiti perasaan Rasul atau mungkin
tidak diterimanya.
“Wahai Rasul, menurut pendapatku, tempat ini bukan merupakan
tempat yang baik. Kita seharusnya berada di tempat yang lebih dekat dengan
sumber air. Mari kita bawa pasukan menuju sumber air. Setelah sumber air kita
kuasai, kita tutup sumber air itu.
Setelah itu kita harus membuat kolam yang kita isi dengan air
dari sumber itu. Posisi ini akan sangat menguntungkan pasukan kita, karena
persediaan air kita bisa terjamin sedangkan mereka tidak. Sehingga mereka akan
kehausan karena kehabisan persediaan air.”
Usulan Khubab ini sangat diapresiasi oleh Rasulullah. Tanpa
pikir panjang, Rasululah kemudian memerintahkan pasukannya sesuai dengan arahan
dan pendapat Khubab. Sikap beliau ini menunjukkan bahwa Nabi adalah pribadi
yang gemar musyawarah dan terbuka atas pendapat orang lain.
Dan akhirnya taktik Khubab pun berhasil. Pasukan Muslim
mendapatkan persediaan air yang cukup selama berperang. Sedangkan kafir Quraisy
kehausan dan kelaparan karena sumber air itu telah ditutup.
Khubbah meninggal pada saat Umar bin Khattab menjadi
khalifah. Taktik perang Khubbab yang menjadikan kaum Muslimin menang dalam
perang Badar akan dikenang oleh seluruh umat Islam sepanjang masa.
Hikmah yang bisa dipetik kaum muslimin yang tengah menghadapi
peperangan ideologi atau pertarungan menghadapi kezhaliman penguasa, maka hal
yang perlu diperhatikan adalah bukan seberapa besar kekuatan itu, namun
seberapa cerdas taktik dan strategi perang yang digunakan.
Atas saran Khubab al-Mundzir, Rasulullah menduduki mata air
perang Badr, sehingga kekuatan musuh yang besar menjadi lumpuh, sebab mereka
menjadi haus dan kekurangan pasokan air.
Dalam strategi politik “Poeple Power” kita bisa
mengambil contoh beberapa kasus revolusi yang terjadi di beberapa negara Timur
Tengah, seperti Mesir misalnya.
Apa yang pernah dilakukan oleh rakyat Mesir ketika
menggulingkan kekuasaan pemerintahan otoriter Husni Mubarak pada peristiwa
menomental Revolusi Mesir tahun 2011 yang lalu bisa menjadi bukti adanya
kekuatan “People Power” ketika rakyat sudah tidak mempercayai
pemimpinnya.
Sejak awal Januari 2011, Rakyat Mesir menduduki gedung
Mogamma yang menjadi pusat Kementerian Dalam Negeri Mesir di Tahrir Square
hampir selama setahun, sehingga jalan pemerintahan menjadi terhambat hingga
akhirnya lumpuh.
Presiden Husni Mubarak pun akhirnya menyatakan pengunduran
dirinya sebagai Presiden Mesir pada 02 Februari 2011 setelah berkuasa lebih
dari 30 tahun lamanya sejak 14 Desember 1981. Kekuatan People Power yang
berhasil meruntuhkan tirani kekuasaan otoriter Mubarak disebabkan strategi yang
tepat.

Maka dalam konteks peperangan politik perang Badr bisa
dijadikan sebagai model dalam memenangkan strategi perlawanan atas kekuatan
yang minimal dengan hasil yang maksimal.

Wallahu ‘alam.

  • KH. DR. Miftah el-Banjary, MA Penulis National Bestseller | Dosen | Pakar Linguistik Arab & Sejarah Peradaban Islam | Lulusan Institute of Arab Studies Cairo Mesir.

Related Posts