Mbah Soleh Darat Penerjemah Al-Qur’an Dalam Bahasa Jawa

Ilustrasi foto (Mbah Soleh/NU.or.id)
Penulis: Nyai Shuniyya Ruhama

Atorcator.Com – Yang Mulia Syaikhona Mbah Soleh Darat Semarang adalah
salah satu founding father bangsa Indonesia ….. Guru dari Hadlrotusy Syaikh
KH. Hasyim Asyari (Pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), Habib
Yahya (Buyut Maulana Habib Lutfi- Pekalongan), Mbah Dalhar-Watucongol Magelang,
Mbah Munawir Krapyak-Jogja, dan Ibu RA. Kartini, serta tokoh-tokoh bangsa
Indonesia lainnya …

Dikisahkan, Yang Mulia Mbah Soleh Darat adalah seorang Priyogung yang hampir
tidak pernah menampakkan karomahnya kepada siapapun. Sehingga, dalam
kesehariannya, jika orang tidak faham tentang beliau, maka tidak sedikitpun
menyadari bahwa yang ada di hadapannya adalah seorang wali Allah.

Beliau hidup di jaman penjajahan Belanda. Sebagaimana para Kyai pada jaman itu,
beliau termasuk orang yang memupuk rasa Nasionalisme kepada para santri dan
pengikutnya. Hal inilah yang memusingkan Belanda. Tetapi, pembawaan beliau yang
tenang dan tidak tampak bahayanya, membuat Belanda tidak pernah punya alasan
untuk menangkap, apalagi mengasingkan beliau Yang Mulia.

Sehingga suatu saat, ada seorang pengikut Mbah Soleh Darat berhasil dipengaruhi
oleh Belanda dengan memberikan banyak harta. Pengikut Mbah Soleh Darat tersebut
berusaha membujuk Gurunya supaya tidak lagi kritis dan tidak menanamkan jiwa
nasionalisme. Beliau dihadiahi perhiasan dan sejumlah uang. Mbah Soleh Darat
hanya tersenyum saja.

Beliau bertitah, “Aku punya yang lebih banyak daripada itu,” sembari
menampakkan emas permata dan uang yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada
hadiah tersebut. Menyadari hal ini, pengikut beliau minta maaf dan menyadari
bahwa gurunya bukanlah “orang biasa”.

Beliau juga termasuk orang yang berani melanggar peraturan dari Belanda, saat
diminta oleh Ibu Kita Kartini, wanita Indonesia yang agung sepanjang masa,
untuk menterjemahkan Al-Qur’an dalam bahasa Jawa.

Di masa itu, menterjemahkan Al-Qur’an ke bahasa daerah merupakan hal yang amat
dilarang oleh Pemerintah Belanda. Sebab, Belanda menderita trauma akibat gelora
Jihad yang dialunkan Al-Qur’an melalui para Ulama.

Atas berkat perantara Ibu Kartini, Yang Mulia Mbah Soleh Darat berkenan
menterjemahkan Al Quran dalam Bahasa Jawa untuk pertama kalinya, sehingga
pembaca Kitab Agung Gegemaning Jalma bisa dipelajari maknanya.

Ila hadlroti ruhi Syaikhona Mbah Soleh nDarat Semarang wa zawjatihi
wadzurriyatihi wa furi’ihi wasilsilatihi wa muhibbihi syaiun lillahu lana
walahum al fatihah…


  • Nyai Shuniyya Ruhama Pengajar PPTQ Al-Istiqomah Kendal. Murid Mbah Wali Gus Dur

Related Posts