Mengenang Ramadan di Desa

 

Alif.id

Penulis: Dimas
Supriyanto
Atorcator.Com
Setiap kali memasuki hari besar keagamaan tiba, saya kembali
terkenang ke masa kanak kanak. Selain Lebaran, perayaan Idul Fitri, juga saat
bulan Ramadan tiba. Bulan puasa.
Masa kanak
kanak yang romantis di saat menahan lapar dan harus di siang hari tergambar
lagi setiap kali Ramadan datang.
Saya dibesarkan
di kampung. Meski tinggal di pinggir jalan aspal di jalur selatan Jawa Tengah,
kota kecamatan tempat saya tinggal hanya perlintasan dan selewat tiga rumah ke
belakang dari tempat saya tinggal, sudah masuk suasana kampung. Sehingga
saya menjalani kehidupan sebagai orang kampung.
Aliran listrik
belum masuk pada saat saya masih kanak kanak. Sebagian rumah diterangi cahaya
petromak – termasuk rumah saya – tapi sebagian besar lagi menggunakan lampu
minyak seadanya, pelita (senthir), lampu tempel (teplok). Atau lampu gantung
bukan listrik.
Listrik
mengaliri desa saya setelah saya pindah ke ibukota, pada akhir tahun 1975.
Saya menjalani
masa kanak kanak yang indah dan bahagia. Ketika melihat foto salon suasana desa
dan saya mencomotnya di Google – maaf kepada pemilik karya dan hak ciptanya –
saya terkenang lagi masa kanak kanak.
Kami biasa
mandi di kali dan diam-diam minum seteguk dua teguk air. Main di kuburan,
mengumpulkan buah buah yang jatuh dari pohon di sana atau berkumpul di
pekarangan, dengan rimbun rumpun bambu, untuk main perak umpet, wayangan,
kelereng, egrang, dan macam macam mainan sesuai musim.
Dalam suasana
dan atmosfir seperti di foto foto atas itulah –  saya menjalani masa kanak
kanak saya. Dan saya kira demikian generasi kami di era 1960-70an dan
sebelumnya.
Anak anak di
kampung saya dilatih puasa setengah hari. Namun banyak yang gagah berani puasa
sampai beduh tiba. Saya salahsatunya.
Berkumpul di
mushala setelah buka puasa untuk shalat tarawih adalah kegiatan rutin.
Menjelang magrib anak anak berkalung sarung, berebut ambil air wudhu dengan
sendal bakiak, lalu nyanyi dan puji pujian dalam bahasa Jawa, menjelang
bedug magrib tiba. Lagu “Tombi Ati” yang dipopulerkan oleh Opick
adalah nyanyian menjelang maghrib bagi anak anak di kampung kami dulu.
Saya terkejut
ketika di ibukota, di tanah Betawi, sembarang bocah dan sembarang orang
bebas adzan. Di kampung saya yang boleh adzan hanya mereka yang memiliki suara
bagus, indah merdu dengan lafal yang benar. Padahal masa itu belum ada speaker.
Menjelang
tengah bulan perbincangan di antara anak anak di kampung kami adalah baju
lebaran. Sudah dibelikan? Apa modelnya? Apa warnanya? Beli di pasar mana? 
Itulah yang paling sering ditanya. 
Di antara yang
mengobrol dan bergosip (ndopok) sebagiannya ada yang diam saja,
mendengarkan, karena sudah tahu tak akan punya baju baru. Atau hanya dapat
“lungsuran” (baju bekas pemberian). Karena dari keluarga yang tidak
mampu.
Jarang sekali
kanak kanak masa itu dapat lebih dari satu stel – khususnya teman teman
sepermainan saya.  Dapat baju baru satu saja sudah bersyukur.
Meski
demikian, kami bahagia. Setidaknya saya masih mengenangkan masa masa itu indah, nostaligis
dan bahagia.


Semoga Anda
semua bisa melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan 1440 Hijriah ini dengan
khidmad, khusuk dan mendapatkan pencerahan. Amin.

Related Posts