Nuzulul Qur’an dalam Pemikiran KH. MA. Sahal Mahfudh - Atorcator

Nuzulul Qur’an dalam Pemikiran KH. MA. Sahal Mahfudh

Ilustrasi foto (KH MA. sahal Mafudh/Nu-Online)
Penulis: KH. Dr. Jamal Ma’mur Asmani

Atorcator.Com – Menurut Kiai Sahal, proses
penurunan al-Qur’an yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw lewat
Malaikat Jibril Alaihis Salam melalui tiga tahap:
Tahap yang pertama, al-Qur’an
diturunkan Allah secara keseluruhan ke lauhul mahfudh. Tidak hanya al-Qur’an,
al-kutub al-samawiyyah dan semua yang akan terjadi diturunkan Allah ke Lauhul
Mahfudh. Hal ini tersurat dalam ayat al-Qur’an,

بَلْ هُوَ قُرْاءَنٌ
مَجِيْدٌ فِيْ لَوْحٍ مَحْفُوْظٍ
  .

Kapan Allah menurunkan Al-Qur’an di
lauh al-mahfudh ? tidak ada yang tahu. Allah tidak memberitahu siapapun
mengenai kapan diturunkannya al-Qur’an di lauhil mahfudh. Imam Ibnu Katsir
dalam tafsirnya menjelaskan hal ini bahwa tidak tahu kapan al-Qur’an diturunkan
di lauhil mahfudh.
Tahap kedua, al-Qur’an di turunkan
di satu tempat, namanya baitul izzah. Baitul izzah itu tempat di sama’ al-dunya
(langit dunia). Langit yang bisa dilihat dari bawah ini namanya sama’ al-dunya.
Ini juga jumlatan wahidah (secara keseluruhan), tidak dicicil sedikit demi
sedikit, tapi utuh. Sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas dalam tafsirnya.
Pada tahap kedua ini jelas kapan
Allah menurunkannya. Dalam al-Qur’an Allah berfirman inna anzalnahu fi lailatil
qodr, dalam ayat lain, inna anzalnahu fi lailatin mubarakah, dalam ayat lain,
syahru Ramadhana al-ladzi unzila fihi al-qur’anu hudan li al-nashi wa
bayyinatin min al-huda wa al-furqon. Ini jelas bahwa al-qur’an turun pada
lailatul qadr di bulan Ramadhan.
Waktu lailatul qadar tidak jelas.
Ada ulama yang mengatakan, bahwa lailatul qadr jatuh hari ganjil pada sepuluh
terakhir bulan Ramadhan, mulai tanggal 21 sampai selesai. Ada ulama lain yang
mengatakan, kalau Ramadhan dimulai hari tertentu, lailatul qadr jatuh hari
tertentu. Namun kebanyakan ulama mengatakan, lailatul qadr tidak bisa
ditentukan. Cuman kemungkinan besar pada hari ganjil sepuluh terakhir. Tapi,
lailatul qadar bisa diturunkan pada awal Ramadhan.
Dalam hal ini, yang tahu hanya
Allah Swt. Bahkan para ulama mengatakan, lailatul qadr itu setiap tahun bisa
berubah. Setiap malam dari bulan Ramadhan bisa terjadi lailatul qadr. Tanggal
berapa tidak ada yang tahu. Yang jelas lailatul qadr itu malam diturunkannya
al-Qur’an dari لَوْحُ اْلَمْحفُوْظِ ke بَيْتُ اْلِعزَّةِ
min sama’id dunya. Bagaimana cara menyiasatinya, mudah sekali. Yang penting
jangan sampai pada malam bulan Ramadhan ada yang lobong, semua harus penuh
diisi dengan amal shalih. Pasti ada satu diantara malam Ramadhan tersebut tepat
jatuh lailatul qadr. Tapi, kalau ada yang lobong satu saja, mungkin pas lobong
itu lailatul qadr.
Ada 5 hal, dimana Allah sengaja
merahasiakan. Diantaranya, lailatul qadr dirahasiakan selama bulan Ramadhan.
Tiap malam harus dipakai untuk mendapatkan lailatul qadr. Sama dengan al-ismu
al-muaddham dari sekian asma Allah, ma da’a bihi ahadun illa wa qad ustujiba,
siapa yang berdoa memakai asma tersebut pasti dikabulkan Allah Swt. apa itu ?
Arrahman, Arrahim, tidak jelas. Pokoknya dari semua asma Allah, ada satu yang
disebut al-ismul muaddhhom, dipakai do’a mustajab, dalam bahasa Jawa namanya
cespleng.
Cara menyisatinya gampang. Kalau
do’a pakai aja semua asmaul husna. Menyiasatinya mudah, melaksanakan sulit.
Sama dengan waliyyullah, Allah merahasiakan diantara manusia-manusia. Kalau
ingin ketemu wali, baik-baiklah kepada semua orang, tapi jangan semua orang
dianggap wali. Apalagi sekarang banyak mutawalli, menganggap dirinya wali.
Maksudnya, supaya hati-hati, jangan sampai suudzdzhan, terutama saat-saat wuquf
di Arafah. Semua wali berkumpul disana. Jumlahnya wali ratusan, dan
macam-macam, ada wali ruqoba’, wali nujaba’ dan wali qutub. Wali qutub di dunia
hanya satu. Begitu meninggal diganti.
Pernah ada satu cerita, Kiai
Mahfudh al-Tarmasi dengan gurunya Sayyid Abu Bakar Syaa yang ngarang I’anatut
Tholibin. Kiai Mahfudh memberanikan diri tanya sama gurunya, sekarang ini Wali
Qutub ini siapa ? berkali-kali tanya tidak ditanggapi, tapi Kiai Mahfudh terus
bertanya, karena ingin ketemu wali qutub. Akhirnya, Gurunya, Sayyid Abu Bakar
Syatho, memberitahu : Kalau kamu ingin tahu, wali qutub sekarang ini, maka
datangi orang yang berada di dekat masjidil haram, tukang tambal sandal. Kiai
Mahfudh langsung lari ke pintu masjidil haram, mencari orang yang ditunjukkan
gurunya tadi, ternyata tidak ada. Kemudian, Kiai Mahfudh menelusuri
keberadaannya, akhirnya ada yang bilang, sudah dua hari kemarin meninggal
dunia. Memang dirahasiakan Allah.
Tahap ketiga, al-Qur’an diturunkan
dari baitil izza lewat Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Swt tidak secara
langsung, tapi sedikit-sedikit, diangsur sesuai dengan kebutuhan. Jadi memakai
pendekatan kebutuhan, pada saat ada kasus, ada peristiwa, ada pertentangan, dan
saat ada sesuatu. Saat itulah Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad lewat
Malaikat Jibril dari baitil izza.
Ayat yang pertama kali diturunkan
Allah kepada Nabi Muhammad lewat Malaikat Jibril adalah ِاقْرَاءْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ sampai عَلَّمَ مَالَمْ يَعْلَمْ. Dan ini diturunkan pada saat Rasulillah
berusia 41 sesuai dengan kebutuhan. Menurut pandangan orang sekarang,
pendekatan semacam ini namanya pendekatan kebutuhan atau need approach.
Pendekatan ini sekarang ramai dibicarakan orang. Alqur’an lebih dulu ada.
Dimulai pada usia 41 tahun sampai usia 63 tahun hijrah pada saat Rasulillah
haji wada’, haji terakhir. Ayat yang turun adalah

اَلْيَوْمَ
اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ
لَكُمُ اْلِاسْلَامَ دِيْنًا
.
Ayat ini diturunkan pada tanggal 9
Dzulhijjah pada saat wuquf di Arafah, pada saat Rasul melakukan haji terakhir.
Alqur’an diturunkan pada waktu yang panjang, selama 23 tahun.
Ini perlu dijelaskan supaya tidak
terjadi salah paham karena banyak orang yang meyakini Nuzulul Qur’an jatuh
tanggal 17 Ramadhan dan lailatul qadr juga jatuh pada malam 17 Ramadhan.
Tanggung Jawab Santri
Santri sekarang harus gigih
mempelajari aqidah yang benar, mempelajari ilmu pengetahuan Islam yang benar,
supaya tidak terpengaruh oleh pikiran-pikiran yang menggunakan jalan lain.
Dalam hal ini, sanad menjadi sangat penting. Membaca sanad menjadi kebiasaan
ulama-ulama pendahulu kita. Mereka menggunakan rentetan guru yang tidak pernah
putus. Misalnya Kiai Mahfudh Termas, di Indonesia gurunya adalah KH. Sholeh
Darat Semarang, pindah ke Makkah mempunyai guru Abu Bakar Syatho, pengarang
kitab I’anatut Tholibin dan seterusnya. Apalagi yang dibaca tafsir atau hadits,
sangat penting sekali.
Bahkan ada ulama yang mengarang
kitab khusus tentang sanad yang namanya Tsabat, yaitu

كِتَابٌ يُذْكَرُ
فِيْهِ اَسَانِيْدُ الْكُتُبِ وَاَسَانِيْدُ الْفُنُوْنِ وَاَسَانِيْدُ
اْلَحَدِيْثِ وَاَسَانِيْدُ اَحَادِيْثِ الْمُسَلْسَلِ
.
Para santri pesantren salaf jangan
sampai mundur, tapi harus tetap mempertahankan aqidah ahlis sunnah wal jama’ah
yang selama sudah diyakini kebenarannya, dan bahkan harus diperkuat, agar
jangan sampai mudah dirubah, mudah terpengaruh, mudah diganggu oleh
pikiran-pikiran baru, pikiran-pikiran yang nyeleneh yang semua itu bersumber
dari golongan mustasyriqin, yaitu golongan orientalis.
Dalam hal ini, kita harus
hati-hati. Kalau tidak pesantren yang mempertahankan, lalu siapa lagi ?
Sekarang ini yang diandalkan hanya pesantren. Oleh karena itu para santri harus
menjadi orang paling terdepan mempertahankan aqidah ahlis sunnah wal jama’ah,
jangan jenuh-jenuh mempelajari, meskipun akan tetap dicemooh dan dipoyoi
disana-sini karena yang mencela itu sebenarnya tidak tahu.
Angaplah….

اِذَا تَكَلَّمَ
سَفِيْهٌ فَلَاتُجِبْهُ وَخَيْرٌ مِنْ اِجَابَتِهِ السُّكُوْتُ
 

(jika ada orang bodoh berkata, maka jangan dilayani, karena cara terbaik
menjawabnya adalah diam). Yang penting kita berada di real yang benar. Ini
semua dalam rangka mempertahankan kebenaran, sehingga tidak boleh malu.
Pemikiran KH. MA. Sahal Mahfudh ini
sering disampaikan saat khataman ngaji kitab pada malam 17 Ramadan di Pondok
Pesantren Maslakul Huda Kajen Margoyoso Pati. Semoga berkah bagi santri dan
bangsa, amiin.

Wonokerto, 17 Ramadan 1440 – 22 Mei
2019

  • Jamal Ma’mur Asmani Direktur Lembaga Studi Kitab Kuning (LESKA) Pati Jawa Tengah

komentar

Related Posts