Pengalaman Pesantren Ramadan di SMP Malang

Ilustrasi foto (Suasana pesantren Ramadan)
Penulis: Vanzaka Musyafa

Atorcator.Com – Alhamadulillah pada bulan Ramadan kali ini, saya mendapatkan
kesempatan untuk belajar bersama dalam melaksanakan tugas mengajar program pesantren
Ramadan di sebuah lembaga SMP yang menerapkan sistem sekolah full Day school.
Hari pertama masuk adalah senin 20 Mei 2019. Saya dari
Pesantren Mahasiswa Al-Hikam berjumlah 18 orang guru tugas untuk mengajar.
Mulai berangkat sekitar pukul 07:00 wib.
Sesampainya di lokasi, saya dan teman-teman disambut dengan
baik, penuh penghormatan layaknya tamu kehormatan, dan kami diminta untuk
berkumpul di  sebuah ruang kelas. Setelah
kami masuk, eh… Ternyata tidak hanya teman-teman Al-Hikam saja yang memiliki
tugas yang sama dengan kami. Ada 3 orang perempuan alumni pondok Dalwa yang juga
bertugas mengajar di program pesantren Ramadan.
Kemudian setelah itu, salah seorang guru di SMP tersebut
memberi kami arahan dan informasi seputar murid-murid dan juga seputar
Indikator pembelajaran. Serta memberi kami buku panduan materi yang akan
diajarkan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 08:00 wib. Bell berbunyi, ting
tong… Dan suara pengumuman terdengar dari speker kelas-kelas. “kepada
seluruh peserta pondok Ramadan agar segera memasuki kelasnya
masing-masing.” Ucapnya di pengumuman.
Kami mulai masuk kelas sesuai dengan pembagian yang sudah disepakati
bersama. Di dalam kelas anak-anak kelas 7 menyambut saya dengan gembira. “Assalamualaikum”
saya menyapa anak-anak dengan salam. “Waalaikum salam. Wr. Wb…”
jawab mereka serentak penuh semangat dan kompak.
Seperti pada umumnya pertama kali masuk perkenalan terlebih
dahulu, basa basi dan lain sebagainya. Karena ada pepatah, jika tak kenal maka
tak sayang.
Setelah perkenalan yang diselingi dengan basa basi, saya
mulai masuk pada materi. Diantara materi-materi yang akan diajarkan di Jam
pertama:

1. Bimbingan Puasa Ramadan
2. Citra diri seorang Muslim
3. Shalat tarawih dan witir

Jam kedua:

4. Hati tenang dengan baca Al-Qur’an
5. Zakat bersihkan Jiwa dan Harta

Yang menarik dan patut dijadikan pelajaran bagi kita semua
adalah ketika masuk pada materi ke 4 (empat). Menariknya, bacaan Al-Qura’an mereka
bervariasi. Maksudnya, ada yang lancar, ada yang tidak, bertajwid dan jari
telunjuk tepat pada harokat. Ada juga yang lancar tetapi jari telunjuk tidak
tepat pada harokat, dan lain sebagainya.

Rasanya konyol jika melihat pada tipikal2 orang yang kedua
ini hehe… Lancar tapi ndak tepat pada bacaan yang dibaca. Bahkan ketika mau
baca salah satu surat yang dia pilih (an-Nas), mirisnya dan saya tak habis
pikir, bacanya sudah selesai di surah an-Nas kemudian ia lanjut ke surah al-Falaq
tapi telunjuk masih pada surat an-Nas.
Setelah saya tanya satu persatu, menurut data argumentasi
saya dengan jumlah siswa siswi 32, yang hadir 29. Sekitar 80% siswa-siswi
mengaku tidak lagi mengaji (seperti TPQ dsb) setelah mengikuti sistem sekolah
full Day school.
Pengakuan dari mereka bervariasi. Membaca Al-Qur’an dan ngaji
Qur’an hanya belajar satu minggu sekali. Ada sebagian yang privat, ada yang
masih ngaji habis maghrib. Tapi, itu hanya sebagian kecil dari mereka.
Sebagian besar di kelas yang saya ajar masih diluar jangkauan
belajar mengaji agama yang mendalam. Terutama dalam hal membaca al-Qur’an.
Dengan pengalaman ini, saya melihat ini salah satu akibat
kecil sistem sekolah full Day school yang membuat anak kurang begitu menggubris
membaca Al-Qur’an. Seharusnya Pembekalan materi tentang agama harus juga diprioritaskan.
Bukan untuk menyacat, menggugat atau lain sebagainya. Saran
saya, alangkah baik dan penting untuk menambah jam materi agama. Karena peran
materi tentang agama itu luar biasa manfaatnya. Tidak hanya pada ranah kognitif
saja, tetapi juga afektif dan psikomotor.
Hal ini yang harus kita fikirkan dan kerjakan bersama. Namun,
peran yang sangat berpengaruh disini adalah pihak sekolah. Karena seluruh
kebijakan ada pada sekolah
Semoga pendidikan di Indonesia ini semakin berkualitas dan
dapat menghasilkan sumber daya manusia yang sehat, cerdas, baik dan memiliki daya
saing. Amin…
والله اعلم بالصواب

  • Vanzaka Musyafa Pengurus jam’iyah ngopi pegon Malang

Related Posts