Puasa dan Keikhlasan Menerima Tanpa Syarat Apapun Keputusan Rakyat

Ilustrasi Foto ( I News)
 Penulis: Rudi S Kamri
Pak Prabowo puasa gak ya?
Insyaallah kalau seorang muslim yang baik dan dalam kondisi
sehat jiwa – raga pasti akan menjalani Ibadah Puasa di bulan Ramadhan. Kalau
beliau menjalani ibadah puasa sudah pasti beliau akan mampu mengendalikan diri
dan bersikap lebih rendah hati serta tawadhu.
Selama bulan Ramadhan ini, saya berharap tidak ada lagi
kalimat yang bersikap selfish dan memaksa seperti : “Pokoknya saya harus
menang, pokoknya saya harus dilantik jadi Pleciden”. Insyaallah kita semua
tidak akan melihat lagi adegan lucu seperti itu. Karena malaikat juga sudah
tahu siapa yang jadi juaranya.
Hikmah terbesar yang kita dapatkan saat bulan ramadhan
adalah, setan-setan pengganggu manusia telah diikat kuat di beranda neraka. Pun
pula kita berharap setan-setan yang selama ini mengelilingi dan menjerumuskan
Pak Prabowo juga diikat dan disumpal mulutnya agar tidak lagi menyesatkan akal
sehat seorang Prabowo.
Indikasi penyesatan ini juga diungkapkan oleh anggota koalisi
Prabowo-Sandi, Andi Arief dari Partai Demokrat. Dia mencium kuat ada upaya
penyesatan kemenangan 62% yang dilakukan oleh pembisik terdekat Prabowo.
“Ini harus diungkap dan diusut siapa orangnya”, kata Andi Arief
berapi-api. Entah mengapa, untuk pertama kali dalam hidup saya,  saya
melihat Andi Arief begitu mulia hatinya dan sontak wajahnya berubah seperti
Aliando.
Puasa ternyata membawa hikmah kesadaran hati menjadi bersih.
Andi Arief adalah salah satu orang yang mengikuti langkah sehat Mardani Ali
Sera. Dia yang menjadi penggagas gerakan ganti pleciden sekarang malah mengharamkannya.
Bisa jadi kalau dilihat dari kacamata politik ini adalah langkah pencitraan
yang realistis saat jagoannya sudah di tabir jurang. Namun kalau kita melihat
dari dimensi kesucian ramadhan, langkah dari Mardani Ali Sera adalah lahirnya
penyadaran dari kesesatan untuk kembali ke fitrah kebenaran.
Ini bulan puasa. Bulan penuh keikhlasan. Kita berharap semua
pihak ikhlas dan menerima apapun keputusan rakyat yang dibacakan oleh
Komisioner KPU tanggal 22 Mei nanti. Yang menang jangan MABUK dan yang kalah
jangan ngamuk. Ini realitas dan keniscayaan dalam proses demokrasi.
Lupakan omongan ngawur Rizieq Shihab, karena dia bukan
penentu arah kemana negara akan berjalan. Dia bukan apa-apa dan bukan
siapa-siapa. Kalau dia merasa meneladani Rasulullah, dia akan memberikan
keteduhan dan kedamaian. Namun kalau dia berperilaku dengan berlisan
sebaliknya, dia berarti bukan pengikut Nabi Muhammad SAW. Karena Rasulullah
tidak pernah memberikan contoh lisan yang kasar atau sikap yang memecah belah
umat manusia. Yang bersikap seperti itu adalah followers Abu Jahal atau Abu
Lahab.
Mumpung ini bulan puasa, bulan yang penuh prasangka baik.
Mari kita juga mengedepankan prasangka baik kepada siapapun termasuk kepada
Bawaslu, KPU dan aparat negara lainnya. Kita jangan lagi mendengar ocehan
ngawur Yusuf Martak yang mencurigai siapapun yang dirasakan akan mengganggu
kepentingan dan niat jahatnya. Mari kita dengar himbauan ulama yang teduh
dan memayungi umat. Bukan orang yang mengaku diri ulama tapi memprovokasi umat
Bukan hanya kepada Pak Prabowo atau Pak Jokowi saja harapan
untuk merendahkan hati dan tawadhu dalam menerima apapun keputusan rakyat (yang
dibacakan KPU) kita suarakan. Tapi juga kepada para pengikutnya. Kita harus
menerima apapun kehendak mayoritas rakyat dalam memilih pemimpinnya.
Ini bulan puasa. Bulan penuh rasa berserah. Bukan bulan jaga
baliho.
Salam SATU Indonesia

Related Posts