Ramadan di Pesantren: Sebuah Kenangan KH Husein Muhammad (2)

Ilustrasi foto (KH Husein Muhammad/Fahmina.or.id)

Penulis: KH Husein Muhammad

Atorcator.Com – Tahun 1960, saat usiaku 6 tahun Kiyai Mahfuzh Thaha, kiyai
yang ganteng asal Lebaksiu Tegal menjadi menantu Kiyai Syathori. Beliau menikah
dengan adik ibu saya. Bersamaan dengan  pernikahan beliau aku
disunat/dikhitan.
Kiyai Mahfuz adalah seorang “hafizh”, (sebutan
untuk orang yang hafal al-Qur’an 30 juz), alumni pesantren Kaliwungu. Sejak
saat itu lahir tradisi baru di pesantren. Sebagai seorang hafizh, Kiyai Mahfuzh
diminta oleh Kiyai Syathori menjadi imam shalat Tarawih.
Setiap rakaat kiyai Mahfuz membaca 1,5 sampai 2 halaman Al-Qur’an.
Dalam tradisi pesantren shalat Tarawih diselenggarakan sebanyak 20 rokaat plus
3 rakaat shalat witir. Setiap sekali tarawih memakan waktu sekitar 2 jam.
Nah, maka 30 Juz itu biasanya dapat dikhatamkan dalam 20
hari. Lumayan capek berdiri. Saat Kiyai Mahfuzh mengimami, Kiyai Syathori
selalu berada tepat di belakangnya sambil memegang mushaf dan
me”nyimak” yakni mengamati bacaan hafalan Imam dengan melihat mushaf.
Boleh jadi juga untuk mengkoreksi jika ada kekeliruan bacaan atau lupa.
Bisa dibilang, Kiyai Mahfuzh adalah hafizh pertama di
Arjawinangun. Beliau wafat tahun 1999 di pesantren Darul Quran, Muara Bulian
Jambi yang didirikannya, tahun 1991. Beliau meninggalkan anak-anaknya yang juga
Hafiz. Anaknya : Kiyai Ubaid dan menantunya : Kiyai Dr. Ahsin Sakho, itu yang
menggantikan beliau meneruskan tradisi ini sampai hari ini. Alfatihah.
Di samping itu, setiap sore, sesudah shalat Ashar, di bulan
Ramadhan juga Kiyai Mahfuzh Thoha mengadakan sema’an al-Qur`an yang dihadiri
oleh masyarakat di sekitar pesantren. Jumlahnya bisa mencapai 70 orang. Beliau
membaca dengan hafalan al-Quran dan yang lain menyimak/mendengar sambil melihat
dan memperhatikan. Biasanya setelah itu beliau memberikan taushiyah, atau
menjelaskan hal-hal penting terkait dengan bacaan dan makna beberapa ayat
al-Qur`an yang dibacanya.
Tradisi ini juga masih berlangsung sampai sekarang. Selepas
Kiyai Mahfuzh mangkat(meninggal), anaknya yang juga “hafizh”, Kiyai
Abdullah Ubaid yang meneruskannya. Jika berhalangan mengundang orang luar yang
hafal al-Qur`an untuk menjadi imam shalat Tarawih dan hadir di acara sema’an.
Kiyai Ubaid, adalah pengasuh pesantren Dar al-Qur’an di Lebaksiu, Tegal.
Santrinya sudah mencapai sekitar 2000 laki-laki dan perempuan.
Saya sendiri sebetulnya juga adalah seorang hafizh, meskipun
hafalan saya tidak sebaik dan sehebat adik saya, Kiyai Ahsin. Atau bahkan lebih
tepat disebut “pernah jadi Hafizh”. He he. Saya dulu tahun 1973-1979
belajar di PTIQ. Di sana kegiatan sehari-hari saya adalah menghafal al-Qur`an.
Kiyai Mahfuz sering menyuruh saya jadi imam Tarawih. Dan saya sering hanya
sanggup setengah juz saja, dan itu untuk beberapa juz awal.

Sekarang sudah tidak lancar lagi dan lebih tepatnya banyak
lupanya. Maka kalau saya diminta jadi imam Tarawih, saya akan baca dari surah
Al-Hakum sampai Tabbat pada setiap rakaat pertama plus Qulhu pada rakaat kedua.
Untuk Witirnya baca surah Sabbihis dan Qulya   serta surah Qulhu dan
mu’awwidzatain. Harap maklum. He he he.

  • Husein Muhammad Pencinta kajian-kajian keislaman, utamanya di bidang ilmu fikih, tema-tema keperempuanan, dan ilmu tasawuf. Menulis beberapa buku, aktif di pelbagai forum kajian, baik nasional ataupun internasional. Tinggal di Pesantren Darut Tauhid, Cirebon, Jawa Barat

Related Posts