Hasyiyah atas Tafsir al Baidhawi

Penulis: Dr. KH M Afifuddin Dimyathi

Ahad 23 Juni 2019 13:45
Ilustrasi foto/dari penulis

Atorcator.Com – Tafsir Al Baidhawi atau “Anwar at tanzil wa asror at ta’wil” adalah tafsir yang sangat terkenal di kalangan ahlus sunnah wal jamaah, bahkan di beberapa pondok pesantren di Indonesia juga dikaji oleh para Kiai dan disampaikan dengan sistem bandongan.

Kehebatan tafsir ini diantaranya adalah ia menginspirasi para ulama untuk memberi penjelasan, komentar, catatan dan detail pembahasan dari kajian tafsir ini yang hanya disebutkan secara singkat dan padat. 

Oleh karenanya, lahirlah berbagai hasyiah yang berusaha menjelaskan isi dari tafsir al Baidhowi, dan berikut ini beberapa hasyiah tafsir Baidhowi yang masih beredar:

1- Musthofa bin Ibrahim ibn at Tamjid ar Rumy al Hanafy. (w 880)


Beliau adalah seorang ulama daulah ustmaniyah, salah satu guru dari Sultan Muhammad al Fatih.
Kitabnya berjudul:

حاشية ابن التمجيد على تفسير البيضاوي

Hasyiah ini merujuk ke berbagai kitab2 induk bahasa dan tafsir, di samping juga merujuk ke kitab2 hadist.

Ibnu Tamjid cenderung menjelaskan aspek bahasa, balaghah dan hukum yang tertulis dalam tafsir Baidhawi secara luas dan mendalam dengan lebih menguatkan pendapat-pendapat Abu Hanifah. 

Beliau juga menjelaskan ayat-ayat yang dipakai hujjah oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah dan membantah pendapat2 Muktazilah.

Diantara keunggulan hasyiyah ini adalah penisbatan setiap pendapat kepada pencetusnya, lalu dijelaskan kata2 yg perlu dijelaskan dan dianalisis secara kritis.

2- Muhammad bin Musthofa al Qujawi al Hanafi terkenal dengan Syaikh Zaadah (w 951)

Beliau adalah salah seorang ulama feqih hanafi, mufassir sekaligus sastrawan di Istambul Turki.
Kitabnya berjudul:

حاشية شيخ زاده على تفسير البيضاوي

Kitab ini adalah hasyiyah tafsir Baidhawi yang sangat terkenal, dan paling banyak dirujuk oleh para pengguna tafsir Baidhawi.

Beliau menjelaskan pernyataan2 Imam Baidhawi dengan bahasa yang mudah, memperhatikan aspek2 qiroat, dan terkadang membandingkan antara pendapat2 para mufassir tanpa menguatkan salah satunya.

3-  Ahmad bin Muhammad bin Umar, Syihabuddin al Khafaji (w 1069)

Beliau adalah qodhi Mesir pada masanya, dan seorang ulama yang ahli bidang tafsir, bahasa dan sastra.

Kitabnya berjudul:

عناية القاضي وكفاية الراضي على تفسير البيضاوي

Hasyiyah ini mengikuti pola hasyiyah syekh Zaadah, dikenal juga dengan “Hasyiyah Shihab” atau “Hasyiyah al Khafaji”.

Dalam hasyiyah ini, Syekh al Khafaji menjelaskan pernyataan Imam Baidhawi dari berbagai aspek, shorof, nahwu, balaghah, qiroat, dipekuat dengan riwayat hadist dan atsar, syiir dan peribahasa Arab, juga menjelaskan riwayat hadist palsu yang disebutkan Imam Baidhawi.

4- Ismail bin Muhammad bin Musthofa al Qunawi (w 1195)

Beliau adalah salah seorang ulama besar di Qustantiniya (Istambul), ahli bidang tafsir, hadist, fiqh dan ushul.

Kitabnya berjudul:

حاشية القونوي على تفسير البيضاوي

Hasyiah ini berisi ensiklopedia bahasa dan sastra Arab karena luasnya kajian Syekh al Qunawi dan analisanya terhadap permasalahan bahasa dan balaghah dalam kitabnya. 

Beliau lebih menitikberatkan kajiannya terhadap kajian kebahasaan dan makna mufrodat serta asal derivasinya. dalam menjelaskannya beliau sering merujuk pada kitab Sibawaih, Mughn al Labib, al Bahr al Muhith, al Lubab dll.

Syekh al Qunawi juga menjelaskan permasalahan2 hukum yang dibahas oleh Imam Baidhawi dan seringkali merujuk pada Ahkam al Quran Imam al Jasshash dan al Jami’ liahkaam al Quran Imam al Qurthubi, juga menjelaskan ayat2 aqidah dan membantah pendapat muktazilah.

  • KH. M Afifuddin Dimyathi Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang dan Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

Related Posts