Mbah Soleh “Kiai Macan Tidur” dari Banyuwangi

Penulis: Muhammad Aminullah
___________________
Editor: Syarifah Nur Sya’bana
Publisher: Siti Fadilah

Ilustrasi Foto (Mbah Soleh /dari penulis) 



Atorcator.Com – “Di tengah lalu lalang mobil, motor dan truk gandeng yang biasa melewati jalan raya Genteng menuju Rogojampi hingga kota Banyuwangi, orang tua berambut putih itu tetap anteng, tidur nyenyak di tengah jalan beraspal. Anehnya, tubuh renta orang tua ini tak terlindas mobil dan truk gandeng yang melintas”. 


Itulah satu dari sekian banyak cerita aneh (mistis) yang saya dengar dari penuturan masyarakat seputar karomah yang dimiliki orang si orang tua. Sebuah kemampuan adikodrati yang biasanya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu. 


Kemampuan yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Para wali atau orang yang memiliki kedekatan khusus dengan Allah biasanya adalah sosok yang memiliki kemampuan ajaib ini.


Namanya Kiai Muhammad Solehuddin. Masyarakat kampung desa Parijatah, tempat di mana beliau tinggal biasa memanggilnya Mbah Soleh. Penampilan fisik keseharian Mbah Soleh tak seperti para Kiai pada umumnya. Mirip seperti penampilan warga pada umumnya. Tak ada simbol atau atribut (busana) seperti lilitan surban di kepala atau juntaian jubah di tubuhnya. Orang yang tidak tahu pasti akan bersikap acuh saat berpapasan dengan Mbah Soleh.


Kiai Soleh atau Mbah Soleh merupakan putra dari K. Abdullah Faqih, seorang ulama besar Banyuwangi yang diakui otoritas keilmuannya di bidang agama. Tidak banyak cerita yang saya dapatkan perihal kehidupan Mbah Soleh kecil di bawah asuhan K. Abdullah Faqih ini. Nama besar ayanda Mbah Soleh sebagai salah satu ulama kharismatik Banyuwangi. Hanya itu cerita yang saya dapatkan.


“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Barangkali peribahasa ini bisa mewakili sosok sang “Kiai Macan Tidur”. Kealiman K. Abdullah Faqih secara “genetis” turun kepada kepada putranya, Mbah Soleh. Karomah yang dimiliki sang ayahanda rupanya juga dimiliki oleh Mbah Soleh. 


Namun apakah kealiman “Kiai Macan Tidur” ini hanya karena adanya faktor genetis semata? Ternyata tidak.


Faktor genetis itu ada. Namun mungkin hanya sekian persen. Kealiman dan karomah yang dimiliki Mbah Soleh hingga dijuluki “Kiai Macan Tidur” ternyata diperoleh dari kegigihan perjuangan beliau ketika belajar ilmu agama ke berbagai daerah. 


Kebiasaan menuntut ilmu ke berbagai daerah dengan berguru pada banyak ulama, sepanjang literatur sejarah tentang biografi ulama-ulama besar yang saya baca, rupanya kebiasaan ini memang menjadi semacam “tradisi” atau kebiasaan yang biasa dilakukan para ulama besar. Dan itu pula yang dilakukan oleh Mbah Soleh.


Catatan yang saya peroleh dari hasil penuturan putra-putri Mbah Soleh menyampaikan bahwa semasa muda Mbah Soleh memiliki semangat belajar ilmu yang luar biasa sebagaimana dilakukan para ulama lainnya. Tercatat Soleh muda pernah nyantri di tebu ireng Jombang. Pesantren Lirboyo Kediri juga pernah menjadi tempat Soleh muda menuntut ilmu. Soleh muda juga pernah belajar ilmu agama di Bangkalan. Besar kemungkinan menurut penuturan putranya, Soleh muda pernah belajar ilmu agama kepada Syaikhona Khalil Bangkalan atau putranya.


Pesantren di daerah Batu Ampar Madura juga pernah “disinggahi” Soleh muda untuk memperdalam pemahaman ilmu agama. Selain Tebu ireng, Lirboyo, Bangkalan dan Batu Ampar, Soleh muda tercatat juga pernah belajar ilmu agama di pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan pesantren di daerah Cemoro Banyuwangi. 


Jika kita melihat banyaknya pesantren dan para ulama yang menjadi guru mbah Soleh, tak heran jika di kemudian hari beliau salah satu ulama yang oleh bupati Banyuwangi pada saat itu dijuluki “Kiai Macan Tidur” karena kealiman, kedalaman dan keluasan ilmu agama serta sikap tawadhu’ yang dimiliki Mbah Soleh. 


Karena kealiman Mbah Soleh ini, masyarakat banyak menanyakan persoalan-persoalan agama yang tidak mereka ketahui kepada beliau. Setiap permasalahan yang ditanyakan masyarakat dapat dijawab oleh Mbah Soleh dengan jelas, tuntas dan memuaskan. Karena kemampuan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan masyarakat secara memuasakkan inilah, masyarakat juga menjuluki Mbah Soleh dengan julukan “Kamus Berjalan”. 


Bahkan dalam setiap forum Bahtsul Masail yang dihadiri oleh banyak kiai, dawuh Mbah Soleh selalu menjadi penentu solutif ketika permasalan yang dibahas sulit dipecahkan. Argumen dan kitab-kitab rujukan yang diajukan Mbah Soleh mampu menjadi jalan keluar di saat yang tepat. Biasanya mbah Soleh hanya angkat bicara saat situasinya memang sedang “pelik” karena tak ada jawaban yang memuaskan. Dan jawaban Mbah Soleh selalu bisa memuaskan para para kiai dan jamaah lain yang hadir di forum Bahtsul Masail. Ibarat Macan tidur, ia baru akan bangun jika kondisinya memang genting.



Maka tak heran jika para kiai di Banyuwangi kemudian sangat menghormati Mbah Soleh. Tentu saja menghormati karena kealiman ilmunya. Bukan fisiknya. Karena tampilan fisik Mbah Soleh memang tidak meyakinkan. Berperawakan kecil dan pendek serta pakaian yang dikenakan juga seperti masyarakat pada umumnya. Songkok nasional berwarna hitam adalah peci yang selalu melekat di kepala Mbah Soleh. Bukan balutan sorban putih sebagaimana biasa dipakai para kiai pada umumnya.


Berikut ini adalah bukti Karomah yang dimiliki Mbah Soleh yang langsung saya dengar dari banyak saksi yang hingga hari ini masih hidup dan bisa ditemui di dusun Dadapan, Desa Parijatah Kulon, Kec. Srono, Banyuwangi


Di penghujung usianya yang sepuh, satu saat, tubuh Mbah Soleh tak bergerak sama sekali. Denyut nadinya tak ada. Jantungnya juga tak berdetak. “Innalilahi wa inna ilaihi rajiun”. Mbah Soleh telah meninggal dunia. Putra-putri mbah Soleh semuanya berkumpul disamping jasad ayahnya. Warga juga berbondong-bondong datang ke kediaman Mbah Soleh untuk ta’ziyah. Rangkaian ayat-ayat dalam surat yasin yang dibaca warga bergemuruh di dekat jasad Mbah Soleh. Tubuh telentang mbah Soleh telah tertutup kain. 


Suasana haru benar-benar menyelimuti putra-putri dan warga masyarakat yang datang dari berbagai daerah. Kesedihan menyelimuti Banyuwangi. Maklum saja. Santri-santri yang pernah dididik Mbah Soleh banyak yang menjadi kiai-kiai besar di daerahnya masing-masing. Mereka datang dan turut berkabung atas wafatnya guru mereka, tokoh teladan masyarakat. Seorang ulama alim dan tawadhu’ yang begitu dicintai masyarakat.


Beberapa jam kemudian, di tengah-tengah suasana sedih yang mendalam.  Saat lantunan bacaan surat yasin terus dibaca untuk “almarhum” Mbah Soleh, tiba-tiba, jenazah Mbah Soleh bangun, lalu duduk di tengah-tengah penta’ziyah yang masih membaca yasin dan tahlil. Sontak banyak warga yang mundur, merinding dan ketakutan demi melihat jenazah Mbah Soleh yang sekian jam terbukur kaku, kini terlihat sudah duduk. 


Warga pun heboh. Putra-putri mbah Soleh juga pada awalnya bingung. Ada apa dengan jenazah ayah mereka. Mereka, semuanya, pada awalnya ragu, merinding dan takut. Namun tangan Mbah Soleh tiba-tiba memanggil putra-putrinya. Meski pada awalnya ragu dan takut, pada akhirnya mereka memberanikan diri, bergeser mendekati jenazah ayahandanya yang sudah dalam posisi duduk.


“Aku tidak jadi “dipanggil” sama gusti Allah (mati). Kematianku ditunda. Besok aku akan mati pada hari ini…” Itulah ucapan yang disampaikan oleh Mbah Soleh kepada putra-putrinya. 


Mbah Soleh tidak jadi meninggal. Beliau kembali melaksanakan aktifitasnya seperti sediakala. Mengajar murid-muridnya dan aktifitas-aktifitas lainnya. Dan melalui karomah yang dimiliki Mbah Soleh, kuasa Allah kembali berlaku. Sesuatu yang memang tak bisa dinalar dengan akal sehat. Sesuatu yang ghaib. Sesuatu yang adikodrati. Yang tidak semua orang bisa melakukan. Kecuali orang-orang terkasih-NYA. Hidup kembali setelah wafat.


Tepat seperti tanggal kematian yang disampaikan Mbah Soleh kepada putra-putrinya, Innalilahi wa inna ilaihi raji’un.. mbah Soleh telah meninggal dunia. Benar-benar wafat. Meninggalkan dunia fana menuju alam keabadian. Warga Banyuwangi berkabung atas kematian sosok ulama yang alim dan tawadhu’. Mbah Soleh. “Sang Macan Tidur” dan “Sang Kamus Berjalan” benar-benar telah wafat meninggalkan nama harumnya sebagai salah satu ulama Banyuwangi yang dihormati dan disegani.


Tepat beberapa tahun setelah wafat, musholla kecil tempat almaghfurlah Mbah Soleh mengajar santri-santrinya akan diperbesar. Kondisi ini  mengharuskan makam Mbah Soleh digeser atau dipindah ke lokasi lain karena tepat di atas makam Mbah Soleh akan menjadi tempat sujud (sholat) bagi jamaah dan santri.


Setelah melalui rapat internal dalam keluarga besar Mbah Soleh, semua sepakat memindahkan lokasi makam ayahanda mereka. Konsekuensinya mayyit almarhum mbah Soleh harus diambil dan dipindahkan ke lokasi yang baru. Akhirnya penggalian untuk memindahkan mayyit almarhum Mbah Soleh dimulai. 


Apa yang terjadi dengan kondisi mayit mbah Soleh setelah bertahun-tahun terkubur di dalam tanah?


Subhanallah.. mayit Mbah Soleh masih utuh dan bersih. Tak sedikit pun ada kerusakan pada kulit mayit Mbah Soleh. Tak ada bau busuk menyengat dari tubuh utuh mayit Mbah Soleh. Semua orang yang menyaksikan proses penggalian kuburan dan pemindahan mayit Mbah Soleh hanya bisa terheran-heran, bengong dan geleng-geleng kepala seraya bertahmid kepada sang Pencipta demi melihat mayit Mbah Soleh yang masih utuh bersih setelah sekian tahun terkubur di dalam tanah. (Kasus serupa juga pernah terjadi pada jasad almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid/Gusdur).


Allah benar-benar menunjukkan kebesarannya sekaligus kecintaannya kepada para kekasih-NYA yaitu para auliya’, para syuhada, para shiddiqin dan para solihin. Manusia-manusia yang “dekat” kepada-NYA. Mbah Soleh adalah salah satu manusia yang Allah berikan karomah dan kealiman ilmu. Bahkan ketika sudah wafat pun, Allah masih tetap memberikan “keistimewaan” pada manusia sholeh seperti almaghfurlah Mbah Kiai Solehuddin (Mbah Soleh).


Puluhan tahun yang lalu, jasad mbah Soleh sudah terkubur di dalam tanah.  Namun, namanya tetap “harum” dikenang masyarakat sebagai salah satu ulama Banyuwangi yang dihormati dan disegani karena kealiman ilmu dan karomah yang beliau miliki. Sebuah “tanda” yang Allah berikan kepada hamba-hamba terkasih-NYA.


Ilรข rรปhi almarhum, almaghfurlah K. Muhammad Sholehuddin (Mbah Soleh), Al-fatihah….


  • Muhammad Aminullah Pegiat Literasi, Kemanusiaan dan Lingkungan.

Related Posts