Belajar Menjadi Sufi dari Sahal ad-dusturi

Penulis: Naufal Kamaly
Senin 29 Juli 2019

Ilustrasi: NU-Online



Atorctor.Com – Sahal bin abdullah ad-dusturi seorang sufi dari dustur salah satu daerah bagian selatan negera Iran. Diusianya yang menginjak tiga tahun, sahal ad-dusturi pernah melihat muhammad bin suwar pamannya sedang melaksanakan shalat malam. Kemudian dia ditanya oleh sang paman apakah engkau tak ingin mengenal tuhan yang telah menciptakan-mu?.


Bagaimana caranya paman? Jawab sahal. Ketika engkau hendak tidur di atas kasur bacalah
allahu maiy, allah nadzirun ilayya, allahu syahidi (allah bersamaku, allah melihatku dan
allah menyaksikanku). Bacalah sebanyak tiga kali didalam hatimu.


Selang beberapa hari, sahal kembali untuk menemui sang paman memberi tahu bahwa
tarekat atau dzikir yang telah diajarkannya sukses dijalankan dengan tanpa hambatan. Sang
paman menyuruh untuk terus dilanjutkan sambil ditambah menjadi tujuh kali, kemudian
ditambah lagi hingga sebelas kali. Muhammad bin suwar berpesan agar dzikir ini dibaca
sampai masuk dalam liang lahat.


Satu tahun sudah berjalan, Sahal ad-dusturi berhasil menjalankan apa yang telah
diperintahkan oleh sang paman, hingga akhirnya merasakan kelezatan dan enjoy-nya dalam
berdzikir. Artinya dalam segala hal kita tidak bisa langsung melompat kepada sesuatu yang
berat, seharusnya kita memulai segala hal dari yang sederhana. Asalkan istiqamah/terus
menerus dalam melaksanakannya meskipun dari hal yang sepeleh.


Namun, saat sahal sudah menginjak masa sekolah rasa cemas mulai menghantui.
Karena merasa takut kesibukannya disekolah dapat merusak semangat dzikir setiap hari. Oleh karena itu, sahal meminta kepada sang paman untuk masuk sekolah sewaktu-waktu dengan jadwal berbeda dengan yang lain. Walhasil, diusia tujuh tahun sahal pun berhasil
merampungkan hafalan al-qurโ€™an.


Tirakat sahal kini mulai bertambah berat, diuasia menginjak dua puluh tahun dia
memilih untuk puasa dahar (puasa setiap hari berturut) dan membeli pecahan gandum dengan kualitas rendah seharga satu dirham yang nantinya dijadikan roti sebagai bekal berbuka puasa tanpa ada campuran sama sekali. Akan tetapi, bedanya sahal baru berbuka diwaktu sahur.


Selanjutnya, sahal meningkatkan lagi laku puasanya yang tadinya satu hari penuh,
sekarang bertambah menjadi tiga hari baru berbuka puasa. Bobot puasa sahal semakin
bertambah dari tiga hari menjadi lima, tujuh, hingga dua puluh lima hari baru berbuka puasa.


Puasa ini dijalankan sepanjang dua puluh tahun. Jelas dalam fikih puasa wishol semacam ini
tidak boleh. Sekedar selingan, puasa wishol adalah puasa selama dua hari berterut-turut atau lebih.


Pelajaran yang bisa kita petik dari kisah sahal yakni rahasia untuk menjadi seorang sufi atau wali besar tidak bisa dijalani secara instan, apalagi hanya dalam waktu setahun dua tahun. Untuk menjadi seorang ahli seharusnya latihan sudah dimulai sejak usia dini. Latihannya pun tidak harus dari hal yang berat, tapi bisa dimulai dari hal yang sederhana asalkan terus menerus dan bertahap.



Salah satu contoh lain menjadi pemain sepak bola profesional seperti Ronaldo dengan
banyak meraih tropi baik dikanca klub, negara dan dunia. Resep sang mega bintang
sebenarnya adalah latihan sepak bola tanpa henti dan tanpa patah hati, sejak masa kecil mulai


dari sekolah sepak bola, masuk klub, menjadi pemain profesional diusia lima belas tahun,
hingga berhasil meraih balon dโ€™or berkali-kali sebagai pemain terbaik dimuka bumi.
Pelajaran yang bisa kita petik untuk menjadi seorang pakar, ahli dan maestro dalam
segala bidang kita harus melatihnya mulai sejak dini, meskipun dari hal yang sederhana.


  • Naufal Kamaly Santri Ma’had Aly Situbondo

Related Posts