Mengenai Pembahasan Kitab Al-Farqu Baynal Firaq Tentang Khilafah

Penulis: Nadirsyah Hosen
Kamis 11 Juli 2019 02:00 WIB
Ilustrasi foto/FB-Nadirsyah Hosen
Atorcator.Com – Kitab al-Farqu Baynal Firaq karya Abu Manshur Abdul Qahir
al-Baghdadi (wafat tahun 1037) belakangan ini dijadikan argumen oleh kelompok
Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang sudah resmi dibubarkan itu, untuk
menunjukkan bahwa khilafah adalah inti dari ajaran Islam. Mereka mengedarkan
skrinsut halaman daftar isi dari kitab itu yang menyebut topik khilafah sebagai
salah satu pokok ajaran Islam. Benarkah demikian? Apa sebenarnya isi penjelasan
kitab tersebut?
Kitab ini sebenarnya penjelasan
mengenai berbagai sekte dalam Islam. Ditulis sebagai penjelasan akan hadits
yang berbicara tentang terpecahnya umat Islam ke dalam 73 firqah (golongan),
dan dikabarkan bahwa hanya satu yang selamat. Kitab ini menjabarkan semua
aliran yang berkembang pada saat itu disertai dengan penjelasan tentang
keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja). Jadi, ini kitab polemik yang
tujuannya membandingkan antara Aswaja dengan kelompok di luar Aswaja.
Kitab dibuka dengan penjelasan
mengenai doktrin 8 kelompok non-Aswaja, seperti Rafidhah, Mu’tazilah,
Dirariyah, Murji’ah dan lainnya. Baru kemudian ada 15 point pembahasan, dimana
pengarang kitab yang bermazhab Syafi’i dan Asy’ari ini mendaras perbedaan
Aswaja dengan kelompok lainnya, dalam masalah teologi, sifat Allah, kenabian,
dan seterusnya. Beliau mengklaim ini berdasarkan kesepakatan jumhur ulama
Aswaja.
Dalam point kedua belas beliau
membahas
فِي معرفَة
الْخلَافَة والامامة وشروط الزعامة
Pengetahuan tentang khilafah dan
Imamah, serta Syarat Kepemimpinan
Pada halaman 340-342 beliau mengupas
bahwa mengangkat pemimpin itu sebuah kewajiban. Pada titik ini semua kitab
Aswaja bersepakat mengenai perlunya pemimpin. Sampai di sini tidak ada masalah.
Yang jadi masalah adalah HTI selalu menganggap yang wajib itu menegakkan sistem
khilafah. Ini dua hal yang berbeda. Yang satu bicara soal kepemimpinan, dan
yang satu lagi bicara soal sistem pemerintahan. Seperti telah sering saya
jelaskan, bahwa sistem khilafah yang dikoar-koarkan oleh HTI itu bukan saja
isinya tidak baku, tapi juga khilafah ala Undang-Undang Dasar HTI itu berbeda
dengan pembahasan para ulama klasik.
Nah, yang merupakan bagian dari
ajaran Islam itu adalah doktrin mengenai kepemimpinan, bukan mengenai sistem
pemerintahan. Itu sebabnya kitab al-Farqu baynal Firaq dalam bahasan point
kedua belasnya tidak bicara mengenai sistem khilafah Aswaja, tapi kepemimpinan
menurut Aswaja. Apalagi isi bahasannya hendak menegaskan point penting
perbedaan antara proses pemilihan dan persyaratan kepemimpinan Aswaja dengan
kelompok lainnya. Juga ditegaskan posisi Aswaja mengenai konflik para sahabat
tentang kepemimpinan. Sama sekali tidak bicara mengenai sistem pemerintahan.
Sekali lagi, jangan hanya melihat
halaman daftar isi kitab, tetapi pahami isi kitab ini maka kita akan tahu bahwa
tidak benar kitab ini menganggap sistem pemerintahan khilafah yang
digembar-gemborkan HTI itu sebagai pokok ajaran Islam. Yang dibahas adalah kepemimpinan,
bukan sistem pemerintahan.
Berikut saya terjemahkan pembahasan
keduabelas dari kitab ini, biar masyarakat umum tidak mudah tertipu oleh
propagamda HTI yang hanya mengandalkan skrinsut halaman daftar isi kitab.
Mari kita simak bersama:
“Mengenai pokok ajaran kedua belas
tentang khilafah dan imamah, mereka (Ahlus sunnah wal jama’ah) mengajarkan
bahwa kepemimpinan itu wajib atas komunitas karena pengangkatan seorang
pemimpin meniscayakan keberadaan hakim dan pemerintah. Seorang pemimpin menjaga
anak buahnya, memimpin pasukan dan mengalokasikan pampasan perang, dan
menghukum yang bersalah. Mereka mengatakan metode mengangkat kepemimpinan
seorang imam itu dengan pemilihan berdasarkan ijtihad (al-ikhtiyar bil
ijtihad), dengan mencari yang paling layak.
Mereka mengatakan tidak ada nash
dari Nabi mengenai mengangkat secara khusus orang tertentu, dan ini berbeda
dengan pendapatnya kaum Rafidhah bahwa Nabi menunjuk kepemimpinan Ali, dengan
riwayat yang sanadnya maqthu’ (terputus). Tapi jika memang ada riwayat
penunjukkan Ali itu, maka riwayat senada tentang yang lain juga ada. Sesiapa
yang membuat klaim tentang Ali berdasarkan riwayat yang tidak mutawatir, tidak
bisa menolak riwayat serupa tentang Abu Bakar, atau orang lain, meski keabsahan
mengenai riwayatnya dipertanyakan.”
‘Mereka (Aswaja) mengajarkan bahwa
syarat menjadi pemimpin itu harus dari nasab suku Quraisy, yaitu keturunan dari
Banu Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah, bin Alyas bin Mudar bin
Nizar bin Ma’add bin Adnan. Ini berbeda dengan pandangan kelompok Dirariyah
bahwa kepemimpinan boleh dijabat oleh semua orang Arab, atau budak yang sudah
dimerdekakan, atau oleh orang non-Arab. Dan ini juga berbeda dengan pandangan
kelompok Khawarij dimana pemimpin mereka dari Rabi’ah dan suku lain, yang ini
semua bertentangan dengan Hadits Nabi: al-aimmah min Quraysh.’
…dst…dst
“Tidak diwajibkan seorang pemimpin
itu ma’shum (terbebas dari dosa), dimana ini bertentangan dengan pandangan
kelompok Syi’ah Imamiyah bahwa Imam itu harus ma’shum….”
…dst
“Mereka (Aswaja) berpandangan
kepemimpinan itu hanya satu orang untuk semua wilayah Islam, kecuali ada
pembatas di antara daerah seperti lautan, terhalang oleh musuh dimana dua
daerah tidak mungkin saling bantu. Dalam kasus ini maka sah untuk mengangkat
pemimpin lainnya yang layak di daerah tersebut.”
“Mereka (Aswaja) mengakui
kepemimpinan Abu Bakar setelah Nabi Muhammad, dan ini berbeda dengan Rafidhah
yang mengonfirmasi itu sebagai hak Ali, dan berbeda dengan kelompok Rawandiyah
yang mengonfirmasi kepemimpinan Abbas setelahnya.”
…dst…
“Mereka (Aswaja) berpandangan Ali di
pihak yang benar dalam perang di Basrah, Siffin dan Nahrawan, dan memandang
Talhah dan Zubair telah bertaubat dan menarik diri dari perang melawan Ali, dan
Zubair dibunuh oleh Amr bin Jurmuz di Wadi Siba’ setelah menarik diri dari
pertempuran, sementara Talhah dipanah dan dibunuh oleh Marwan bin Hakam.”
“Mereka (Aswaja) mengatakan Siti
Aisyah bermaksud menegakkan urusan dengan Ishlah antara dua kelompok tetapi
Banu Dhabbah dan al-Azd tidak menghiraukan pandangan Siti Aisyah dan perang
melawan Ali tanpa ijin Siti Aisyah, sehingga terjadilan perang Jamal. Mengenai
perang Siffin, mereka (Aswaja) berkata kebenaran di pihak Ali, sementara
Mu’awiyah dan pengikutnya keliru dalam hal penafsiran, sehingga mereka berdosa
tapi tidak lantas menjadi kafir. Mereka (Aswaja) jugaberpandangan bahwa
kebenaran di pihak Ali dalam proses tahkim, namun kedua arbitrer (Amru bin
Ash dan Abu Musa Asy’ari
) tidak berdosa dalam memakzulkan Ali dari
posisinya, karena kesalahan salah satu arbitrer”
…dst…
Demikian penjelasan dari kitab
al-Farq baynal Firaq. Bahkan isi pembahasan di atas juga ada perbedaan dengan
isi Undang-Undang Dasar Khilafah yang dibuat oleh HTI. Nantikan pembahasan saya
berikutnya 
😊

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Teks Asli:

وَقَالُوا فِي الرُّكْن الثانى عشر الْمُضَاف الى الْخلَافَة والامامة ان
الامامة فرض وَاجِب على الامة لاجل إِقَامَة الامام ينصب لَهُم الْقُضَاة والامناء
ويضبط ثغورهم ويغزى جيوشهم وَيقسم الفىء بَينهم وينتصف لمظلومهم من ظالمهم
وَقَالُوا بِأَن طَرِيق عقد الامامة للامام فى هَذِه الامة الِاخْتِيَار
بِالِاجْتِهَادِ وَقَالُوا لَيْسَ من النبى صلى الله عَلَيْهِ وَسلم نَص على امامة
وَاحِد بِعَيْنِه خلاف قَول من زعم من الرافضة انه نَص على امامة على رضى الله
عَنهُ نصا مَقْطُوعًا بِصِحَّتِهِ وَلَو كَانَ كَمَا قَالُوهُ لنقل ذَلِك نقل مثله
وَلَا ينْفَصل من ادّعى ذَلِك فى على مَعَ عدم التَّوَاتُر فى نَقله مِمَّن ادّعى
مثله فى أَبى بكر اَوْ غَيره مَعَ دعم النَّقْل فِيهِ وَقَالُوا من شَرط الامامة
النّسَب من قُرَيْش وهم بَنو النَّضر بن كنَانَة ابْن خُزَيْمَة بن مدركة بن الياس
بن مُضر بن نزار بن معد بن عدنان خلاف قَول من زعم من الضرارية أَن الامامة تصلح
فى جَمِيع أَصْنَاف الْعَرَب وفى الموالى والعجم وَخلاف قَول الْخَوَارِج بامامة
زعمائهم الَّذين كَانُوا من ربيعَة وَغَيرهم كنافع بن الازرق الحنفى ونجدة بن
عَامر الحنفى وَعبد الله بن وهب الراسى وحرفوص بن زُهَيْر النجلى وشبيب بن يزِيد
الشيبانى وأمثالهم عنادا مِنْهُم لقَوْل

النبى صلى الله عَلَيْهِ وَسلم الائمة من قُرَيْش
وَقَالُوا من شَرط الامام الْعلم وَالْعَدَالَة والسياسة وأوجبوا من الْعلم لَهُ
مِقْدَار مَا يصير بِهِ من اهل الِاجْتِهَاد فى الاحكام الشَّرْعِيَّة وأوجبوا من
عَدَالَته أَن يكون مِمَّن يجوز حكم الْحَاكِم بِشَهَادَتِهِ وَذَلِكَ بِأَن يكون
عدلا فِي دينه مصلحا لمَاله وحاله غير مرتكب لكبيرة وَلَا مصر على صَغِيرَة وَلَا
تَارِك للمروءة فِي جلّ اسبابه وَلَيْسَ من شَرطه الْعِصْمَة من الذُّنُوب كلهَا
خلاف قَول من زعم من الامامية أَن الامام يكون مَعْصُوما من الذُّنُوب كلهَا وَقد
اجازوا لَهُ فِي حَال التقية أَن يَقُول لست بامام وَهُوَ إِمَام وَقد اباحوا لَهُ
الْكَذِب فِي هَذَا مَعَ قَوْلهم بعصمته من الْكَذِب وَقَالُوا ان الامامة
تَنْعَقِد بِمن يعقدها لمن يصلح للامامة اذا كَانَ الْعَاقِد من أهل الِاجْتِهَاد
وَالْعَدَالَة وَقَالُوا لَا تصلح الامامة الا لوَاحِد فى جَمِيع ارْض الاسلام الا
أَن يكون بَين الصقعين حاجز من بَحر أَو عَدو لَا يُطَاق وَلم يقدر أهل كل وَاحِد
من الصقعين على نصْرَة اهل الصقع الآخر فَحِينَئِذٍ يجوز لأهل صقع عقد الامامة
لوَاحِد يصلح لَهَا مِنْهُم وَقَالُوا بامامة أَبى بكر الصّديق بعد النبى صلى الله
عَلَيْهِ وَسلم خلاف قَول من اثبتها لعلى وَحده من الرافضة وَخلاف قَول الروندية
الَّذين أثبتوا إِمَامَة الْعَبَّاس بعده

وَقَالُوا بتفضيل أَبى بكر وَعمر وعَلى من
بعدهمَا وَإِنَّمَا اخْتلفُوا فِي التَّفَاضُل بَين على وَعُثْمَان رضى الله
عَنْهُمَا وَقَالُوا بموالاة عُثْمَان وتبرءوا مِمَّن اكفره وَقَالُوا بامامة على
فِي وقته وَقَالُوا بتصويب على فِي حروبه بِالْبَصْرَةِ وبصفين وبنهروان وَقَالُوا
بَان طَلْحَة وَالزُّبَيْر تابا ورجعا عَن قتال على لَكِن الزبير قَتله عَمْرو بن
حرمون بوادى السبَاع بعد مُنْصَرفه من الْحَرْب وَطَلْحَة لما هم بالانصراف رَمَاه
مَرْوَان بن الحكم وَكَانَ مَعَ أَصْحَاب الْجمل بِسَهْم فَقتله وَقَالُوا إِن
عَائِشَة رَضِي الله عَنْهَا قصدت الاصلاح بعد الْفَرِيقَيْنِ فغلبها بَنو ضبة
والأزد على رايها وقاتلوا عليا دون اذنها حَتَّى كَانَ من الْأَمر مَا كَانَ
وَقَالُوا فِي صفّين إِن الصَّوَاب كَانَ مَعَ على رضى الله عَنهُ وَأَن مُعَاوِيَة
وَأَصْحَابه بغوا عَلَيْهِ بِتَأْوِيل أخطئوا فِيهِ وَلم يكفروا بخطئهم وَقَالُوا
إِن عليا أصَاب فِي التَّحْكِيم غير أَن الْحكمَيْنِ أَخطَأ فِي خلع على من غير
سَبَب أوجب خلعه وخدع أحد الْحكمَيْنِ الآخر وَقَالُوا بمروق أهل النهروان عَن
الدّين لَان النبى صلى الله عَلَيْهِ وَسلم سماهم مارقين لانهم اكفروا عليا
وَعُثْمَان وَعَائِشَة وَابْن عَبَّاس وَطَلْحَة وَالزُّبَيْر وَسَائِر من تبع
عليا بعد التَّحْكِيم واكفروا كل ذَنْب من 
الْمُسلمين وَمن اكفر الْمُسلمين واكفر
أخيار الصَّحَابَة فَهُوَ الْكَافِر مِنْهُم

Source: Status Facebook Nadirsyah Hosen

Related Posts