Mengenal Haji Mabrur dan Dan Apa Saja Kriteria Haji Mabrur

Penulis: Nur Kholilah Mannan
Sabtu 27 Juli 2019



Atorcator.Com – Bulan Dzul Hijjah adalah salah satu bulan yang penuh dengan keutamaan, ia termasuk bulan haram (al-asyhur al-Haram), larangan berperang, di Di bulan itulah kaum muslim berkumpul di padang Arafah, berbalut kain putih, berebut keutamaan hari istimewa yang hanya terjadi setahun sekali, mengelilingi kakbah meningkatkan spiritual diri, berlari kecil antara dua bukit legendaris Safa-Marwah, melempari simbol pengganggu iman  Abu al-anbiyā’, Ismail dan putranya Ibrahim ‘alaihima as-salām, demi mendapatkan kualitas mabrur dalam haji.


Sekitar 4 juta muslim memenuhi padang Arafah memohon segala hajat dan diantara yang paling diinginkan adalah predikat mabrur. Ada apa dengan mabrur? Karena mereka mendengar banyak hadis yang mengatakan bahwa tak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga maka mereka berusaha sebisa mungkin untuk meraihnya. 


Selanjutnya, apakah mabrur bisa didapatkan dengan serangkaian rukun dan wajib haji saja? Jika benar demikian betapa mudah dan murahnya surga yang diimpikan setiap manusia? Mari kita sedikit mengulas penjelasan hadis tersebut.


Dalam musnad Imam Ahmad bin Hanbal tercantum begini

 الحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة، والعمرتان تكفران ما بينهما من الذنوب



“Haji Mabrur tidak ada balasan kecuali surga dan dua kali umrah bisa menghapus dosa-dosa (yang dilakukan) diantara keduanya”


Al-Albanī dalam mukhtaṣar ṣahīh al-Bukhārī mencantumkan redaksi yang berbeda dengan substansi yang sama


العُمرةُ إلى العُمرةِ كفَّارةٌ لمِا بينَهما، والحجُّ المبرورُ ليْسَ لهُ جزاءٌ إلا الجنَّة



Dan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, ketika Nabi ditanya “Pekerjaan apa yang paling utama?” Nabi menjawab “ Iman kepada Allah dan Rasul-Nya” lalu ditanya lagi “Lalu apa lagi?” Nabi menjawab “Berjihad di Jalan Allah” kemudian ditanya lagi “Kemudian apa?” Nabi menjawab “Haji Mabrur”


أيُّ الأَعمالِ أَفضلُ؟ قال: “إِيمَانٌ باللهِ ورسولِه”. قيلَ: ثم ماذا؟ قال: “جهادٌ في سبيلِ الله”. قيلَ: ثم ماذا؟ قال: “حجٌّ مبرور”.

Haji yang mabrur berada di urutan ketiga setelah iman dan jihad. Tak ayal jika orang yang mendapatkannya berhak pula mendapatkan surga. 


Ibn Baṭṭāl dalam syarah Ṣahih Bukhārī melanjutkan hadis tentang haji mabrur tersebut dengan hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah (مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ). Kualitas mabrur akan didapat dengan tidak berkata kotor, tidak berbuat fasik, ada pula yang menambahkan berangkat dengan harta halal dan beribadah bersih dari riya serta tidak untuk mencari sum’ah (reputasi baik). Ketika itulah ia seakan baru lahir dari rahim ibundanya, pulang ke tanah air tanpa dosa.


Pendapat yang senada juga dikatakan oleh Imam Nawawi dan as-Suyūṭī bahwa haji mabrur adalah ketika seorang yang berhaji tidak berbuat dosa sehingga  haji yang dilakukan diterima sebagai ibadah di sisi Allah swt. Di antara tanda bahwa hajinya mabrur atau diterima ialah setelah berhaji ia menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya dan tidak mengulangi kesalahan (dosa) yang pernah ia lakukan.


Al-Qurṭubī dalam al-Istidzkarnya memberikan sedikit kiat agar haji menjadi mabrur yaitu dengan memberi makan orang yang membutuhkan, soleh sosial dan menebar kedamaian. Menurut Quraish Shihab makna yang terakhir ini lebih mendekati kebenaran sebagai makna mabrur karena sesuai dengan ruh agama Islam yang menginginkan kesejahteraan umum bukan hanya kesejahteraan individu meski menurutnya hadis ini (إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلَامِ ) masuk kategori hadis yang daif (lemah).


Hemat penulis, dari sekian arti haji mabrur sejatinya semuanya bermuara pada kesalehan individu sekaligus kesalehan sosial. Faktanya semua jamaah haji berusaha sekuat tenaga menjaga gerak-geriknya dari kesalahan, bukan hanya gerak dzahir melainkan juga gerak batin. Sebisa mungkin tidak ada uneg-uneg dalam hati berupa amarah, dengki, iri dan menghina. Alasannya bukan hanya untuk mendapatkan haji mabrur tapi karena takut dibalas perbuatan buruknya di Tanah Haram.


Konon, Tanah Haram adalah miniatur ‘tempat pembalasan’. Perbuatan hati atau perbuatan tubuh yang buruk akan dibalas di Tanah Haram.Terkait hal ini ada cerita tentang sepasang pasutri yang sedang berada di masjidil Haram, berjalan menuju galon air Zam-zam, suami berpesan pada istri untuk menunggunya sementara suami mendekati galon karena keadaan sedang sesak dengan jamaah lain, namun sang istri malah berkata “Gak akan hilang kok, wong gak nyampe semeter galonnya” karena kalimat yang sedikit ‘meremehkan’ alhasil sebentar setelah suami mengambil air Zam-zam sang istri hilang selama sehari semalam. Wallahu a’lam apa gerangan yang membuat hal itu terjadi tapi yang pasti peristiwa ini membuat keduanya mengambil pelajaran berharga.


Hal ini membuat para jamaah haji selalu ingin berbuat kebajikan –bahkan mungkin ada yang dipaksa dan berpura-pura- ketika di Tanah Haram. Akibatnya setelah pulang dari dua kota suci tersebut sifat asli mereka kembali buruk karena telah terpatri dalam benak mereka “tak akan ada lagi balasan di selain dua kota itu”.


Agaknya doktrin inilah yang membuat haji tidak mabrur. Meski beribadah sepanjang 40 hari saat berada di Haramain tak akan ada gunanya karena ritual-ritual formalitas itu tak akan memberikan efek kebaikan saat berada di tanah air. Berbuat baiklah selama berada di dua kota suci nan Mulia itu, beribadahlah sepuasnya, lakukanlah kebajikan selama diberi kesempatan mengunjungi makbarah? kanjeng nabi, sampaikan salam padanya dan para sahabat, namun taqarrub ini tidak berhenti di bandara Jiddah atau di bandara Juanda melainkan harus dilanjutkan sampai di tanah air karena haji mabrur adalah saat seseorang menjadikan tempat ia berdiri adalah ‘Tanah Haram’ yang dimanapun ia berada ia berusaha untuk tidak melakukan keburukan dzahir dan batin. Berusaha menjadi pribadi yang soleh individu dan soleh sosial. Allahummarzuqnā ziyārata Makkah wal Madīnah. Amin.


  • Nur Kholilah Mannan Santri Salafiyah Syafi’iiyah Sukorejo Situbondo

Related Posts