Pesantren Lirboyo dan Pesan Untuk Santri

Penulis: Husein Muhammad

Senin 15 Juli 2019 06:00
Foto: SindoNews

Atorcator.Com – Setelah melalui malam panjang yang tenang di atas bus, diselingi tidur nyenyak beberapa jam, pagi Dhuha, aku tiba di pesantren Lirboyo, Kediri, tempat aku dulu, 47 tahun lalu, belajar mengaji. Ia adalah salah satu pesantren besar di Jawa Timur. Ia masih begitu bersahaja seperti dulu. Kini ia makin besar, dengan area yang makin luas dan makin masyhur.


Alumninya yang kini amat terkenal antara lain adalah Kiyai Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, dan Kiyai Sa’id Aqil Siradj, ketua umum PBNU itu. Aku melewati masjid Muktamar. Aku bilang kepada isteri dan anak-anakku yang menjemput: “di masjid inilah aku pernah “diadili” para kiyai, ustaz dan santri, sekitar 300 orang, tentang pikiran-pikiranku. Sebuah kenangan indah yang tak akan aku lupakan”.

Aku melihat para santri baru, laki-laki dan perempuan, masih berdatangan. Jalanan menuju pesantren ini dipenuhi mobil, besar dan kecil. Para santri dan para tamu lalu lalang di sana. Aku masuk rumah salah satu pengasuh. Ruang tamu berjubel.


Di luar rumah masih banyak yang menunggu giliran masuk, untuk sowan Kiyai/Ibu Nyai atau memohon doa. Aku bertanya kepada salah seorang pengasuh tentang jumlah santrinya. Ia bilang kini sekitar 25.000.


Perkembangan yang sangat pesat.


Pesantren ini masih terus mengaji “al-Kutub al-Sittah” , enam kitab hadits : Sahih Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa-i, Ibnu Majah. Kitab Fiqh klasik Al-Muhadzdzab, juga masih dibaca.
Sampai sekarang Pesantren ini masih menjaga spesialisasinya sebagai pesantren Nahwu-Sharaf-Balaghah (Gramatika dan Sastra Arab).


Di tengah perbincangan “ngalor-ngidul” dengan Kiyai, Nyai dan putra-putrinya yang semuanya hafal Al-Qur’an dan mahir baca kitab kuning, ditambah dua anakku dan tiga ponakanku, aku diminta memberi nasehat. Lalu aku menyampaikan dua puisi:

إِذَا فَاتَنِيْ يَوْمٌ وَلَمْ أَصْطَنِعْ يَدًا # وَلَمْ أَكْتَسِبْ عِلْماً فَمَاذَاكَ مِنْ عُمْرِيْ

Bila hariku lewat
Dan aku tak berbuat apapun
Tak pula menimba ilmu
Lalu apakah makna hidupku
Hari itu?.

Dan puisi yang sering dinyanyikan Gus Dur saat ceramah ini :

ولدتك امك يابن آدم باكيا
والناس حولك يضحكون سرورا
فاجهد لنفسك ان تكون إذا بكوا
في يوم موتك ضاحكا مسرورا

Saat ibu melahirkan mu, duhai anakku
Kau menangis
Sedang orang-orang di sekelilingmu
Menyambutmu dengan bahagia

Maka berjuanglah, oh anakku
Untuk bahagiamu sendiri
Kau tersenyum manis
saat kau pulang
Sedang mereka berduka-cita


Lirboyo, 13.07.18


  • Husein Muhammad Pencinta kajian-kajian keislaman, utamanya di bidang ilmu fikih, tema-tema keperempuanan, dan ilmu tasawuf. Menulis beberapa buku, aktif di pelbagai forum kajian, baik nasional ataupun internasional. Tinggal di Pesantren Darut Tauhid, Cirebon, Jawa Barat

Related Posts