Santri Bertemu Nabi Khidir

Penulis: Masykur Arif
Selasa 23 Juli 2019 08:20 WIB

Ilustrasi: NU online

Atorcator.Com – Konon, menyebar cerita di kalangan santri, jika ingin pandai (bahkan tak perlu belajar), maka caranya adalah harus berjumpa dengan Nabi Khidir.


Nabi Khidir adalah seorang nabi yang hidup sejak ribuan tahun yang lalu. Sampai saat ini, beliau dikabarkan belum wafat dan bisa ditemui dengan laku tertentu.


Sayangnya, laku untuk berjumpa dengan beliau bukanlah hal yang mudah. Tidak bisa dilalui dengan jalan pintas. Anehnya, ada saja santri yang ingin berjumpa, meskipun sulitnya bukan main. 


“Untuk berjumpa dengan beliau perlu kesungguhan dan tekat yang kuat dalam tirakat,” kata temannya.


“Tidak apa-apa, asal sesudahnya menjadi pintar,” ujar si santri yang ingin bertemu nabi Khidir.


Maka dipelajarilah cara dan laku yang harus dijalani. Salah satunya, di malam hari bertirakat menyelam setengah badan ke dalam air sambil membaca wiridan tertentu.


“Ya, siap,” jawabnya mantap. Kemudian diaturlah waktu dan tempat untuk melakukan tirakat.


Tapi sebelum laku tirakat itu terlaksana, ia dipanggil oleh sang Kiai. Ia diminta untuk menjadi abdi dalem (khadam).


Mendapat tawaran yang tak terbayangkan itu, ia menerima dengan sangat bahagia. Dengan mengabdi pada Kiai, ia berkeyakinan akan banyak belajar langsung dari kehidupan sang Kiai. Plus, ini yang utama, tidak perlu belajar seperti santri umumnya yang harus memenuhi aturan ketat yang ditetapkan pengurus pesantren.


*****


Karena sudah sibuk melayani sang Kiai, rencana tirakat si santri untuk berjumpa nabi Khidir menjadi tidak terlaksana. Bahkan lupa jika dirinya pernah merencanakan untuk melakukan tirakat demi perjumpaan agung.


Meski demikian, di dalam hatinya tetap tersimpan keinginan kuat untuk berjumpa dengan nabi yang terkenal cerdik dan pintar itu. Jika suatu saat ada kesempatan untuk bertirakat, ia akan melakukannya.


Pada suatu kesempatan, sang Kiai memerintahkannya untuk mengantarkan suatu barang yang harus menyeberangi sungai. Barang itu harus sampai ke tempat yang dituju sesuai waktu yang ditentukan.


Di dalam perjalanan, ketika hendak menyeberangi sungai, si santri ini berjumpa dengan seorang lelaki paruh baya. Berjanggut panjang, berpakaian gamis putih, dan memegang tongkat. Wajahnya terlihat sejuk dan bersinar.


Lelaki itu memanggil si santri yang sedang bertugas mengantarkan barang milik sang kiai itu. “Hai anak muda, kemarilah,” panggilnya.


Si santri mendekat. “Ada apa, pak?”


“Tahukah kamu, siapakah aku?”


“Tidak tahu, pak.”


“Aku adalah Khidir.”


“Nabi Khidir…!?” Si santri kaget, seolah tak percaya. Ia langsung menunduk bersalaman dan mencium tangan beliau bolak-balik.


“Aku ingin mengajakmu tinggal di sini untuk beberapa hari. Taruhlah barangmu itu di sini. Ia tidak akan hilang atau rusak.”


Si santri diam. Terlihat berpikir.


“Aku akan mengajarimu ilmu yang selama ini engkau harapkan dariku. Ilmu apa saja. Terserah yang ingin engkau pinta.”


“Mmm… Mohon maaf…,” jawab santri tergagap-gagap. “Hamba tidak bisa tinggal lama di sini. Karena hamba mendapat tugas dari Kiai untuk mengantarkan barang ini tepat waktu.”


“Tidak apa-apa. Engkau bisa mengantarkan nanti usai belajar kepadaku.”


“Sekali lagi, mohon maaf, wahai yang mulia, hamba tidak bisa berlama-lama bersama yang mulia.”


“Aku jamin barang itu akan sampai ke yang punya sesuai waktu yang akan kutentukan.”


“Maaf, wahai kekasih Allah. Hamba mohon pamit. Hamba tidak bisa berlama-lama. Karena barang ini harus sampai ke yang punya sesuai waktu yang ditentukan guru hamba.”


“Baiklah, karena engkau memilih patuh pada perintah gurumu, maka aku akan menemanimu dalam perjalanan mengantarkan barang itu. Sungguh kamu benar. Patuh pada guru itu adalah lebih baik dari apa saja, termasuk ilmu yang engkau cita-citakan dariku. Aku bangga kepada ketulusan hatimu dalam mematuhi perintah guru. Aku akan mengajarimu hikmah di sepanjang perjalanan ini.”


*Kisah ini diolah dari hasil nguping (mendengarkan pengajian melalui speaker) Pengajian Kitab yang diampu K. Hasbullah Ataullah di Masjid Istifadah, sebelah timur rumah penulis, Ahad pagi (21/7/2019).


  • Masykur Arif Mengabdi di INSTIKA Guluk-guluk Sumenep Madura

Related Posts