Dua Garis Biru: Antara Kebenaran dan Kesalahan

Penulis: Muhammad Nur Khalis
Senin 5 Agustus 2019

Ilustrasi: dari penulis

Atorcator.Com – Ada hal yang perlu dibedakan antara mana yang benar dan mana yang salah, keduanya perlu untuk diberi sekat yang jelas, tidak boleh terjadi percampuran diantara benar dan salah. Sebab ketika keduanya tercampur, maka sebagian orang yang tidak memiliki pandangan yang luas, akan sulit untuk membedakan antara dua kutub yang jelas-jelas berbeda itu.


Akhirnya, silang sengkarut akan terjadi pada setiap orang yang memandang dua kutub tersebut. Terlebih jika para pemandang dua kutub tersebut memiliki tingkat fanatisme yang begitu tinggi atas apa yang mereka pandang. Ketika hal ini terjadi, akibatnya akan fatal. Terlebih jika kedua kutub itu merupakan urusan agama. Berbahaya.


Sebuah film yang berjudul Dua Garis Biru, mendapat peminatnya sendiri, bahkan beberapa tokoh yang memiliki potensi pengikut fanatik juga turut mengkampanyekan setiap anak muda ataupun orang tua untuk mengajak anaknya menonton. Mereka mengkampanyekan film ini dengan alasan pendidikan sex, pendidikan nikah, dan nilai-nilai edukasi terkait bahayanya nikah muda.


Tentu hal ini akan menjad sebuah polemik tersendiri bagi dunia pendidikan, khusunya pendidikan islam yang secara tegas, Nabi melarang untuk menceritakan tentang hubungan intim sepasang suami istri kepada siapapun. Apalagi terhadap orang yang belum menikah. Jika menceritakannya itu dalam rangka mendidik, maka terdapat keringanan hukum yang berlaku atas tindakan ini. Namun, bagi penulis, hal ini tidak dilakukan dengan cara menonton film se-vulgar Dua Garis Biru itu.


Terlebih jika menontonnya dilakukan dengan cara ber-jamaah antara laki-laki dengan perempuan. Penulis secara jujur akan mengatakan bahwa sejak masih berada di jenjang sekolah dasar, pendidikan sex atau pernikahan di usia dini, telah penulis rasakan. Namun pada saat itu hanya dengan teman-teman penulis dalam satu kelas yang kesemua teman penulis itu laki-laki. Dan berkali-kali guru penulis menegaskan bahwa seandainya dalam satu kelas tersebut terdapat siswi perempuan, beliau guru saya tidak akan berani menerangkan hal tersebut.


Dari sinilah poin utama yang ingin penulis sampaikan bahwa jika ingin dilakukannnya pendidikan sex, atau bahaya pernikahan usia dini, tidak perlu dan akan bernilai sebuah kesalahan besar jika media visual seperti film adalah jalan keluarnya. Apalagi melakukan kampanye terahadap film tersebut. Kalaupun terpaksa melakukanya maka regulasi dari pemerintah, orang tua maupun guru harus lebih di tekankan kembali agar jangan sampai dilakukan dengan cara berjamaah.


Lantas apakah Dua Gasir Biru itu sebuah kebenaran dan kampanye menonton film tersebut sebuah kesalahan? Mari kita perhatikan kembali bahwa agama kita secara tegas menjelaskan bahwa sesuatu yang Bathil tidak boleh dianggap Haq dan begitupun sebaliknya. Adapun jawabnnya, saya serahkan sepenuhnya kepada para pembaca sebab penulis tidak memiliki kapasistas untuk menilai mana kutub yang salah dan mana kutub yang benar.


Wallahu Aโ€™lam


  • Muhammad Nur Khalis Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’had Aly Al-Hikam Malang

Related Posts