Hijrah Bukan Seperti Belah Bambu

Penulis: Robikin Emhas
Sabtu 30 Agustus 2019

KH. Robikin Emhas

Atorcator.Com – Satu 1 Muharram sebagai patokan awal penanggalan Islam, merujuk pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah pada 622 M. Peristiwa hijrah menjadi patokan sebab peristiwa ini menjadi tonggak sejarah penting perkembangan peradaban Islam hingga menyebar ke seluruh muka bumi.


Namun setelah terjadi peristiwa fathu Makkah pada 630 M, semangat yang melatari hijrah praktis berakhir. Kota Mekkah yang sebelumnya ditinggalkan karena dianggap tidak ramah bagi dakwah Islam, berubah karena kemuliaan akhlak Nabi Muhammad. Penduduk quraisy yang lekat dengan kesombongan masa jahiliyah tidak dipersekusi, tapi justru dilindungi. Inilah spirit baru ‘pasca’ hijrah.


Hijrah lalu diartikan sebagai perjuangan meninggalkan hal-hal buruk ke arah yang lebih baik. Hijrah dalam konteks ini adalah sebuah proses menjalani kehidupan. Sebuah perjalanan kehambaan yang senantiasa membutuhkan panduan, keteguhan, dan Istiqomah. Hijrah tidak diredusir maknanya menjadi idiom simbolik dengan berhijab misalnya.


Menyambut dan merayakan Tahun Baru Islam 1441 Hijriyah yang bertepatan 1 September 2019:


Pertama, mari kita jadikan momentun untuk memperbaiki kualitas kehambaan kita di hadapan Allah SWT. Sudahkah kita menanamkan aqidah dengan benar, melaksanakan ibadah dengan baik dan menunjukkan perangai yang beradab?


Kedua, kita jadikan mementum memperbaiki kualitas kemanusiaan kita. Sudahkah kita mengamalkan konsep persaudaraan sesama manusia tanpa memandang suku, agama dan jenis identitas lain sebagaimana diajarkan Kanjeng Nabi? Sudahkah kita peduli pada tetangga, sanak keluarga, dan saudara-saudara kita sebangsa, setanah air dan sesama warga dunia?


Untuk saudara-saudara seiman, kami ingin saling mengingatkan. Menjadi hamba yang baik adalah proses kehambaan yang terus menerus, berkelanjutan dan tiada berujung. Menjadi baik itu satu hal. Tapi istiqomah dalam kebaikan itu juga satu hal tersendiri, yang tidak mudah. Namun harus terus diikhtiarkan.


Menjadi hamba-hamba pilihan, atau yang dalam Al-Qur’an diidealkan dengan sebutan ulul albab, bukanlah proses sederhana. Ia bukan persoalan dua kutub yang bisa ditunaikan cukup dengan ‘hijrah’ dari satu kutub ke kutub lainnya. Harus itiqomah dalam jenis kebaikan satu dan meraih jenis kebaikan lain tanpa meninggalkan kebaikan sebelumnya. Bukan seperti membelah bambu, sebagian diangkat sebagian lainnya diinjak, yang satu dijunjung tinggi sisanya direndahkan. Atau pergi ke suatu tempat dengan meninggalkan tempat sebelumnya. Bukan, bukan seperti itu.


Menjadi hamba pilihan adalah sebuah perjalanan. Ia membutuhkan tahapan-tahapan. Dilakukan dengan niat yang bersih dan panduan ilmu.


Mari kita sambut 1 Muharram 1441 Hijriyah dengan semangat baru. Mari perkuat aqidah kita tanpa merendahkan pemeluk agama lain. Kita tingkatkan kualitas ibadah kita dengan tetap menghormati mereka yang berbeda jenis peribadatannya. Mari kita jadikan kuatnya aqidah dan meningkatnya kualitas ibadah sebagai sarana untuk meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan bagi seluruh umat manusia.


Peringatan 1 Muharam 1441 Hijriyah, kita jadikan pula sebagai momentum untuk memkokoh relasi harmonis antara agama dan negara. Agama tidak perlu dibenturkan dengan negara, begitu juga sebaliknya. Karena kedua bisa seperti dua sisi mata uang.


Kami juga memberi perhatian terkait memanasnya kasus bernuansa rasial di Papua. Di momentum yang baik ini, saya mengajak semua pihak. Mari kita teguhkan kembali sikap saling menghargai dan saling menghormati sesama anak bangsa. Peristiwa yang memicu ketersinggungan saudara-saudara kita di Papua merupakan sebuah ujian berbangsa yang harus dihadapi serta disikapi secara tenang dan dewasa.


Saya merasa perlu mengingatkan kepada semua, sesama anak bangsa, bahwa persatuan dan kehidupan harmoni adalah kebutuhan semua warga bangsa. Suatu kebutuhan kodrati layaknya setiap individu manusia membutuhkan oksigen, makanan dan minuman.


Selamat Tahun Baru, 1 Muharam 1441 Hijriyah


Salam,
Robikin Emhas Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

Related Posts