Kiai Ahmad Dahlan: Jihad Melawan Jumud

Penulis: Nurbani Yusuf
Sabtu 3 Agustus 2019

Wikipedia

Atorcator.Com – Kira-kira apa yang tidak boleh dipotong saat seseorang hendak kurban: Kuku, rambut dan kulitnya hewan yang bakal dikurbankan atau rambut, kuku dan kulitnya orang yang barusan beli kambing di pasar untuk kurban—


*^^^*
Ini debat klasik dan tak pernah usai. Selalu hangat saat menjelang hari Nahr–begitu telah berlangsung ratusan tahun silam tanpa ada hasil kompromi. Masing-masing punya pengikut– timbul tenggelam sesuai moment. 


Pun dengan penentuan awal atau akhir bulan Ramadhan dan Syawal. Umat Islam seperti tak pernah berhenti berselisih–saya kadang berpikir, ini agama sempurna, tapi kenapa banyak hal yang belum slesai. Kita terjebak pada urusan-urusan kecil (furu) semakin mengecil, semakin tajam dan banyak perbedaan. 


Sebut saja soal pakaian. Kita ribut urusan gamis. Hingga ukuran seberapa tinggi celana di atas mata kaki. Celak, bau minyak wangi hingga warna semir apa yang sesuai sunah. Kesempurnaan agama kita ternyata juga menjadi bagian dari kelemahan karena banyak aturan kecil-kecil yang terus diperselisihkan. 


*^^^*
Saya bukannya tak suka sunah–tapi kenapa kita pada ribut dengan sesama teman gegara urusan yang kalau tidak dikerjakan pun nggak ngaruh. Sunah itu kan ribuan jumlah dan jenisnya dan kita bisa pilih dan kerjakan mana yang kita suka sesuai dengan yang kita mampu. 


Kata kuncinya adalah tidak merasa paling nyunah sendiri–dengan atribut sunah simbolik, seperti pakaian, janggut–surban–gamis– cadar–atau lainnya sebab mungkin saja seorang berkaus oblong bertulis … tapi betah tahajudnya, betah puasanya, betah dzikirnya dan betah-betah yang lain.


Lantas apa masalahnya: Jumud Berpikir. Itu yang dilawan Kyai Dahlan. Jumud itu mandeg. Jalan di tempat. Sudah merasa berlari padahal gak kemana-mana. Sibuk dengan urusan-urusan kecil sementara urusan-urusan prinsip yang besar ditinggalkan. Karena tradisi jumud inilah Muhammadiyah bangun berdiri. Al Islamu mahjubun bil muslimin–seperti pendulum yang awalnya modern menjadi tradisional dan atau sebaliknya. 


*^^^*
Coba saja kita list, ada berapa macam aktifitas di masjid kita ? Selain shalat lima waktu dan pengajian seminggu sekali. Mesjid terkunci rapat dan gelap pada malam hari, ada aktifitas yang kelihatannya bergerak padahal mandeg alias jumud: gerakan shalat shubuh misalnya, apa goal nya. Sebentar lagi bakal ada gerakan shalat isya–gerakan shalat duhur–gerakan shalat maghrib–gerakan shalat jumat, atau gerakan puasa ramadhan, gerakan shalat tahajud. Atau gerakan lainnya yang tidak efektif karena terjebak rutinitas, tidak ada inovasi dan tidak substantif. 


Masjid tetap saja kaku, jumud kering spiritualitas karena tak ada aktifitas yang bisa merubah. Kata Ir Soekarno, Tidak punya–phiosophische-groundslach–semacam weltstanchaung–atau pandangan menerabas batas–sebagai spirit yang menggerakkan. Kebanyakan latah dan ikut-ikutan saja, semacam taklid yang dilakukan oleh orang-orang pintar. 


*^^*
Jahamy atau Jabbary adalah pangkal berpikir jumud–menurut Jahamy dunia itu tak penting atau hanya sekedar lewat semacam mampir ngombe. Tepatnya Jaham bin Shafwan seorang ulama yang mengembangkan berpikir skeptis–


Dalam pandangan kaum skeptis yang dikembangkan Jahami adalah hijrahnya seorang profesional bergaji 50 juta sebulan menjadi seorang marbot masjid agar bisa shalat awal waktu. Seorang eksekutif berkarier, berhijrah menjadi seorang penjual minyak wangi atau habats di halaman masjid sambil nunggu adzan. Pandangan skeptis atau jumud ini bisa di manapun termasuk dalam urusan politik, ekonomi, budaya bahkan sikap dan respon sehari-hari. Ini bukan hijrah tapi musibah. 


Kenapa tidak dibalik? Seorang profesional yang sibuk bisa shalat tepat di awal waktu–lebih keren dibanding tukang adzan di masjid. Seorang eksekutif yang jujur tidak
korup bisa shalat awal waktu berjamaah di masjid bersama staf nya itu lebih keren dibanding shalatnya penjual minyak wangi di parkiran halaman masjid. Bukankah pahala bergantung ujian kata nabi saw suatu ketika. 


Puasa sunahnya orang miskin itu biasa–sebiasanya sedekah dari orang yang kaya. Komparasi orang miskin yang sabar dengan orang kaya yang ingkar jelas tidak fair–mestinya orang miskin yang sabar dibanding dengan orang kaya besyukur yang taat ibadahnya, itu baru fair … agama itu setelah iman adalah kemanusian tutur Kyai Dahlan–karena melawan jumud itulah kenapa kemudian Kyai Dahlan disebut sebagai MUJADID atau pembaharu. 


@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

Related Posts