Mbah Naggul Tuban

Penulis: Mittatul Izzah
Jumat 16 Agustus 2019

Ilustrasi: Aliansirakyatnews

Atorcator.Com – Allah swt selalu memerintahkan setiap insan untuk selalu bertawasul, dengan mengerjakan yang ma’ruf dan menjauhi yang mungkar. Dalam bertawasul biasanya orang akan memilih tempat-tempat yang sunyi dari kebisingan agar dalam bermunajat dapat memperoleh ke khusu’an, dan ketenangan batin. Salah satunya dengan berziarah kemakam Para tokoh pejuang agama terdahulu.


Dalam menyerbarluaskan ajaran islam para ulama memiliki kiprah dan sejarah yang amat besar. Seperti para wali Allah dalam menyebarkan ajaran islam. Para tokoh pejuang biasanya dalam menyebarkan agama tidak terlepas dari tradisi kebudayaan. Sebab kebudayaan selalu diapresiasikan dalam penyebaran agama. Sehinga kebudayaan memiliki keniscayaan dalam rangka memahami nilai-nilai kearifan lokal. Di jawa Konon terdapat ratusan peningalan makam-makam wali baik yang sudah ditemukan maupun belum ditemukan.


Cungkup mbah nanggul salah satunya,  peninggalan makam wali yang masih dijaga eksistensinya. Terletak didataran tingi perbukitan gampel tuban selatan, lebih tepatnya di dusun dringu desa jegulo kecamatan soko kabupaten tuban. Makam  tersebut adalah makam dari pangeran pringgoloyo atau yang disebut syekh abdurrahman. Beliau berasal dari kerajaan pajang yang diutus untuk menyebarkan agama islam rahmatan lil ’alamin. Kata nanggul memiliki filosofi yang besar yakni menanggulangi pertikaian yang terjadi di masa itu.


Terdapat tiga makam diantaranya makam syekh Abdurrahman, makam istrinya, dan makam macan putih (hewan peliharaanya). Sekitar jarak 100 m dari makam terdapat sendang teleng yang dapat dipercaya menyembuhkan segala macam penyakit, tentunya semua itu atas izin Allah SWT. Sendang tersebut hanya dibuka satu tahun sekali saat maganan mbah nanggul.


Maganan tersebut merupakan bentuk rasa syukur atas melipahnya hasil bumi sekaligus mempringati perjuagan syekh Abadurrahman dalam menyebarkan agama. Adapun acara maganan dibuka dengan tahlil bersama memanjatkan doa kepada sang pencipta alam semesta Allah SWT dan baginda Rasulullah SAW melalui wasilah ulama terdahulu.


Selanjutnya ditutup dengan makan bersama, masyarakat saling berukar makanan yang dibawa untuk bisa dinikmati satu sama lain. Pada saat itu tua, muda, saling berbaur membangun keharmonisan dan kehangatan semakin mempererat rasa persaudaraan sesama umat muslim. Dari perjuagan tokoh ulama dapat kita ambil ibrah yang besar dalam penyebaran agama sekaligus membetuk pribadi-pribadi intelektual yang menjujung tingi kearifan lokal dan mewariskan nilai-nilnai kebudayaan yang selaras dengan keislaman.


Mittatul Izzah Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’had Aly Al-Hikam Malang | lahir di Kota Tuban

Related Posts