06/04/2020

Belajar Kesholehan dari Prof. BJ. Habibie

Penulis: Saefudin Achmad
Sabtu 14 September 2019

Ilustrasi: Hitekno

Atorcator.Com – Ada sebuah ayat yang cukup populer yang menjelaskan tentang definisi ulama itu seperti apa. Berikut lafadz ayatnya:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ



“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba Nya adalah mereka para Ulama.” (QS. Fathir: 28)


Tafsir potongan ayat di atas dalam Tafsir Jalalain adalah sebagai berikut:


“(Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama) berbeda halnya dengan orang-orang yang jahil seperti orang-orang kafir Mekah.”


Sedangkan dalam Tafsir Ibnu Katsir:


 “Sesungguhnya yang takut kepada Allah dan benar-benar takut adalah para Ulama yang mereka paham betul tentang hakekat Allah Ta’ala, karena ketika pengetahuan kepada Yang Maha Agung dan Maha Kuasa sudah sempurna dan bekal ilmu tentang-Nya sudah memadai maka perasaan takut kepada-Nya akan semakin besar.”


Saya pernah ngaji kepada seorang guru. Suatu saat beliau menjelaskan maksud dari ayat ini. Beliau memaknai ayat ini (tentu berdasarkan pemahamannya) dengan mengatakan bahwa ulama itu adalah orang yang ketika bertambah ilmunya, akan semakin bertambah ketakutannya kepada Allah. Orang yang semakin bertambah ilmu, tapi justru tidak semakin takut kepada Allah bukanlah seorang ulama.


Saya bertanya apakah yang dimaksud hanya ilmu agama? Dengan cukup tegas, beliau menjawab ilmu apapun, asalkan ketika engkau mempelajarinya lalu bertambah rasa takutnya kepada Allah, maka engkau pun masuk kategori ulama. Definisi ulama secara bahasa adalah para orang ‘alim. Kata ‘alim secara bahasa artinya orang yang berilmu, tak ada qoyyid ilmu agama.


Guru saya kurang sepakat dengan sebutan ulama yang seolah-olah hanya dimonopoli oleh orang-orang yang konsen belajar ilmu agama, sehingga orang yang punya ilmu di bidang lain tidak layak disebut ulama. Padahal, bisa jadi orang yang punya ilmu di bidang lain lebih takut kepada Allah dibanding orang yang punya ilmu agama.


Lalu apa kaitan antara pembahasan tentang ulama dengan Prof. BJ. Habibie? simak penjelasan berikut.


Prof. BJ. Habibie adalah bapak teknologi dari Indonesia. Kepakarannya dalam bidang teknologi, khususnya dirgantara tak perlu diragukan lagi. Beliau disebut-sebut memiliki IQ 200, lebih tinggi dibanding Einsten yang hanya 160. Beliau juga mengantongi sekitar 46 hak paten dan yang paling terkenal adalah teori keretakan sayap. Penemuan teori yang penting bagi dunia industri pesawat ini membuatnya mendapat julukan Mr Crack. Dalam hal ini, orang Indonesia belum ada yang menguunguli pencapaian beliau.


Apakah kehebatan  beliau hanya soal teknologi dirgantara?


Ternyata selain orang yang berilmu di bidang teknologi, beliau juga termasuk orang yang religius. Hidup di Jerman yang notebene bukan negara dengan penduduk mayoritas  beragama Islam tentu menjadi ujian keimanan yang cukup berat. Tak semua orang muslim mampu mempertahankan keimanan. Hanya orang-orang yang benar takut kepada Allah yang tetap konsisten beribadah kepada Allah meskipun hidup di sebuah negara yang sangat sulit ditemukan masjid.


Beliau membuktikan diri sebagai orang yang teguh dalam memegang prinsip-prinsip keimanan. Beliau tetap konsisten menjalankan shalat saat di Jerman meskipun sulit ditemukan masjid. Berada seorang diri di negara orang terkadang membuat beliau merasa sepi dan terpuruk. Beliau mengaku shalat itulah yang mampu menguatkannya.


Meskipun tak menemukan masjid di Jerman, beliau tak putus asa.  Beliau memutuskan untuk mendatangi salah satu gereja yang ada di lingkungan tempatnya bermukim.


“Saya akhirnya ke gereja lalu saya berkata: ‘ya Allah Tuhan Yang Maha Esa, gedung ini dibuat oleh manusia yang mencintai-Mu, dan saya juga mencintai-Mu, perkenankan saya untuk masuk dan berdoa dengan cara saya sendiri, saya ingin berdoa untuk keluarga dan bangsa saya yang saya tinggalkan di Indonesia,” begitu kata beliau sebagaimana yang dikutip oleh sebuah media.


Saya kira apa yang dilakukan oleh beliau tak mudah dilakukan oleh orang pada umumnya. Hanya orang-orang yang benar-benar teguh dan kuat iman yang bisa shalat di gereja. Padahal, di Indonesia saat ini, boro-boro shalat di gereja, tidak sedikit yang hanya sekedar masuk ke gereja saja sudah takut imannya akan luntur.


Prinsip beliau di manapun dan kapanpun harus tetap beribadah kepada Allah. Tak ada masjid bukan menjadi halangan untuk shalat. Di manapun bisa digunakan untuk shalat asalkan memenuhi syarat, misalnya suci dan menghadap kiblat.


Saya pernah membaca sebuah buku bahwa “Orang Islam yang tetap bisa beribadah  di tengah-tengah masyarakat muslim atau di puncak gunung yang tak ada godaan yang berat adalah sangat biasa.” Yang luar biasa adalah “orang yang bisa terap  beribadah di tengah-tengah masyarakat modern yang mungkin tak percaya agama, atau di wilayah yang bahkan sangat sulit ditemukan masjid.”


Keteguhan Prof. BJ. Habibie dalam memegang prinsip keimanan tentu sangat patut dicontoh. Tak mudah tetap menjadi religius saat hidup di negara yang mayoritas penduduknya non-muslim sebagaimana yang dijalai oleh beliau. Beliau sepertinya bisa menjadi contoh nyata bahwa orang yang semakin pandai, dalam ilmu apapun, akan membuatnya semakin religius dan takut kepada Allah SWT.


Jika melihat riwayat pendidikan, beliau tidak pernah sekolah di pesantren atau madrasah meskipun lahir dari keluarga yang religius. Tapi justru karena itu, keteguhannya dalam memegang prinsip-prinsip keimanan membuatku malu. Saya yang pernah nyantri dan sekolah di madrasah (MI, MTs, MA), bahkan kuliah di kampus PTKIN, tapi ternyata belum punya keteguhan seperti beliau dalam memegang prinsip keimanan. Saya belum yakin apakah masih tetap konsisten beribadah jika suatu saat hidup di Jerman.


RIP Prof. BJ. Habibie, selamat bertemu Ibu Ainun, surga menanti engkau..


(SA)


Syaefudin Achmad Dosen IAIN Salatiga Asal Purbalingga Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *