Dilema Berat Murid Imam Abu Hanifah antara Fokus Mencari Ilmu Atau Uang - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Selasa, September 24, 2019

Dilema Berat Murid Imam Abu Hanifah antara Fokus Mencari Ilmu Atau Uang

Penulis: Moh. Syahri


Atorcator.Com - Perasaan dilematis ini biasanya muncul ketika anak-anak baru lulus SMA, atau boleh jadi ketika lulus S1. Karena umumnya standard minimal yang menjadi syarat sebuah pekerjaan di Indonesia antara lulus SMA dan S1.
Memang sebuah pilihan yang cukup menguras banyak pikiran. Sebab ketika sudah mencari ilmu maka tak bisa maksimal mencari uang, ketika mencari uang maka tidak maksimal mencari ilmu. Sikap dilematis ini konon pernah dialami oleh Abu Yusuf (w. 182 H), salah seorang murid utama Imam Abu Hanifah (w. 150 H).
Keluarga dari Abu Yusuf, secara ekonomi memang terbilang orang yang miskin. Bapak Abu Yusuf masih membutuhkan tenaga anaknya untuk bisa bekerja membantu perekonomian keluarganya. Suatu saat bapak Abu Yusuf berkata kepada anaknya “Nak sebaiknya kamu berhenti saja ngaji dari Imam Abu Hanifah, kita ini orang yang nggak punya apa-apa hidup Susah,”.
Di tengah situasi yang menimpa dirinya itu, yang mana Abu Yusuf harus memutuskan memilih salah satunya, mulailah dia bingung dan gamang. Pikiran dan perasaan batinnya kian menggejolak. Jika dia harus terpaksa mencari ilmu maka otomatis dia tidak bisa makan. Padahal dia ingin sekali mencari ilmu. Akhirnya ia memilih berhenti mengaji dan tidak datang ke majelis Imam Abu Hanifah dan tunduk pada perintah bapaknya.
Sungguh ini situasi yang barangkali pernah terjadi di kalangan anak muda sekarang. Bersyukurlah jika masih ada yang semangat mencari ilmu dengan kesempatan dan waktu yang ada, biaya cukup. Akan tetapi, bagaimana dengan orang yang semangat mencari ilmu sedangkan keadaannya tidak memungkinkan.
Mendengar kabar itu, Imam Abu Hanifah segera memanggil Abu Yusuf untuk ditanya “Wahai Abu Yusuf, saya dengar-dengar kamu berhenti ngaji karena soal ekonomi ya? Kalau memang benar hanya masalah itu, ini saya kasih uang 100 dirham buat biaya hidup kamu. Kamu harus melanjutkan ngajinya. Nanti kalau uang itu sudah habis segara lapor ke saya. Akan saya kasih lagi”.
Subhanallah! Abu Yusuf sangat gembira dan bersyukur bisa mendapatkan biaya hidup dari gurunya. Tidak ada alasan lagi untuk tidak ngaji.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini adalah semangat mencari ilmu itu penting. Akan tetapi, semangat saja tentu tidak cukup tanpa disertai dengan kemapanan ekonomi. Mari kita semangat mencari ilmu, bantuan dana pendidikan begitu banyak digelontorkan untuk kita para pencari ilmu. Tinggal kita mau apa tidak mendapatkan itu semua, mau berusaha apa tidak. Karenanya tidak ada alasan lagi untuk tidak mencari ilmu sebanyak mungkin di tengah banyaknya biasiswa pendidikan.

Kisah di atas ini disadur dari kitab ad-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’ juz 7 halaman. 470. Wallahualam
*Tulisan ini sebelumnya dimuat di BincangSyariah
Moh. Syahri Founder Atorcator | Santri Pondok Pesantren Darul Istiqomah Batuan Sumenep