KH. Ruhiat, NU, dan Modernitas

Penulis: Bahrudin Achmad
Selasa 3 September 2019

Atorcator.Com – KH. Ruhiat termasuk pribadi yang terbuka atas segala perkembangan informasi dalam berbagai bidang. Selain kitab kuning, koleksi bukunya mencakup bidang politik, ekonomi, dan tata negara. Ia menganggap Islam sebagai ajaran dinamis yang selalu harus bisa menjawab tantangan zaman.


KH. Ruhiat kerap mengutip pendapat Al-Mustarwalidz al-Katib Al-Injily al-Kabir yang terdapat dalam Tafsir al-Jawahir karya Thanthawi Jauhari. “Setiap agama yang tidak bisa mengiringi laju peradaban, maka kesampingkan saja, sebab agama tersebut hanya akan merepotkan para pemeluknya. Agama yang haq adalah Islam yang berpedoman Al-Quran. Al-Quran ialah kitab yang memuat persoalan keagamaan, ilmu pengetahuan, sosial kemasyarakatan, pendidikan-pengajaran, etika, dan sejarah, yang akan abadi hingga hari kiamat.”


Cara berpikir KH. Ruhiat yang progresif itu kerap luput dari amatan peneliti tentang kyai dan NU. Padahal para kiai seperti KH. Ruhiat merupakan akar progresifitas pemikiran Islam pesantren. Pemikiran progresif KH. Ruhiat hanyalah satu contoh yang terdapat dalam tubuh NU. Hal itu juga membuat NU masih konsisten memilih jalan kebangsaan. Ciri-ciri dan karakter pemikiran ‘ala NU dirumuskan dalam lima hal.


Pertama, pola pikir moderat (fikrah tawashshutiyyah), artinya NU senantiasa bersikap seimbang (tawazun) dan moderat (i’tidal) dalam menyikapi berbagai persoalan. NU tidak ekstrem kanan dan tidak pula ekstrem kiri.


Kedua, pola pikir toleran (fikrah tasamuhiyyah), artinya NU dapat hidup berdampingan secara damai dengan pihak lain meskipun akidah, cara pikir dan budayanya berbeda.


Ketiga, pola pikir reformatif (fikrah ishlahiyyah), artinya NU senantiasa mengupayakan perbaikan ke arah yang lebih baik (al- ishlah ila ma huwa al-ashlah).
Keempat, pola pikir dinamis (fikrah tathawwuriyyah), NU senantiasa melakukan kontekstualisasi dalam merespon berbagai persoalan.


Kelima, pola pikir metodologis (fikrah manhajiyyah), NU menggunakan kerangka berpikir yang mengacu manhaj yang telah ditetapkan oleh NU.


KH. Ruhiat dikenal dekat dengan tokoh-tokoh NU dan pesantrennya menjadi persinggahan para tokoh itu jika mengunjungi wilayah Priangan Timur. Ia menjadi salah satu teman baik KH. A. Wahid Hasyim. Menurut catatan Saifuddin Zuhri (1987), semua sahabat dekat Pak Wahid biasanya intensif saling surat-menyurati untuk merespon berbagai perkembangan pesantren dan situasi politik nasional.


Dalam biografi KH. Masykur yang ditulis oleh Soebagijo I.N. (1982: 97), terdapat sebuah foto yang mengabadikan kunjungan Kiai Masykur dan Kiai Wahid ke Cipasung. Keakraban KH. Ruhiat dan Kiai Wachid bermula ketika kehadiran KH.  Ruhiat di Muktamar NU di Pekalongan. Apalagi setelah bertemu di 3 kongres yang berlangsung di Cirebon (1931), Bandung (1932), dan Jakarta (1933), keduanya semakin akrab.


KH. Ruhiat yang lahir 1911 lebih tua sedikit dari Kiai Wahid yang lahir 1914. Kedekatan umur keduanya membuat keakraban, gaya dan visi KH. Ruhiat memenuhi harapan Kiai Wahid untuk mengembangkan NU sebagai pengimbang gerakan kaum modernis yang gencar dengan gerakan purifikasi.


Dalam beberapa hal, pandangan dua sahabat ini sama, misalnya soal berpakaian dan pembaharuan pengajaran pesantren. Saat jadi Menteri Agama, Kiai Wahid kerap berkunjung ke Cipasung, up date berita aktual, diskusi masalah masyarakat, agama sampai negara.


Rasa kebangsaan KH. Ruhiat dan Kiai Wahid tumbuh dalam semangat dan diskusi-diskusi teks keagamaan. Meski sedikit bersentuhan dengan budaya barat, KH. Ruhiat begitu terobsesi dengan budaya barat. Saat khataman kitab Jam’ul Jawami’, sebuah kitab Ushul Fiqih, yang dianggap amat sulit dikaji oleh santri, seragam khataman lain dari biasanya. Selain menyembelih puluhan kambing dan ayam, KH. Ruhiat dan santri yang khatam (lulus) berpose bersama dengan berbusana “modern”. Dokumen pesantren tahun 1960-an memperlihatkan KH. Ruhiat yang tampil “ngota” diapit sepuluh santri senior yang semuanya berjas-pantalon-dasi.


KH. Ruhiat dengan kritis memperhatikan perkembangan politik. Pada tahun 1959, saat Presiden Sukarno memberlakukan Dekrit Presiden, kepada sejumlah santrinya ia mengatakan “Setiap umat yang kembali pada prinsip terdahulu (yang sudah sepakat ditinggalkan) dan tidak mengikuti segala yang berlaku sesuai perkembangan zaman, maka Allah akan merusaknya.”


Sudah ah… segitu dulu.. nanti saya terlihat terlalu serius, padahal saya suka yang lucu-lucu. Oh iya pesan terakhir saya.. Kalau ada alumni, santri, atau siapa pun yang bertalian dengan Cipasung, tapi masih memiliki pemikiran yang “kolot/jumud”,.. tolong lemparin ke depan Balong Asrama Selamet, suruh thawaf sekalian.


Al-Fatihah untuk Abah KH. Ruhiat

Related Posts