NU dan Pesantren Akan Selalu Dimusuhi

Penulis: Saefudin Achmad
Jumat 20 September 2019



Atorcator.Com – NU memang bukan ormas Islam pertama yang lahir di Indonesia. Sebelumnya sudah ada beberapa ormas yang berdiri di Indonesia. Tapi keberadaan NU sangatlah penting bagi NKRI. Boleh dikatakan NU menjadi ormas Islam yang benar-benar penting dibutuhkan oleh bangsa Indonesia, alasannya:


Pertama, NU mungkin satu-satunya ormas yang begitu menanamkan cinta tanah air kepada anggotanya. NU tidak hanya menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam, tapi juga nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme. Bukan orang NU namanya kalau tidak punya rasa cinta yang amat besar kepada NKRI.


-Kedua, NU adalah penerus perjuangan Islam yang dibawa oleh Wangi Songo. NU berdiri dalam rangka menangkal pengaruh dari ormas dan aliran yang muncul di Indonesia, yang membawa ajaran Islam ala Timur Tengah. Mereka tidak hanya menyebarkan ajaran Islam, tapi mencoba menghapus trarisi-tradisi khas masyarakat Indonesia yang sudah bertahun-tahun dirawat oleh Wali Songo. Mereka menjadikan ajaran Islam (sesuai versi mereka) sebagai legitimiasi untuk menghabisi tradisi-tradisi khas Indonesia dengan dalih tidak sesuai dengan syariat.


Jika tidak ada kelompok Islam yang punya misi menghabisi tradisi khas Indonesia, mungkin NU tidak akan berdiri. Selama umat Islam Indonesia masih mencintai NKRI dan melestarikan tradisi dan budaya khas Indonesia, berdirinya NU tidak menjadi sesuatu yang urgen dan signifikan.


-Ketiga, kontribusi NU terhadap bangsa Indonesia tidak bisa dianggap remeh. Pendiri NU, Hadrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari adalah sosok yang mampu menggerakkan santri-santri dan warga NU di seluruh penjuru negeri lewat resolusi jihad dan fatwa “hubbul wathon minal iman” untuk berperang melawan penjajah.


NU dan pesantren merupakan dua hal yang identik. Para pendiri NU adalah kyai-kyai pengasuh pesantren besar. Warga NU mayoritas adalah para santri di seluruh Indonesia. Pesantren sudah sangat identik dengan NU.


Kiprah pesantren di Indonesia pun tidak bisa dianggap remeh. Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam pertama dan tertua di Indonesia, jauh lebih dulu ada dibanding sekolah-sekolah Islam milik beberapa ormas yang baru berdiri. Mayoritas rakyat Indonesia yang hidup di zaman penjajahan belajar Islam dari pesantren.


Maka sangat patut dan wajar jika NU dan Pesantren mendapat perlakuan yang lebih istimewa dari pemerintah dibanding ormas-ormas Islam yang lain. Terlebih, saat ini NU adalah ormas terbesar di Indonesia dengan jumlah anggota paling banyak. Tak bisa dipungkiri, justru karena faktor inilah yang membuat NU dan pesantren selalu dimusuhi. Ibarat pohon yang semakin tinggi semakin kencang angin berhembus.


Pihak yang tidak suka dengan NU dan Pesantren ada beberapa kemungkinan, di antaranya:


Pertama, kelompok yang ingin menghancurkan Indonesia. Mereka tidak suka karena NU berhasil menamkan doktrin cinta tanah air kepada seluruh anggotanya. Jika NU sudah bisa dihancurkan, maka menghancurkan Indonesia tidak lagi menjadi hal sulit. Keberadaan NU dan pesantren membuat Indonesia menjadi negara mayoritas penduduknya beragama Islam yang belum bisa dibuat bercerai berai, diadu domba, serta tak ada konflik besar yang memicu perpecahan. Negara-negara muslim di Timur Tengah sudah diobok-obok oleh kelompok ini, seperti Syuriah, Yaman, Afganistan, dsb.


Kedua, kelompok yang ghirah keagamaannya luar biasa, tapi tidak didukung kecintaan kepada tanah air. Mereka biasanya sempat mencicipi pendidikan di Timur Tengah, tapi belum pernah merasakan belajar di pesantren. Hal ini membuat mereka selalu menganggap tradisi-tradisi khas NU dan pesantren khususnya, serta tradisi-tradisi khas Indonesia pada umunya dianggap sebagai TBC (bid’ah, khurafat, tahayyul), yang bertentangan dengan syari’at Islam dan harus diberantas demi memurnikan ajaran Islam versi mereka. Mereka sangat ingin menjadi muslim yang kaffah serta menjadikan Indonesia negara syari’ah dan khilafah. Bagi mereka, cinta tanah air dan melestarikan tradisi bukan perbuatan orang Islam yang kaffah karena tidak ada dalilnya (menurut versi mereka).


Mereka memusuhi NU dengan berbagai cara. Dari mulai caci-maki level kampret, sampai yang membawa dalil seabrek hanya untuk menyalahkan apa yang dilakukan oleh orang NU. Pun tidak ketinggalan framing, provokasi, dan fitnah.


Amaliyah-amaliyah orang NU seperti tahlilan, maulidan, ziarah kubur, tawassul, dan yang lain terus dikampanyekan sebagai amalan yang bid’ah, sesat, syurik, dengan alasan tidak pernah dilakukan oleh kanjeng Nabi. Kampanye ini terus terus disebarkan lewat pengajian, TV, radio, buletin dan sebagainya.


Tidak cukup sampai disitu, mereka membuat framing ke Banser. Banser diframing sebagai kelompok yang suka membubarkan pengajian, tapi malah menjaga gereja. Narasi-narasi seperti ini terus disebarluaskan dengan harapan Banser dan NU dibenci oleh masyarakat Indonesia.


Tidak cukup Banser, Ketua Umum PBNU pun tak luput dari fitnah keji. Siapapun yang jadi ketua umum PBNU akan dituduh syi’ah, liberal, kafir, musyrik, sesat, dan sebutan buruk lainnya.


Maka jangan heran jika apapun yang Ketua PBNU katakan atau lakukan, akan selalu mendapat serangan, dari level rendah yang berupa nyinyiran, sampai level atas, dengan membawa dalil seabrek untuk menghukumi bahwa apa yang dilakukan oleh NU keliru dan tidak sesuai syariat Islam (versi mereka).


Soal penolakan fim The Santri sebenarnya bukan hal baru. Bukan masalah konten filmnya, tapi masalah siapa yang berada di  belakang film tersebut. Konten film yang dipermasalahkan hanyalah kambing hitam untuk mendiskreditkan PBNU. Ke depan, hal-hal seperti ini akan terus bermunculan, tidak akan pernah berhenti sebelum NU tumbang.


Layaknya sebuah pohon mangga yang berbuah banyak, tidak semua buah mangga yang dihasilkan baik. Selalu ada yang buruk bahkan busuk. NU tentu bukan ormas Islam yang sempurna. Tidak semua anggotanya bisa mendukung dan menghormati Ketua PBNU demi wibawa NU. Ada saja orang NU yang justru menggerogoti NU dari dalam. Biasanya mereka bertingkah seperti ini karena faktor politis. Jangan heran, dalam tubuh NU pun ada nuansa politiknya. Meskipun bukan jabatan pemerintahan, menjadi Ketua Umum PBNU tetap sangat menggiurkan dan prestis karena bisa menjamin poluraitas.


Perbedaan pendapat di tubuh NU sangatlah wajar. NU tidak mengharuskan seluruh warganya untuk punya pendapat yang seragam. Tapi orang NU yang benar-benar cinta ke NU, pasti akan menjaga wibawa NU. Salah satu bentuk dari menjaga wibawa NU adalah menjaga wibawa Ketua Umum PBNU. Jika ada kritik, orang yang cinta ke NU akan menyampaikan kritikan tersebut secara baik-baik, datang langsung ke kantor PBNU, bukan dengan cara koar-koar di media untuk menjatuhkan wibawa Ketua PBNU.


Namun dengan do’a para ulama dan waliyullah yang telah mendirikan NU, beserta kyai-kyai yang sudah memperjuangkan NU, saya yakin NU akan tetap jaya meskipun terus diserang dan dimusuhi oleh berbagai pihak.


(SA)


Syaefudin Achmad Dosen IAIN Salatiga Asal Purbalingga Jawa Tengah

Related Posts