Pincangnya Nalar Kritis Santri Mahasiswa

Penulis: Moh. Syahri
Rabu 4 Agustus 2019



Atorcator.Com – Identitas Santri Mahasiswa atau Mahasantri tentu bukan hal baru di kalangan masyarakat modern ini. Sebutan Santri Mahasiswa atau Mahasantri itu disematkan pada mahasiswa atau santri yang menetap di pesantren atau asrama yang sekaligus juga kuliah di tempat itu, misal seperti IAIN, UIN, dan STAIN. Perguruan Tinggi yang juga mendirikan pesantren ini bertujuan untuk menopang mahasiswa agar memiliki keseimbangan dalam pengasahan intelektual dan spiritual.


Di pesantren, seperti biasanya selalu dan lebih menekankan pada aspek keberkahan dan proses tata pencarian ilmu. Dan ini sangat kental dengan nuansa kehidupan santri. Manakala seorang ustaz atau kiai mengutarakan sebuah argumentasi, maka santri tak bisa mengutarakan pendapat yang berbeda pada saat yang sama. Sebab di tubuh santri sudah terpatri sosok atau tokoh yang membawa pesan baik dan sebuah keberkahan yang tidak bisa ditawar, apalagi sampai ditentang.


Inilah kenapa Hasan Asari dalam bukunya (Etika Akademis dalam Islam) menyatakan bahwasanya sosok ilmuwan itu lebih diakui daripada karyanya. Ini menunjukkan bahwasanya di tubuh seorang tokoh kyai dan ustaz terpancar cahaya kemuliaan tersendiri dari sosoknya. Sehingga kontak fisik jauh lebih berarti daripada kontak gagasan.


Perkataan apapun dari seorang guru seringkali lebih dihargai daripada apa yang dipikirkan murid. Saya melihat hal semacam ini masih terpelihara dengan baik di pesantren, termasuk pesantren modern sekalipun. Sebab sepertinya memang sudah tidak ada bedanya santri mahasiswa dengan santri salaf. Ya betul, saya merasakan ini karena saya termasuk orang yang bergelut di dua model pesantren seperti ini.


Sebagian kultur pesantren tradisional masih dibawa ke tempat-tempat yang sebenarnya diperlukan regulasi dan pengkondisian. Nah, karena itu, kita harus tahu kapan kondisi kita menjadi santri mahasiswa yang pasif dan kapan menjadi santri mahasiswa yang aktif. Dua hal ini masih sulit ditemukan. Kita lebih banyak jadi santri mahasiswa yang pasif (kampus) dengan dalih sami’na wa ato’na dengan dosen. Dan ini justru yang mengakibatkan kualitas santri mahasiswa terdegradasi. Karena terhambat oleh moralitas belaka. Lantas apa bedanya kita (santri mahasiswa) dengan santri pada umumnya. Apalah arti dibalik sebutan santri mahasiswa dan mahasantri jika kita kaku menangkap ilmu. Hanya bisa mengaji tapi tak bisa mengkaji, menganalisis dan bahkan mati nalar dan tuna pustaka.


Mari kita lihat tokoh-tokoh dulu yang juga mengemban identitas santri plus jadi mahasiswa, satu contoh saja misalkan Nurcholish Madjid. Ia adalah sosok yang sudah melakukan serangan balik intelektual yang kuat untuk menyanggah pendapat guru dan dosen-dosennya dengan argumentasi yang kuat. Ia pun tak segan-segan mempermasalahkan apa yang terlihat tidak relevan dengan kontruksi konteks sosial. Kritik ini dilakukan oleh Cak Nur sebagai bentuk rekontruksi dan relevansi. Bukan sebagai perlawanan dengan dalih kebencian, ketidaksukaan dan ketidakterimaan. Namun lebih kepada ketidakpuasan.


Contoh lagi misalkan KH Bahauddin Nur Salim atau biasa disebut Gus Baha’. Dalam salah seminarnya yang berduet dengan Gus Ghofur Maimoen. Gus Ghofur membuka kunci rahasia belajar Gus Baha’ yang pernah diutarakan kepada Gus Ghofur. Dan hal itu sangat diingat betul oleh Gus Ghofur sampai saat ini. Gus Baha’ pernah berkata “Salah satu cara saya menghormati mushannif (pengarang kitab) adalah dengan cara mengkritik beliau”.


Hal ini menunjukkan bahwa ada banyak cara untuk menghormati seorang guru. Tidak melulu dengan kita sepakat dengan pendapatnya (bukan tidak melakukan perintahnya). Sebab penghormatan itu muncul dari kuasa hati bukan dari apa yang kita bantah dan kita dikritisi. Jadi tidak tepat jika ada santri mahasiswa mengkritisi dosennya dianggap sebagai santri yang anti barakah dan tak tau diri, selama kritikan itu baik dan beradab. Keberkahan itu juga bisa didapatkan dengan pertemuan gagasan tanpa disertai kecongkaan dan keakuan (ego).


Dan ini lagi-lagi kembali pada kepandaian dan kecerdasan kita sebagai santri mahasiswa untuk mengetahui posisi seseorang kapan menjadi kiai dan kapan menjadi akademisi yang siap diajak diskusi dan adu argumentasi. Sehingga dua identitas yang melebur menjadi satu ini tak lagi kabur untuk kita pertahankan mati-matian dan mampu menunjukkan kualitas dan integritas santri yang tak hanya bisa mencatat tapi juga ada kehendak mempertanyakan catatan-catatan itu sebagaimana dilakukan oleh Cak Nur dan Gus Baha’.


Moh. Syahri Founder Atorcator Santri Darul Istiqomah Batuan Sumenep Madura

Related Posts