The Santri: Komodifikasi Identitas Santri

Penulis: Muhammad Al-fayyadl
Rabu 18 September 2019

Film The Santri

Atorcator.Com – Ada satu gejala tak sehat, simptom kebudayaan yang problematis bagi kaum Nahdliyin dan kaum santri secara umum, lebih dari sekadar polemik soal konten film. Yaitu, apa yang bisa disebut “selebrifikasi santri” dan “selebrifikasi ulama”. Memperlakukan santri dan ulama sebagai selebritas untuk tujuan komersiil dan komoditas budaya.


Santri dan ulama hidup dalam budaya kolektif rakyat/umat, tidak butuh diidolakan. Ini risiko ketika kaum santri hari ini masuk ke budaya kapitalisme populer, dengan alasan mengintervensi publik milenial. Tapi, karena tak punya strategi matang, intervensi itu sekadar jadi ajang dagangan muka-muka berwajah santri, dagangan identitas santri, tanpa kita tahu “social capital” ini akan dimanfaatkan oleh siapa dan untuk siapa. Dengan jargon “rahmatan lil ‘alamin”, kaum santri merelakan identitasnya dikomodifikasi oleh Hollywood, misalnya, atau Bollywood, dua rezim industri perfilman. Artinya, “rahmatan lil ‘alamin” nge-sub ke narasi dan kepentingan besar kapital.


Hari ini perlu, misalnya, sebelum terjun bergulat dengan perfilman atau produksi budaya media sosial mutakhir, kaum santri belajar Ekonomi-Politik Film, Semiotika Film, dan sejenisnya. Tidak cukup saja belajar akting dan mengoperasikan kamera. Ketika satu simbol kesantrian dieksploitasi, ini mengarah ke mana? Itu Semiotika Film. Ketika satu kalimat ulama dikutip, siapa yang mendapat nilai-lebih (surplus value)? Itu contoh pertanyaan Ekonomi-Politik Film.


Sudah belasan tahun kaum santri tak asing menjadi aktor atau sutradara dalam film. Yang bisa dikutip, misalnya, “Jalan Dakwah Pesantren”. Juga berbagai film produksi indie di pesantren. Tapi mengapa tak terkenal? Bukan karena tak siap terkenal. Tampaknya, karena kaum santri hendak membangun dulu kultur kemandiriannya. Beranjak dari subkultur ke kultur. Dan yang jelas, non-komersiil, tapi edukatif-kemasyarakatan.


Sedikit komentar trailer film “The Santri”, film ini masih mengunyah mitos lama “American Dream”, ideologi liberalisme dari Perang Dingin yang usang. Pacaran, akting di Gereja, dan lain-lain sepertinya sekadar bumbu, walaupun bukan insignifikan. Tapi film ini, berbeda dengan “Sang Kiai”, tampaknya minus pesan-pesan kritis, lebih-lebih progresif. 


Kami tidak merekomendasikan film ini untuk santri-santri kami. Walaupun secara pribadi saya mengenal Mas Azmi, salah satu cucu pendiri Pondok Pesantren Nurul Qadim Paiton Probolinggo, beberapa kilometer saja dari kediaman kami, dan mengapresiasi prestasinya di bidang musikalisasi sholawat.


Muhammad Al-fayyadl adalah Redaktur IslamBergerak.Com dan Master Filsafat Sorbonne University

Related Posts