Abu Nawas Bikin Raja Bisa Tidur dengan Cerita Semut

Penulis: M, Hizbulloh Al-Haq Al-Fulaini
Selasa 29 Oktober 2019

“Amalku itu tidak banyak,” kata Abu Nawas pada keluarganya tawadhu’, “makanya, salah satu yang kuharapkan kelak di akhirat adalah pahala membahagiakan orang lain. Jadi, nanti, kalau aku sudah meninggal, tolong buatkan pintu kecil di makamku, tapi dikasih gembok, ya. Yang besar!”.

Jadilah, dulu, makam Beliau berpintu kecil sebesar jendela dan bergembok besar melebihi pintu. Hingga yang melihatnya minimal geleng-geleng kepala, ngikik.

Abu Nawas masyhur banyak yang mengatakan wali mastur. Kekasih Allah yang tertutupi dengan kejenakaannya. Semua dibuat guyon. Bahkan meninggalnyapun dibuatnya candaan.

Pesannya pada keluarga waktu berasa akan meninggal: “Ini uangku tidak cukup. Tolong belikan kain kafan yang bekas atau murah-murahan saja.” Tapi, ketika kenalan dan sahabatnya bertanya kenapa membeli kain kafan yang murah, kok tidak yang baru? Dengan enteng Ia menjawab, “Lho, nanti kalau malaikat Munkar Nakir mendatangiku. Kan dengan mudah aku ngomong padanya: E, Mase, Saya ini mayyit lama, lho … Masa masih ditanyai?!”.

Kesehariannya biasa saja. Seperti kebanyakan orang. Ada yang mengatakan, keampuhannya tersingkap waktu berhadapan dengan Khalifah Harun ar-Rasyid. Alkisahnya begini:

Waktu memasuki istana megahnya yang dihuni banyak orang. Mulai pembantu terendah sampai tertinggi. Ketika memasuki salah satu ruangan. Tanpa sengaja. Khalifah alim itu memergoki perempuan cantik baru mandi. Ia hanya mengenakan handuk terlilit dibawah pundak dan terlihat punggungnya yang aduhai. Deegggh!! Langsung ia berpaling.

Namun, walau ia tahu wanita itu istri salah satu menterinya. Punggung termulus yang pernah terlihat olehnya, begitu membayang dimata. Dia tidak bisa tidur sampai malam. Akhirnya, karena sumpek. Ia membuat sayembara dadakan: “Siapa yang berhasil membuatku tertidur malam ini dengan sebuah cerita, maka, akan mendapatkan hadiah besar sekian!” umumnya ke masyarakat.

Gemparlah situasi, dan berbondong-bondonglah ahli cerita datang ke istananya.

Satu persatu menghadap Khalifah Harun ar-Rasyid. Tapi karena cerita mereka kebanyakan menarik. Malah membuat matanya terang benderang. Ketika hampir putus asa. Datanglah lelaki biasa dengan gaya lumrah, itulah Abu Nawas. Setelah duduk dan menghadap raja. Ia memulai ceritanya:

“Zaman dahulu kala. Ada seekor semut yang merayap ditelinga orang tidur. Waktu melewati lobang telinga. Ia penasaran ingin masuk. Akhirnya, ia memutuskan untuk masuk. Tapi, baru setengahnya. Tercium bau tidak sedap. Dan ia balik kembali. Di luar, ia penasaran kembali dan ingin memasukinya. Ia masuk, tapi kembali lagi …”

“Terus?” sergah Sang Khalifah.

“Lha iya … Ia memutuskan untuk masuk. Tapi, baru setengahnya. Tercium bau tidak sedap. Dan ia balik kembali. Di luar, ia penasaran kembali dan ingin memasukinya. Ia masuk, tapi kembali lagi …

Tapi, baru setengahnya. Tercium bau tidak sedap. Dan ia balik kembali. Di luar, ia penasaran kembali dan ingin memasukinya. Ia masuk, tapi kembali lagi … “.

“Woi, cerita apa ini?! Terusannyyaaaa…”

“Lha iya … Ia memutuskan untuk masuk. Tapi, baru setengahnya. Tercium bau tidak sedap. Dan ia balik kembali. Di luar, ia penasaran kembali dan ingin memasukinya. Ia masuk, tapi kembali lagi …

Tapi, baru setengahnya. Tercium bau tidak sedap. Dan ia balik kembali. Di luar, ia penasaran kembali dan ingin memasukinya. Ia masuk, tapi kembali lagi … Ia masuk keluar. Keluar masuk. Masuk keluar ..”

“Sudah .. sudah ..sudah … Pergi sana. Aku jadi ngantuk!” dan tertidurlah sang Khalifah.

Keesokan hari. Khalifah Harun baru tersadar kalau ia menjanjikan hadiah bagi yang bisa membuatnya tidur. Dan dipanggillah Abu Nawas:

“Ini hadiahmu. Tapi kenapa kamu kok cerita semut yang tidak mutu?”

Sambil tersenyum simpul, Abu Nawas menjawab: “Bukankah lebih baik memikirkan keluar masuk semut?! Daripada memikirkan punggung mulus?!”

DEGGGHH! Hati Khalifah berdesir. “Padahal aku tidak menceritakan kejadian kemaren siang pada siapapun. Orang ini kok?! … ” batinnya.
—-
Dikisahkan K. Anang Darunnaja dalam ngaji via youtubnya.

Related Posts