Karena Ulah Oknum Mahasiswa Jumawa Indonesia Membara, Lawan!

Penulis: Rudi S Kamri
Selasa 1 Oktober 2019

liputan6



Atorcator.Com – Kejadian penangkapan Abdul Basith, dosen senior IPB yang disangkakan akan melakukan pengeboman di beberapa tempat di Jakarta tidak mengagetkan saya. Sejak lama saya telah mengawasi gerak-gerik kakak kelas saya di IPB ini. Dia dosen flamboyan dan seorang motivator ulung yang mampu membius para audiens. Tapi sejak lama kita sudah tahu preferensi politiknya ke arah mana. Dia manusia jahat yang memberhalakan agama. Atas nama makna agama yang sesat dia ingin membunuh sesama manusia ciptaan Tuhan dan menghancurkan negaranya sendiri. Biadab !!!


Kelakuan busuk Abdul Basith sebenarnya adalah rangkaian peristiwa yang diletupkan oleh gerombolan oknum mahasiswa yang merasa paling maha benar. Sekelompok anak ingusan yang telah dibrain-wash oleh kaki tangan para bandar ini memprotes sesuatu yang mereka tidak tahu. Mahasiswa yang seharusnya menjadi calon intelektual ini begitu jumawa dan arogan memprovokasi kerusuhan yang menghancurkan negaranya sendiri. Lalu mereka teriak-teriak atas nama rakyat.


Rakyat mana yang kalian wakili wahai para kadal burik ? Saya dan berjuta rakyat Indonesia yang cinta damai, cinta konstitusi dan cinta NKRI tidak pernah memberi hak kepada mereka untuk mewakili kepentingan kami. Sebetulnya mereka yang pongah memakai jaket almamater hanya mewakili kepentingan para pemodal yang berniat menghancurkan negeri ini demi kepentingan jahat mereka. Saat ulah sok jagoan mereka ditunggangi para preman dan para perusuh yang bertindak anarki, mereka serta merta cuci tangan tidak bertanggungjawab sembari mengatakan dengan enteng : “Mereka bukan kami”.
Kalian pengecut, hai para kutu kupret !!!


Para gerombolan oknum mahasiswa itu telah menunjukkan dengan jelas betapa bodohnya mereka karena telah dengan sukarela dimanfaatkan oleh para bandar. Ulah mereka telah menjadi penanda awal kerusuhan yang berkelanjutan sampai tadi malam. Saat para polisi dan TNI sedang sibuk berdarah-darah menghalau para perusuh kota, para juragan oknum mahasiswa yang menjadi pemicu kerusuhan ini sedang duduk manis di rumah ongkang-ongkang menikmati hasil karya mereka yang sudah melumatkan kenyamanan rakyat yang “katanya” mereka wakili.


Para gerombolan oknum mahasiswa itu telah menjual rakyat untuk dijajakan kepada para bandar. Mereka tidak sadar hanya menjadi cecunguk yang dimanfaatkan oleh para penjahat negara. Mereka tidak sadar bahwa hanya dianggap sebagai kepingan kecil dari puzzle besar skenario keonaran yang sedang diciptakan untuk menggulingkan pemerintah yang sah. Bagaimanapun berbusa-busa mereka membela diri, di mata rakyat mereka tetap dianggap sebagai pemicu dari rangkaian kerusuhan yang telah didesign oleh sang mastermind.


Pada saat mereka dengan arogan menolak undangan Presiden Jokowi untuk berdialog, mereka tidak sadar bahwa mereka sedang membuka topeng kemunafikan yang selama ini mereka sembunyikan. Momentum emas telah mereka sia-siakan dengan sukses. Menurut saya mengapa mereka menolak bertemu Presiden karena sejatinya mereka tidak punya lagi argumen yang mampu mereka sajikan di hadapan Presiden. Karena mereka sadar landasan pijakan mereka untuk melakukan demonstrasi telah runtuh saat mereka sendiri tidak tahu apa yang mereka suarakan.


Selanjutnya sebagai rakyat saya berharap demi kewibawaan Presiden untuk tidak perlu lagi membuka pintu dialog dengan kaum otak udang itu.


Para gerombolan dungu oknum mahasiswa, Abdul Basith dan kawan-kawan adalah bukti nyata betapa mereka bukan kelompok manusia yang mencintai negeri ini. Sebaliknya mereka justru kelompok destruktif yang memaksakan kehendak. Mereka hanya gerombolan cacing kremi yang merongrong Ibu Pertiwi.


Jadi kebohongan mana lagi hendak kalian dustakan wahai oknum mahasiswa? Negeri yang damai ini telah kalian porak porandakan atas nama kebebasan. Dan kini saatnya saya dan jutaan orang yang cinta negeri ini menggugat bahwa : KALIAN TIDAK MEWAKILI KEPENTINGAN KAMI !!! Kalian hanya mewakili kepentingan para pemodal yang telah menjejalkan rupiah di saku celanamu. Kini saatnya kami melawan. Bukan untuk sekedar melindungi Presiden dan konstitusi tapi kami sedang melindungi negara yang sedang kalian rencanakan untuk di-suriah-kan.[Source Status Facebook Rudi S Kamri]


Saatnya rakyat melawan arogansi para pecundang !!!


Salam SATU Indonesia
01102019

Related Posts