Kisah Bahtanshar atau Nebukadnezar II

Penulis: M, Hizbulloh Al-Haq Al-Fulaini
Selasa 29 Oktober 2019

Harakatuna



Era sebelum Masehi. Dalam literatur kitab samawi. Ada empat raja yang hampir menguasai seluruh bumi. Dua mukmin, yakni Nabi Sulaiman AS dan Nabi Dzulqarnain AS. Dan dua non mukmin, yakni Namrudz dan Bakhtanshar.


Bakhtanshar ini, dalam pengetahuan modern di tulis dengan nama Nabukhadz-Nasr atau Nebukadnezar II.


Ada kisah menarik yang di luar nalar manusia:


Konon, karena dosanya membunuh Nabi (Dalam sebagian riwayat adalah Nabi Yahya AS.), meleburkan Baitul Maqdis dan membakar Kitabullah. Bahtanshar dikutuk menjadi hewan selama tujuh tahun. Pertama ia dirubah menjadi harimau dan menjadi raja binatang buas. Dijadikan rajawali dan menjadi pemimpin burung. Lalu, yang terakhir disalin menjadi banteng, diapun juga menjadi penguasa seluruh hewan ternak.


Setelah dikembalikan ke bentuk asalnyapun. Perangai berangasannya tidak berubah. Ia ganti ingin menghabisi nabi lain, yakni nabi Daniel.


Iya, dalam perayaan pengembalian dirinya ke manusia. Atas hasutan anak buahnya penyembah api. Iapun ingin menghabisi kekasih Allah itu.


“Eh, Tuan Raja. Si Daniel itu, biasanya setelah makan dan minum, langsung pingin ke kamar mandi untuk kencing” hasut mereka. Lalu membuat rencana agar nabi Daniel keluar duluan dan akhirnya membunuhnya.


Kemudian, Ia memberikan titah tertulis pada para penjaga pintunya: “Perhatian! Siapa saja yang keluar pertama kali untuk pipis. Penggal dengan Tabrun! (pedang kuno yang berbentuk seperti kapak). Kalau dia bilang: Aku Bahtanshar. Katakan: Kau bohong! Karena Bahtanshar memerintahkan untuk membunuhmu!”


Namun sial. Yang pertama ingin pipis, malah raja lalim itu. Ketika sampai pintu. Ia langsung digerebeg penjaganya sendiri yang pangling dengan wajah rajanya yang menghilang tujuh tahun. Walau ia menjerit mengatakan dirinya Bhahtansar. Para penjaga tetap berkata: kamu bohong! Dan langsung memenggal kepalanya!


Karenanya, Ketika Tabi’in mantan pendeta Wahb bin Munabbih ditanya apakah Bahtanshar mati muslim atau non muslim. Beliau menjawab, “Ada perkhilafan antar ulama ahli kitab. Ada yang mengatakan taubatnya tidak diterima sebab dosa-dosanya. Namun ada juga yang mengatakan ia muslim, sebab sebelum mati meng-Esakan Allah dengan berkata: Kullu Ilahin Baatilun Illallahu, Ilaahus-Samaa’/Setiap yang dinamakan tuhan tidak benar, kecuali Allah, Tuhan langit (Ini mungkin yang meriwayatkan bahwa kematian Bahtanshar sebab sakit, bukan dipenggal penjaganya)”.

حياة الحيوان الكبرى (2/ 474)
وروى الطبراني، في معجمه الأوسط، عن عائشة رضي الله تعالى عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:
«يا رب أخبرني بأكرم خلقك عليك» ؟ فقال جلا وعلا: الذي يسرع إلى هواي إسراع النسر إلى هواه.

Imam Thabrani dalam kitab Mu’jamul Awsathnya meriwayatkan hadis dari Sayyidatina Aishah Radhillahu Ta’ala ‘Anha: Sungguh! Baginda Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wasallama pernah bersabda: “Ya, Rabb. Khabarkanlah padaku. Siapa makhluk-Mu yang paling mulia menurut-Mu?”. Lalu, Allah Jalla Wa ‘Ala berfirman, “Yang secepat rajawali memenuhi kehendak-Ku, daripada keinginannya”.


Wallahu A’lam bis-Shawaab

Related Posts