Tak Cukup Hanya Baik dan Benar

Kamis 31 Oktober 2019

Ilustrasi foto : Mojokstore



Judul : Berbahasa Indonesia dengan Logis  dan Gembira


Penulis          : Iqbal Aji Daryono


Penerbit : Diva Press


Cetakan : September 2019


Tebal : 296 halaman


ISBN : 978-602-391-766-2


Peresensi : Moh. Mizan Asrori



Atorcator.Com – Sebagai makhluk sosial, manusia tidak hanya menggunakan bahasa sebatas untuk mengekspresikan rasa maupun ungkapan pikiran saja, tapi sudah menjadi sarana komunikasi dan bersosial dengan manusia lain. Bahasa berperan penting dalam keberlangsungan hidup sehari-hari, saat membeli kebutuhan dapur maupun sebatas meminta tolong ambilkan sesuatu kepada teman. Konflik sering terjadi akibat kesalahan dalam memahami suatu bahasa. Maka ketelitian dalam menempatkan susunan kata sangat berperan penting.


Ada adagium yang menyatakan “Siapa yang memahami bahasa suatu kelompok, ia akan selamat dari tipu daya mereka.” Begitulah urgensi bahasa bagi manusia dalam berinteraksi dengan sesamanya. Beruntung kita sebagai warga negara Indonesia, memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang disepakati menjadi bahasa pengantar. Bahasa Indonesia mampu menembus batas dan sekat suku maupun daerah.


28 Oktober merupakan hari penting dalam sejarah persatuan negeri ini dan diperingati secara semarak setiap tahunnya. Hari itu adalah Hari Sumpah Pemuda yang menjadikan bahasa sebagai salah satu alat pemersatu bangsa. Peringatan yang digelar beragam, ada lomba menulis sampai lompa berpidato. Momentum ini dimanfaatkan dengan baik oleh berbagai kalangan untuk menyuarakan kembali pentingnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar. 


Sebulan sebelum bulan bahasa tahun ini, tepatnya pada bulan September 2019, Iqbal Aji Daryono menerbitkan buku yang berjudul Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira. Buku yang melihat bahasa dari sisi lain. Penulis lulusan Sastra Jepang Universitas Gadjah Mada ini mengamati cara dan perilaku orang-orang dalam berbahasa. Baik ekspresi berbahasa secara lisan, maupun tulisan.


Buku ini berisi kumpulan renungan dan candaan Iqbal yang tetap tak kehilangan substansi dalam mengupas sudut-sudut yang jarang terjamah. Seperti kebiasaan pembawa acara yang sudah sangat nyaman dengan pengucapan “waktu dan tempat kami persilakan”. Apakah si waktu dan si tempat berkenan dipersilakan? begitu judul artikelnya (hal. 26). Penulis mengungkapkan kegelisahannya yang mendalam pada kondisi semakin pudarnya tradisi berbahasa yang logis. Baginya berbahasa tak cukup hanya baik dan benar. Apalagi untuk kategori “benar” ia kurang sepakat, karena baginya bahasa tidak ada yang salah, selama ia berterima, logis, dan efektif sebagai alat komunikasi di masyarakat.


Fakta di lapangan, terjadi beberapa kali gesekan dalam masyarakat kita yang terlalu meributkan kebakuan dalam berbahasa. Banyak yang melupakan aspek “logis” dalam berbahasa. Keberadaan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun tak luput dari komentar Iqbal, baginya KBBI tidak lantas menjadi hakim yang memutuskan benar dan salah. Ia hadir sebagai kebutuhan akan standardisasi kata-kata baku yang dipakai dalam surat menyurat dan lain sebagainya. Titik tekan buku ini lebih kepada bagaimana kita berbahasa dengan logis, sesuai tuntutan nalar, dan tentu saja bergembira.


Membaca buku ini seakan sedang membaca buku panduan menyunting tulisan yang dikemas dengan sangat lugas dan santai. Kalimat “hehehe” “hahaha” menjadikan buku ini jauh dari kesan kaku. Terlebih lagi, di setiap akhir tulisan, penulis memungkasinya dengan humor. Selain itu, dari buku ini kita belajar kepekaan dan kepedulian kepada lingkungan sekitar, terutama dalam hal ungkapan bahasa. Ternyata ide-ide untuk menulis cukup banyak berserakan di berbagai lokasi. Tergantung kesediaan setiap orang untuk menjadikannya sebagai sebuah tulisan yang utuh dan renyah dibaca.


Betapa pun sangat menariknya buku ini dibaca oleh kalangan pemerhati bahasa, ia tetap tidak mampu memberikan kepuasan paripurna. Hal ini terjadi karena setiap pembahasan satu tema hanya terangkum dalam 2 sampai 3 halaman, tentu sangat singkat. Barangkali penulis hendak mengatakan bahwa esai itu tak akan pernah usai. Ia harus dikembangkan lebih luas lagi, didiskusikan dalam forum yang lebih besar, dan dicarikan bersama solusinya. Meski di setiap tulisan yang mengkritik sebuah pengucapan atau penulisan kata sudah tercantum pilihan kata lain yang lebih logis, Iqbal tetap membuka ruang diskusi bagi pembacanya.

Mengoleksi dan membaca buku bersampul kuning ini di bulan bahasa adalah sebuah alternatif pilihan, selain ikut serta dalam berbagai kontes menulis. Pemakaian diksi dalam buku yang disunting sendiri oleh penulisnya ini juga menjadi daya pikat, sangat dekat dengan kalangan milenial. Ia menawarkan banyak sekali solusi pada sebuah permasalahan kebahasaan. Semakin lengkap rasanya jika pembaca juga sadar ada keanehan pada judul buku yang tertulis di sampul, sebagai penguat substansi buku. Selamat membaca.


*Tulisan resensi ini juga dimuat di Radar Madura versi cetak


Moh. Mizan Asrori Pemimpin Redaksi LPM Solidaritas UIN Sunan Ampel Surabaya periode 2017. Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Asal Rajun Pasongsongan Sumenep.

Related Posts