Gus Mus: Dua Nikmat Besar yang Sering Dilupakan Orang Indonesia

Penulis: Moh. Mizan Asrori
Sabtu 9 November 2019

Ilustrasi: http//jatim.sindonews.com



Atorcator.Com – 28 Oktober 2019, sekelompok pemuda Buddha yang tergabung dalam Young Buddhist Association bersama elemen komunitas lain, termasuk Gusdurian Surabaya, menyelenggarakan Sarasehan Kebangsaan bertajuk “Merayakan Indonesia Raya”. Hadir sebagai pembicara, 3 tokoh: KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Harjanto Halim, Y.A. Nyanasuryanadi Mahathera. Acara ini terselenggara di Universitas Surabaya.


Materi yang disampaikan seputar keberagaman dalam bingkai ke-Indonesiaan, sebagai peringatan sumpah pemuda. Gus Mus sebagai pemateri terakhir menyampaikan dua hal yang sering sekali dilupakan oleh manusia, khususnya masyarakat Indonesia. Keduanya merupakan nikmat yang agung dan sangat penting untuk disyukuri.


Sebagai pembuka, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang ini menyampaikan kekaguman kepada segenap panitia. Baginya sangat penting pemuda mengadakan acara seperti ini. Terlebih dalam kondisi bangsa yang sedang penuh dengan politisasi. “Panglima negara ini sekarang kembali ke politik lagi, seperti zaman Bung Karno. Semua dipolitisir, bedanya kalau sekarang Tuhan juga diajak kampanye,” ungkap Gus Mus yang diikuti tawa pecah hadirin.


Dua nikmat yang sering lupa disyukuri itu yang pertama adalah kita diciptakan sebagai makhluk bernama manusia. Bukan hewan, tumbuhan, batu, dan makhluk lain. Batu yang tidak bisa mengekspresikan perasaannya, karena benda mati. Tumbuhan pun demikian, meskipun masih sedikit lebih bisa bereaksi ketimbang batu.


Kemudian Gus Mus bercerita, syahdan beliau memiliki pohon mangga di pekarangan rumahnya yang berbuah tak mengenal musim. Setiap selesai berbuah, langsung berbunga kembali. Buahnya lebat dan menggelantung. Sampai suatu hari, pengurus pondok membangun asrama untuk santri, kebetulan pohon mangga itu berada di area perluasan pondok tersebut. Pengurus pondok tidak berani jika harus menebang, pohon mangga itu kepunyaan pengasuh pesantren. Dalam tradisi santri dan pesantren, setiap kepunyaan guru harus dihormati. 


Akhirnya, pohon mangga yang selalu berbuah itu hanya diikat dahan-dahannya ke tengah supaya tidak mengganggu bangunan. Tanpa disangka, setelah kejadian tersebut pohon mangga tak lagi berbuah sampai bertahun-tahun. Meski demikian, tetap saja pohon tersebut tidak bisa berekspresi layaknya manusia. 


Bentuk ungkapan syukur karena telah diciptakan sebagai manusia, menurut Gus Mus, adalah dengan menggunakan akal dan nurani dengan baik. Sebab keduanya yang membedakan manusia dengan hewan dan makhluk lain. Itu artinya bersyukur secara lisan saja tidak cukup, harus ada tindakan konkret.


Kedua, nikmat diberi tanah air seindah Indonesia. “Tidak ada negara yang lebih indah dari Indonesia,” begitulah ungkapan pembuka Gus Mus saat menjelaskan nikmat kedua ini. Pernyataan ini bukan karena Gus Mus orang Indonesia, tapi berdasarkan pengalaman Kiai yang aktif di media sosial tersebut saat mengunjungi berbagai negara.

Seperti pengalaman Gus Mus saat belajar di Mesir. Jika akhir-akhir ini Indonesia mengalami musim kemarau yang cukup panjang dengan suhu di beberapa daerah sempat mencapai 40 derajat celsius, di Mesir dulu Gus Mus sudah terbiasa dengan cuaca panas 50 derajat celsius. Bahkan saking panasnya, setiap pergi menggunakan bus, semua benda yang disentuhnya terasa menyengat. Sesampainya di asrama pun tidak bisa langsung tidur, harus mengambil air dengan timba untuk menyiram lantai. Setelah disiram langsung rebahan di lantai tersebut, tanpa mengembalikan timba terlebih dahulu, takut keburu kering lantainya.


Tidak hanya Gus Mus saja yang kagum dengan keindahan Indonesia, seorang ulama Al-Azhar Mesir, Syekh Mahmud Syaltut, juga mengungkapkan kekagumannya kepada Indonesia. “Jangan-jangan orang Indonesia ini tidak kaget nanti saat masuk surga,” ucap Gus Mus menerjemahkan perkataan Syekh Syaltut dalam bahasa Indonesia. Ulama yang juga pernah menjadi Grand Syekh Al-Azhar ini pun mengatakan, “Ini (Indonesia) adalah sepotong surga yang diturunkan ke dunia”.


Lantas, apalagi alasan yang membuat kita tidak bangga dan bersyukur menjadi bagian dari bangsa ini. Gus Mus mengaku tidak begitu paham apa itu nasionalisme, para gurunya di pesantren Lirboyo Kediri dan Krapyak Yogyakarta hanya berdawuh, “Indonesia ini rumahmu.” Bagi Gus Mus, ungkapan ini mengandung arti, yang namanya rumah ya biasa jika ada gesekan antar anggota keluarga, tapi jangan sampai tidak akur. Bahkan dalam kesempatan lain, Gus Mus berdawuh, “Mana ada orang yang mau membakar rumahnya sendiri.”


Gus Mus mengambil contoh bagaimana orde baru di bawah pemerintahan Soeharto sangat aneh karena ingin menyeragamkan masyarakat Indonesia. Seperti saat ada perintah semua masjid harus dicat warna kuning. “Selama 32 tahun kita diseragamkan, akhirnya hari ini kita susah berbeda,” imbuhnya. “Jika orde lama menggunakan politik sebagai panglimanya, orde baru dengan ekonomi sebagai panglimanya, era reformasi seperti sekarang tidak kreatif, malah kembali lagi politik sebagai panglima, sesekali budaya jadikan panglima,” begitu Gus Mus memungkasi materinya di hadapan peserta yang memadati ruang serbaguna lantai 6.


Wallahu a’lam


Moh. Mizan Asrori Penikmat secangkir kopi yang gemar membawa buku sebagai teman. Anggota Gusdurian Surabaya dan Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Surabaya.

Related Posts