Hidup tanpa Identitas

Penulis : Muhammad Nurkholis
Senin 2 Desember 2019



Pohon singkong yang tergeletak begitu saja di atas tanah basah, tetap mampu tumbuh memunculkan tunas dari batangnya. Namun, tentu akan berbeda dengan pohon singkong yang salah satu ujungnya tertancap dengan kokoh ke dalam tanah. Perbedaan signifikan akan jelas terlihat dari apa yang dihasilkan oleh keduanya.


Pohon singkong yang tergeletak begitu saja di atas tanah, tidak mungkin secara maksimal menyerap kandungan mineral yang ada pada tanah. Ia juga akan mengalami kesulitan ketika menjalarkan akar ke dalam tanah, dan tentu akan membutuhkan proses yang begitu panjang untuk dapat membuahkan hasil. Kalaupun ada hasil yang diperoleh, kemungkinan cacat akan sangat besar.


Sedangkan pohon singkong yang benar-benar tertancap ke dalam tanah, tentu akan dengan mudah menyerap setiap kandungan mineral yang ada pada tanah, proses yang dibutuhkan untuk mengembangkan tunas dan lain sebagainya akan terjadi begitu singkat. Ia mendapat suplai yang yang baik dan tanpa perlu bersusah payah untuk menjalarkan akar yang akan menopang batangnya ketika telah memiliki daun. Buah yang dihasilkan oleh pohon singkong ini akan menjadi sebuah buah yang sangat dinantikan.


Efektifitas hubungan seorang hamba dengan Tuhannya memiliki  kesamaan dengan kedua singkong tersebut. Ketika seorang hamba mampu menyediakan ruang yang luas untuk dapat menancapkan dirinya ke dalam sebuah ruang yang mampu memaksimalkan dirinya untuk menyerap segala pesan-pesan ketuhanan, maka bukan tidak mungkin hubungan seorang hamba dengan Tuhannya akan menjadi efektif dan membuahkan hasil yang menggembirakan. Dan tentu saja berbeda dengan seorang hamba yang membiarkan dirinya tergeletak begitu saja di atas ruang tersebut tanpa menancapkan dirinya ke dalam ruang yang mampu memaksimalkan hubungannya dengan tuhan.


Lantas ruang apa yang mampu memaksimalkan hubungan itu ?


Ruang itu adalah sebuah ruang yang menuntut setiap penancapnya berani untuk menghilangkan eksistensi dirinya atas dunia. Ruang itu adalah ruang keterasingan seorang hamba atas hamba-hamba yang lain. Ruang itu adalah sebuah ruangan yang mengkhususkan hanya terisi oleh si penancap dengan tuhannya. Tidak ada yang nampak dari setiap yang terjadi kecuali terdapat dekapan Tuhan yang selalu menyelimuti. Ruangan itu sama sekali tidak menyediakan identitas bagi penancap dan demikianlah hidup tanpa identitas.


Jika seorang hamba berani menancapkan dirinya kedalam ruang itu, maka dia akan fana bersama pesan-pesan ketuhanan dan akan memusnahkan dirinya, membiarkan dirinya menyatu dengan karakter ketuhanan (takhalluq bikhalqillah) hingga tidak menyadari apapun kecuali Tuhan[].


“Idfin wujudaka fi al-ardli al-khumuli fama nabata mimma la yadfin la yatimmu natajuhu”.


Muhammad Nurkholis Santri Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’had Aly Al-Hikam

Related Posts