Nabi Muhammad Akhlaknya Mulia Sejak Balita

Penulis: Abdul Wahab Ahmad
Selasa 3 Desember 2019

Ilustrasi : Pixabay



Bila anak kecil lumrahnya nakal, bahkan ada yang sampai merusak barang orang, mengambil buah tetangga tanpa izin dan macam-macam lainnya, maka itu tak berlaku bagi Nabi Muhammad. Kenapa beliau berbeda? Karena potensi buruk yang ada dalam diri beliau sudah dibuang sejak masih balita tatkala masih diasuh Halimah as-Sa’diyah


Dalam suatu hadis shahih diceritakan:

 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ فَشَقَّ عَنْ قَلْبِهِ فَاسْتَخْرَجَ الْقَلْبَ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً فَقَالَ هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانِ مِنْكَ ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ لَأَمَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ فِي مَكَانِهِ وَجَاءَ الْغِلْمَانُ يَسْعَوْنَ إِلَى أُمِّهِ يَعْنِي ظِئْرَهُ فَقَالُوا إِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ قُتِلَ فَاسْتَقْبَلُوهُ وَهُوَ مُنْتَقِعُ اللَّوْنِ قَالَ أَنَسٌ وَقَدْ كُنْتُ أَرْئِي أَثَرَ ذَلِكَ الْمِخْيَطِ فِي صَدْرِهِ



“Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi Jibril shallallahu ‘alaihi wasallam, saat beliau sedang bermain bersama anak-anak. Malaikat itu kemudian mengambil lalu merebahkan beliau, lalu membelah hatinya, mengeluarkan hati dan mengeluarkan segumpal darah darinya seraya berkata, ‘INI BAGIAN SETAN DARIMU kemudian mencucinya dalam bejana dari emas dengan air Zamzam’, kemudian malaikat menjahitnya dan kemudian mengembalikannya ke tempat semula. Anak-anak lalu datang dan mengadu kepada ibu susuannya, mereka berkata, ‘Sesungguhnya Muhammad telah dibunuh.’ Orang-orang lalu menyambut beliau dengan wajah pucat pasi (karena ketakutan) ‘.” Anas berkata, “Aku telah melihat bekas jahitan tersebut pada dada beliau.” (HR. Muslim)


Itulah salah satu kunci kemuliaan pribadi beliau yang dipersiapkan menjadi nabi teragung sepanjang masa. Operasi ini tidak hanya sekali, di waktu telah diangkat menjadi Nabi, peristiwa yang sama terjadi lagi hingga kemuliaan akhlak beliau semakin sempurna.


Shollu ‘alan Nabi.


Abdul Wahab Ahmad, M.H.I. Peneliti di Aswaja NU Center Jatim, PW LBM NU Jatim dan Dosen Fakultas Syariah IAIN Jember.

Related Posts