Guru Ngaji yang Nyaris Terlupakan - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Jumat, Mei 10, 2024

Guru Ngaji yang Nyaris Terlupakan

Ilustrasi

Penulis: Chalili

Melihat zaman yang semakin berkembang semuanya sudah serba mudah dan serba instan. Dengan hadirnya gadget semuanya bisa akses tanpa ribet hanya mengandalkan HP beserta paket data. 

Namun, dibalik itu semua ada hal kecil yang mulai terlupakan jasa dan pengorbanannya.

Yaitu jasa para guru ngaji atau yang di kenal dengan istilah "guru tolang", yang berada di pelosok-pelosok desa. 

Mereka tidak diangkat oleh siapapun dan tidak menerima gaji dari siapapun, ia hanya mengandalkan ikhlas dan pengetahuan ilmu agama seadanya. 

Mereka hanya kebetulan saja lalu ditokohkan di daerahnya sebab munkin karena dari pendahulunya. Meski bagitu ia nyaris terpendam dan terlupakan jasanya. 

Meski yang diajarkan hanya iqro', kalimat syahadat, mengajari wudhu' dan salat dan lain sebagainya, perlu diketahui bahwa itu merupakan ilmu dasar untuk mengetahui ilmu-ilmu yang lain.

Di dalam kitab Taklimul Muta'allim karangan Imam Zarnuji beliau mengutip perkataan Sayyidina Ali Karromahullah Wajhah tentang jasa seorang guru yang berbunyi : 

انا عبد من علمنى حرفا واحدا ان شاء باع وان شاء اعتق وان شاء استرق

"Saya adalah hamba sahaya dari orang yang telah mengajarkanku satu huruf jika ia berhendak menjualku,memerdekakan atau jika berkehendak jadikanlah budak. 

Pernyataan Sayyidina Ali diatas seolah sudah pasrah sepenuhnya terhadap orang yang telah mengajarkan satu huruf saja yakni mau dijadikan pelayannya atau dijual sekalipun tidak apa-apa. 

Dari sini kita punya gambaran bahwa seorang murid seolah tidak ada apa-apanya di hadapan seorang guru yang hanya mengajari satu huruf saja apalagi dua huruf, tiga huruf dan seterusnya. 

Pasalnya, masyarakat lebih-lebih anak muda sekarang lebih mengenal ustadz atau pendakwah-pendakwah muda yang tampil di medsos dengan viewer yang banyak, busana dan penampilannya yang terlihat keren dan berwibawa daripada ustadz-ustadz dan guru Madrasah kecil yang ada di pelosok desa yang penampilannya biasa-biasa saja, ilmunya mungkin tidak setingkat sarjana atau profesor . 

Sepertinya masyarakat dan anak muda sekarang perlu diberi pengertian dan pemahaman kepada mereka betapa pentingnya menghargai dan menghormati guru ngaji yang ada di pelosok desa dan kembali mengenang jasa-jasa mereka yang begitu besar terhadap agama dan bangsa. 

Salah satu cara menghormati dan mengenang jasa-jasa mereka adalah dengan tetap menjaga etika, tutur kata dan menjaga silaturahmi dengan cara berkunjung ke kediamannya. 

Diceritakan di dalam kitab Taklimul Muta'allim ada seorang Syaikh bernama Abu Bakar az-Zaranji yang tidak mengunjungi gurunya yang sedang muqim di suatu desa dikarenakan suatu hal. 

Syaikh itu ditanya oleh gurunya perihal kenapa dia tidak mengunjunginya sedang murid-murid yang lain berkunjung kepadanya.

Syaikh itu menjawab "Saya sibuk merawat ibu kandung", lalu gurunya menimpali "kamu diberi rezeki umur tapi kamu tidak diberi rezeki hasil dari belajar"

Begitu penting menjaga silaturahmi kepada seorang guru,guru dipesantren sebagai pembimbing jiwa, guru ngaji yang telah mengenalkan huruf hijaiyah dan kalimat syahadat dan orang yang kita anggap sebagai guru melalui nasehat-nasehatnya. Jangan sampai melupakan jasa-jasa mereka...! 

Sebab dampaknya adalah keberkahan dari ilmu yang kita dapatkan.