Jembatan Cangkele’ Sumenep: Dihindari Pengantin saat Lamaran Resepsi, Kenapa? - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Minggu, Mei 12, 2024

Jembatan Cangkele’ Sumenep: Dihindari Pengantin saat Lamaran Resepsi, Kenapa?

Ilustrasi @pngtree

Penulis: Zubairi

Salah satu teman saya (laki-laki) sudah resmi menikah, dan acara keluarganya: resepsi, digelar beberapa hari yang lalu. Saat saya menghadiri undangannya, saya duduk bersila dengan Pak Jo. 

Sesaat kemudian Pak Jo bertanya, di mana rumah istri teman saya tadi. Setelah saya menjawab, Pak Jo berujar, “berarti besok lamaran pengantinnya dia nggak boleh lewat di Jembatan Cangkele’, ya. Katanya, kalau slamaran lewat di sana rumah tangganya akan berantakan.” 

Perlu diketahui, Jembatan Cangkele’ jaraknya sekitar beberapa kilo dari Pasar Sattoan, Desa Duko, Kecamatan Rubaru Sumenep ke arah utara. Detailnya, di samping jembatan itu ada sungai, (orang-orang menyebutnya Sungai Bungtangisan). Sebuah jembatan yang berbatasan dengan Desa Duko, Rubaru dan Sogian, Ambunten. 

“Dulu, ada orang yang lewat di sana saat lamaran resepsi. Padahal, sebelumnya sudah diingatkan jangan lewat Cangkele’ karena kata banyak orang, jika lewat di sana hubungannya tak langgeng. Dan memang ada kejadian seperti itu. Beberapa bulan kemudian rumah tangganya berantakan,” ucap Pak Jo kemudian.

Mengetahui hal itu, beberapa hari berselang saya mewawancarai orang lain via WhatsApp. Apakah mitos itu betulan tersematkan pada Jembatan Cangkele’?

Saya langsung menghubungi Alex untuk bertanya perihal mitos Cangkele' yang saya maksud. Tak lama, Alex membalas pesan saya. 

Ia mengaku kalau temannya yang satu desa, dulunya saat lamaran resepsi memang tak melewati Cangkele’. Melainkan lewat jalan lain di Rubaru. 

Namun, Alex juga bilang kalau tetangganya yang lain ada yang lewat Cangkele’ saat lamaran resepsi. 

“Namanya aja mitos. Cerita yang mengandung banyak penafsiran. Namanya cerita, ada yang dengar, ada yang nggak tahu. Pun ada yang tidak pernah dengar sama sekali. Yang dengar, ada yang percaya, ada pula yang tidak. Apalagi yang tidak pernah mendengar. Nah, mereka yang lain atau bersama keluarganya nggak dengar cerita itu. Makanya berani lewat,” tutur Alex yang rumah tunangannya nggak perlu melewati Jembatan Cangkele’ itu. 

Saya iseng bertanya lagi, “kalau sampean berani nggak pas lamaran resepsi lewat Cangkele’. Kan sampean sudah tahu pada mitos itu.

“Berani”. 

“Duh, kayaknya mau beristri dua ini.” 

“Pria boleh beristri 4. Apalagi cuma 2,” ujar Alex. 

Di lain sisi, saya juga menghubungi Kak Denny. Jawabannya sama: ia pernah dengar terhadap mitos di Jembatan Cangkele’ tadi. 

Kak Denny berujar, dulu tetangganya saat lamaran resepsi ia ikut rombongan lamaran. Dan ya, mereka sama-sama lewat jalan lain di pelosok Rubaru. 

Terakhir, saya kembali menghubungi teman senior, Cak Jeki, lewat WA. Setelah saya bertanya apakah pernah dengar mitos bahwa lamaran pengantin saat resepsi nggak boleh lewat Cangkele’ sebab akan mendatangkan petaka bagi rumah tangganya? Saya heran dengan jawaban Jeki.

Hayya gimana, wong dianya malah menanggapi pesan saya dengan emoji kaget lalu tanya balik “jembatan yang mana?” padahal sudah jelas saya bilang Jembatan Cangkele’. Astaga, Jek, Jek…

Terlepas ini mitos apa nggak, yang jelas kejadian di atas betul-betul terjadi.

Penting: Nama-nama di atas, merupakan nama samaran.