Menapaki Kota Semarang Dengan Wisatanya

Foto saya sedang duduk manis
Menikmati indahnya malam hari kota lama
Semarang

 Seperti biasa, piknik memang sangatlah penting dalam hidup ini. Tak terkecuali hanya sekedar menghibur diri, bersenang-senang dan untuk lari dari kejenuhan dan keboringan. Dalam piknik kali ini, saya ditakdirkan untuk bisa sampai ke kota Semarang yang kedua kalinya setelah satu tahun yang lalu pernah menapakinya. Namun piknik kali tidaklah sama dengan piknik tahun sebelumnya. Tahun lalu mungkin bisa dibilang piknik religi, karena yang saya datangi pesantren Tahfidzul Qur’an dan belum sempat piknik menjelajahi wisata kota semarang yang saya alami tahun ini.

Saya menulis ini, bukan berarti saya sudah tau betul dan paham akan pernak pernik dan lekuk kota semarang. Namun, dalam tulisan kali ini, terus terang saja hanya ingin berbagi pengalaman yang saya alami. Pastinya masih banyak hal yang belum saya ketahui tentang kota semarang karena saya hanya 2 hari di kota itu

Meskipun destinasi wisata yang saya kunjungi cukup terbatas dan waktu pun juga terbatas. Namun hal ini sudah cukup mewakili rasa ingin tau saya. Sehingga rasa penasaran tidak lagi menghinggapi benak saya.

Menikmati kota yang dikenal dengan kota para wali ini. Kota yang didirikan oleh Ki Ageng Pandanaran alias Sunan Tembayat ini Tentu tidak asing lagi untuk kita bahas. Untuk saya pribadi, mengenai kota semarang banyak hal yang tidak semua orang tau. Termasuk pengalaman yang saya alami ini. Hehehehe

Menapaki kota semarang yang kedua kalinya tentu saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Berjalan yang tidak ada gunanya memang bisa dibilang mubadzir. Dan saya sendiri tidak pernah berpikiran sempit seperti itu. Karena saya berasumsi yang dimaksud perjalanan mubadzir itu ketika seseorang tidak bisa mengambil pelajaran dari perjalanan tersebut. Kata mubadzir tidak hanya sekedar terpaku pada pengahabisan uang semata tapi lebih pada kekosongan dalam mengambil hikmah dari perjalanan itu.

Foto saya di kota lama

Selain saya memang memiliki rasa ingin tahu yang mendalam terhadap apa yang selalu bikin penasaran. Tentu ini juga mendorong bagaimana rasa ini bisa terwujud. Dalam perjalanan ini, saya bersama teman menapaki kota yang dikenal dengan kota lama. Kota yang bisa dibilang kota yang paling eksotis. Kota yang pusat perkotaannya penuh dengan gedung tua, unik dan menarik. Kota lama ini sangat terkenal di kota semarang sehingga banyak orang mengunjunginya. Namun tak semua orang tau dengan kota lama ini termasuk orang diluar Jawa.

Kota lama ini, disamping dipenuhi oleh gedung-gedung unik dan menarik, juga dihiasi oleh pepohonan yang masyarakat sekitar bilang itu keramat. Dan pada kesempatan itu saya adalah orang yang berani berfoto tengah malam di pohon itu setelah teman-teman yang lain tidak ada yang berani.

Foto saya bersama mas Wildan
Di lawanL Sewu

Disamping mengunjungi kota lama, saya bersama teman juga mengunjungi wisata Lawang Sewu Semarang dalam bahasa Indonesianya ‘pintu seribu’. Walupun dalam kesempatan itu saya tidak bisa membuktikan kebenaran akan seribu pintu secara konkret. Paling tidak saya sudah melihat sendiri akan keberadaannya. Sehingga saya tau betul betapa uniknya juga wisata ini, pintu yang secara pengamatan saya tidak ada gunanya itu karena terlalu banyak, ternyata saat ini banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. Dalam kesempatan ini banyak menemukan keunikan-keunikan yang tentu hal ini merupakan kuasa ilahi.

Foto saya ketika mengunjungi
Peribadatan orang kristen,
Sam Po Kong

Sam Po Kong merupakan dedikasi terakhir dari kunjungan saya di kota semarang. Tempat ini banyak sekali memberikan wawasan pemikiran yang mendalam. Menemukan titik terang akan pentingnya toleransi. Peribadatan orang kristen, China, ini membuat saya bertekuk lutut dan mengerti betapa sangat menghormatinya para pastor itu terhadap tamu yang datang, akhlak dan perilaku yang ia tunjukkan nampaknya berangkat dari lubuk hati yang bersih dan mendalam. Senyum yang ia tunjukan rupanya senyum keikhlasan dan ketulusan. Walaupun saya tidak sempat berdialog lebih lanjut dengan para pastor tempat ibadah tersebut. Gesture yang ia tunjukkan sudah cukup memberikan pelajaran terhadap saya pribadi. Ini lah kenapa saya katakan perilaku yang baik dan akhlak yang baik tidak hanya dimiliki oleh kelompok agama tertentu. Tapi dimiliki oleh semua agama.

Dari sekian banyak wisata yang saya kunjungi ini. Tidak bisa saya biarkan lewat begitu saja apalagi hanya sekedar tau saja. Lebih dari itu perlu saya tulis dan analisis kemudian sampaikan bahwa wisata di semarang adalah wisata yang mampu menggugah pikiran dan perasaan yang mendalam. Kota ini juga merupakan kota yang di mana diskusi soal Tan Malaka, pahlawan nasional, yang di beberapa kota dilarang dengan begitu bengisnya, terselenggara dengan begitu sejuk dan damai.

Harapan saya akan ada part 3 nanti yang bisa menghantarkan saya ke kota Semarang lagi. Sehingga saya akan lebih jauh memahami lekuk kota Semarang dari aspek sosial, budaya, agama dan politiknya.

Santri Mahasiswa Al-Hikam Malang

Related Posts