Ramadhan: Berlomba-lomba Dalam Kebaikan Bukan Berlomba Kepo Membahas Orang Lain


Penulis: Moh. Syahri


Atorcator.Com – Bulan Suci ramadhan merupakan bulan yang dikenal mendatangkan rahmat, maghfirah dan menjauhkan dari siksa neraka. Namun nampaknya kita terlelap dalam tidur, sampai-sampai lupa dan tidak sadar akan adanya ketiga hal tersebut. Padahal ketiga hal tersebut nampak ada dan seharusnya diperjuangkan pada bulan ini. Bulan suci ramadhan itu adalah bulan fokus, konsentrasi, khusyuk dan orientasinya  berharap akan mendapatkan rahmat maghfirah dan menjauhkan diri dari siksa neraka yang menjadi modal besar kita kelak hari kiamat.

Dalam sebuah riwayat dikatakan, Ramadlan adalah bagaikan air hujan yang mengguyur tanah yang gersang, dan air hujan tersebut mampu menumbuhkan tanah yang gersang menjadi tanah yang subur makmur, menumbuhkan tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang bisa kita manfa’atkan.

Ramadlan juga bagaikan air yang digunakan untuk membersihkan diri kita sehari hari, jika seseorang selalu membersihkan dirinya setiap hari dengan air, maka dirinya pun akan tampak terlihat bersih dan beseri-seri serta merasa nyaman.


Nuansa keagamaan dibulan ramadhan semakin semarak berbeda dengan bulan-bulan lainnya, masjid-masjid penuh dengan orang-orang sholat jamaah, hingga sampai pada pembacaan Al-Qur’an. Hataman kitab kuning yang menjadi ciri khas pesantren setiap tahunnya pada saat bulan suci ramadhan merupakan ritual keagamaan yang paling mendominasi. Tak sedikit banyak yang mengikutinya walaupun bukan santri. Inilah momen dimana kita harus benar-benar dan serius dalam meraih pahala Allah SWT. jangan sampai disia-siakan.

Puasa yang secara arti sempit itu menahan diri dari makan, minum, seksualitas dan segala perbuatan keji, tak lagi menjadi amunisi oleh mereka yang menjalankan puasa. Dalam puasa tidak hanya soal tidak makan dan tidak minum saja. Memahami kalimat ‘Menahan diri dari perbuatan keji’ tentu memiliki arti yang luas dan cakupannya luas juga.

Bulan suci ramadhan mengajarkan kita untuk selalu fokus pada amal kebaikan tanpa harus melirik dan membicarakan aib orang lain yang kadang hal seperti itu tidak ada korelasinya dengan kita malah adanya merugikan. Puasa seharusnya mampu mengendalikan diri dari segala perbuatan yang tidak baik, seperti ghibah, iri dan hasut. Puasa melatih kita untuk terus bersabar. Kesabaran itu kadang akan mendatangkan kepedulian terhadap orang lain, selalu menjaga ucapan, pikiran dan hati. Bukan justru sibuk mengurus orang lain, apalagi sampai mencaci dan menjelek-jelekkan orang lain.

Dalam satu riwayat dikisahkan Nabi mendengar seseorang yang memaki sahayanya. Nabi minta ia berbuka. Orang tersebut menolak karena ia tengah berpuasa. Lantas orang tersebut mendengar wejangan agung dari lisan Rasul yang mulia: “Bagaimana mungkin engkau berpuasa sambil mencaci-maki hamba sahayamu? Sesungguhnya Allah menjadikan puasa sebagai penghalang (hijab) bagi seseorang dari segala kekejian ucapan maupun perbuatan.”

Berdasarkan sabdanya Rasullullah Saw semakin jelas bahwa dalam bulan suci ramadhan semua anggota tubuh diajak untuk berpuasa tanpa terkecuali. Sehingga sia-sia jika puasa kita hanya dibuat bahan gunjingan orang lain.


Puasa yang merupakan kegiatan ritual harus memiliki dampak sosial lebih-lebih dalam situasi sekarang ini agar selalu waspada dan tidak boleh terjebak pada hal-hal yang mudah bikin sensitif. Mudahnya terlarut dalam konflik sosial karena masih seringnya membatasi jarak antara kehidupan ritual dan kehidupan sosial. Tak terkecuali kegiatan ritual puasa itu sendiri.

Rasa syukur dan optimis tentu merupakan modal utama sebagai bekal untuk menjalani Ramadhan di tahun ini. Suka-cita perlu kita bangkitkan sebagai bekal menjalankan ibadah puasa sambil merajut tali persaudaraan dan kemanusiaan kembali.

Apa yang sebaiknya kita lakukan? Introspeksi adalah langkah awal untuk memperbaiki keadaan. Ramadhan adalah bulan yang baik untuk introspeksi (muhasabah) dengan dilandasi keikhlasan dan kejujuran.

Wallahu a’lam bisshowab

Related Posts