Gagal Paham: Belajar Memahami Kata “Ingin” dan “Mau” Ala Mahfud MD

Foto: kompas.com

Beberapa hari yang lalu saya melihat YouTube, wawancara Aiman (wartawan Kompas TV) dengan Prof. Mahfud MD. Dalam wawancara tersebut nampak terasa enjoy dan santai, sudah tau bagaimana sosok Mahfud MD dan wartawan, Aiman. Wartawan kompas tv, Aiman dikenal sebagai wartawan yang cukup taktis dalam memberikan pertanyaan begitupun Mahfud MD, beliau sering memiliki seribu jawaban untuk menjawab pertanyaan, selama pertanyaan tersebut tidak keluar dari kapasitasnya.
Tema yang diusung dalam wawancara tersebut “Cawapres di saku Jokowi” tema yang menurut saya cukup menarik untuk dibahas belakangan ini. Banyaknya cawapres yang digadang-gadang sebagai pendamping Jokowi tentu membuat penasaran banyak orang, terutama bagi relawan dan masyarakat pada umumnya.
Dari sekian banyak bakal calon wakil presiden (Bacawapres), Mahfud MD adalah termasuk di dalam salah satu diantara mereka yang banyak diperbincangkan, bahkan ada sebagian mengatakan bahwa Mahfud MD adalah sosok paling tepat atau paling potensial untuk mendampingi Jokowi. Maka dari itu selaku wartawan, Aiman ingin tau lebih dalam bagaimana tanggapan Bacawapres yang terus digadang-gadang, sampai pada munculnya beberapa survei yang cukup mungkin untuk bisa dipercaya.
Dalam wawancara tersebut tidak hanya Mahfud MD yang menjadi sorotan aiman untuk diwawancarai, namun seluruh Bacawapres. Akan tetapi dalam ulasan kali ini saya ingin fokuskan pada sosok mantan ketua MK (2008-2013), Mahfud MD saja.
Pertanyaan yang diajukan oleh Aiman membuat Mahfud MD harus tegas menjawab tanpa ragu. Pertanyaan itu menurut saya memang cukup menantang dan harus dimunculkan belakangan ini.
Di tengah perhelatan politik yang cukup tinggi tensinya, cukup tinggi ambisinya, cukup tinggi arogansi kekuasaannya, saya rasa cukup bagus memberikan pertanyaan semacam itu. Pertanyaan yang sebenarnya tidak hanya patut disodorkan kepada Mahfud MD, tapi sayang saya melihat pertanyaan itu hanya ditujukan kepada Mahfud MD.
Apa sih sebenarnya yang ditanyakan wartawan, Aiman kepada Mahfud MD, pertanyaannya adalah “Pak Mahfud, Seberapa besar sih keinginan bapak untuk menjadi wakil presiden?” Tidak ingin, ya tidak ingin samasekali, jawab Mahfud MD, jawaban yang cukup cepat dan akurat menurut saya, beliau seperti tidak perlu berpikir panjang untuk menjawab pertanyaan itu. Bahkan dari saking tangkasnya jawaban itu, aiman belum bisa percaya sepenuhnya dengan jawaban itu. Berkali-kali ia meyakinkan diri atas jawaban Mahfud MD.

Sehingga aiman memberikan pertanyaan baru yang sebenarnya cukup menjebak “Bagaimana jika suatu saat pak Jokowi mengajak pak Mahfud untuk jadi wakil presiden, apakah bapak juga tidak ingin? Tidak “ingin” dan tidak “mau” itu berbeda loh ya, jawab Mahfud MD. Wartawan Aiman dibuat bingung oleh jawaban Mahfud MD, ia marasa sulit untuk menggambarkan jawaban Mahfud MD.
Kemudian Mahfud Menjelaskan bahwa keinginan itu adalah melakukan langkah-langkah agar menjadi kenyataan, misalnya mendekati dan merayu pimpinan politik, datang ke wartawan agar selalu disiarkan, minta dimasukkan ke survei, memasang baliho, memasang iklan, menyuruh orang agar membuat buzzer-buzzer untuk memperkuat dirinya. Begitulah penjelasan Mahfud MD.
Memang ia, walaupun Mahfud MD tidak menjelaskan secara gamblang apa itu kemauan. Seyogyanya kita bisa menarik konklusi, bahwa kamauan itu sejatinya memang berdasarkan pada hati nurani, tidak dibungkus oleh ambisi (dalam tanda kutip). Dan kebanyakan, munculnya kemauan karena ada beberapa faktor dorongan yang cukup tinggi dan mulia sehingga muncul kesungguhan dan keikhlasan dalam bertindak dan memutuskan sesuatu.
Nah, sedangkan jika misalkan Mahfud MD diminta untuk jadi wapres oleh Jokowi dengan bentuk penawaran dan dibungkus dengan pertanyaan, maka seharusnya jawaban yang tepat adalah “mau” atau tidak, bukan “ingin” atau tidak. Inilah konotasi yang membedakan antara ingin dan mau. Sehingga tidak terkesan ada ambisi kuat di dalam dirinya.
Jika pun ada pertanyaan semacam itu, Mahfud MD tidak mungkin akan menjawab secepat dan setangkas itu. Karena sudah beda ranahnya. Bukan “ingin atau tidak” lagi tapi “mau apa tidak”. Ketika sudah seperti itu maka secara konotatif kemauan itu didasarkan pada hati dan pertimbangan yang kuat berdasarkan Bashirah.
Untuk menarik benang merah dari dialog dan wawancara itu, tentu sangat penting sekali. Termasuk hal-hal yang dilakukan di dunia ini, apakah berdasarkan pada kemauan ataukah keinginan? Maka dari itu, kata “ingin” dan “mau” tidak selamanya memeliki perbedaan, tergantung situasi dan kondisi yang berlaku. Kalau dalam konteks politik yang di alami Mahfud MD memang harus dibedakan karena lebih pada perebutan jabatan yang mana hal itu sering disampaikan Mahfud MD, jabatan sudah ditentukan di lauh Mahfudz, ngapain harus dikejar mati-matian.
Jika konteksnya belajar atau mencari ilmu apakah masih ada perbedaan antara kemauan dan keinginan? Jelas dua-duanya harus sama dijalankan dan diinstalasikan. Jika ingin memakai definisi kontekstualnya Mahfud MD dalam mengartikan keinginan, maka keinginan harus menjadi prioritas dalam belajar. Begitu juga dengan kemauan yang tidak perlu dipetakan dalam konteks belajar seperti halnya dalam konteks politik yang sarat dengan jebakan yang sering menimbulkan interpretasi yang kurang baik. Dalam belajar harus ada kemauan yang kuat sejalan dengan keinginan yang kuat.

Untuk menjawab pertanyaan itu memang butuh kehati-hatian, jawaban yang cerdas, tepat dan tangkas. Dari penjelasan di atas sudah cukup memberikan pencerahan bagi politisi yang ambisi dalam meraup kekuasaan.
Sebagai sosok inspiratif yang belakangan ini merapat ke pemerintah dan lahir dari keluarga Nahdhiyyin, tentu sangat diharapkan kiprahnya untuk kemajuan bangsa ini kedepan. Mahfud MD adalah Tokoh figur yang moderat yang sudah banyak memberikan pengaruh terhadap bangsa ini. Walaupun demikian, saya berharap Indonesia tetap memegang peranan penting dan kendali yang bagus dalam memajukan bangsa ini.
Wallahu a’lam bisshowab
Santri Mahasiswa Al-Hikam Malang

Related Posts