Kenapa Lebih Mudah Jadi Muslim Daripada Jadi Manusia

Penulis: Moh Syahri

Seperti yang sudah kita rasakan bersama, Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya Islam. Bahkan dikatakan sebagai negara penduduk muslim terbesar di dunia.

Satu sisi saya sangat bangga sebagai orang Islam. Di sisi lain saya sedih ketika ada sebagian orang yang mengaku muslim tapi kelakuannya tidak islami.

Kenapa sebagian orang masih sangat sulit untuk jadi manusia, sedangkan untuk jadi muslim begitu gampang sekali. Mungkin karena mereka kebanyakan tidak sadar kalau sebelum jadi muslim mereka terlebih dahulu jadi manusia. Tidak sadar bahwa mereka juga makhluk tuhan (Allah) yang satu.

Agama membawa berkat. Bisa menjadi ‘bencana’ di tengah keberagaman yang sedemikian kompleks budaya dan adat istiadatnya. Dari ‘dulu sampai detik ini, saling klaim paling benar, paling Joss masih tetap berlangsung. Perdebatan ‘eksistensi Tuhan’ masih juga belum berakhir. Identitas kesalehan dan keimanan seseorang masih dilihat dari seberapa gagahkah bersorban, berjubah, berkopiah, dakwahnya yang selalu diliput media, tak penting buat mereka konten dakwahnya berisi provokasi, tak penting buat mereka sanad keilmuannya yang kebanyakan tak jelas.

Maka tidak heran, jika sebagian orang Islam belum bisa memperlakukan manusia dengan baik. Agama Islam adalah agama kemanusiaan, agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Maka sudah barang tentu, kita sebagai manusia bisa menyeimbangkan eksistensi penghambaan kita kepada Allah dan menyayangi manusia sebagai makhluk Allah.

Islam dengan seluruh aturan-aturan hukum dan pesan-pesan moralnya senantiasa menjaga fitrah manusia, kemuliaan, kehormatan, kebebasan dan hak-haknya. Karena Islam sangat menjaga kehormatan manusia, maka secara otomatis Islam juga menjaga darahnya, kehormatan dirinya, kehormatan hidupnya. Manusia hidup di tengah kesucian, dilarang membunuh manusia kecuali dengan alasan yang benar.

Apa yang dikatakan Imam Nawawi al-Banteni (al-Jawi) di dalam kita Nashaihul Ibad sangatlah penting untuk kita renungkan di era yang penuh kebencian ini bahwa beliau berkata “semua tuntutan Tuhan, baik perintah maupun larangan, tujuan utamanya ada dua. Pertama untuk mengagungkan Tuhan yang Esa. Kedua untuk menumbuhkan belas kasih di antara sesama makhluk.

Islam itu bukan agama yang mengajarkan kita untuk bersikap apatis terhadap lingkungan sekitar. Bukan agama yang mengajarkan klaim kebenaran tunggal dan penghakiman.

Sebagai orang Islam yang memiliki konsep agama yang selalu relevan dengan perkembangan zaman, sudah seharusnya kita menampilkan wajah Islam yang ramah, tidak marahan, tidak saling kafir-mengkafirkan, tidak saling menghina, dan memfitnah. Maka disinilah eksistensi Islam akan laku akan menjadi pelita bagi seluruh makhluk.

Sumber foto: alif.id

Related Posts