Munculnya Pro Kontra Poligami Saya Jadi Ingat Kiai Masyhurat Ulama Madura

Penulis: Moh Syahri

Saya tidak tahu harus mengatakan istilah apa yang pantas buat Kiai Masyhurat dengan istri yang sampai selusin itu. Tapi memang setiap isu poligami dimunculkan ke permukaan saya selalu ingat sosok Kiai Masyhurat yang memiliki 12 istri dan berpuluh-puluh anak cucu.

Tak tanggung-tanggung sosok kiai ini benar-benar menunjukkan keromantisannya saat pertama kali diliput oleh media. Satu persatu diabsen sesuai dengan urutan sejak dia mengawininya. Di rumahnya yang megah layaknya istana Sulaiman luas berlantai empat dengan kamar 142, semua istri mampu ditampung dalam satu rumah.

Kiai Masyhurat memang kalah tenar dengan pelantun lagu religi, tombo ati, yang sering disapa mas Opick. Konon lewat suaranya yang merdu itu, dia berhasil membius perempuan untuk dijadikan istri kedua. Dan juga kiai Masyhurat kalah popularitasnya dengan sosok pendakwah kontemporer yang dulu pernah menggegerkan jagad media gegara isu poligami yang pernah dilakoninya yaitu ustad Arifin Ilham dan Aa Gym.

Kiai Masyhurat itu siapa? Ia kiai kampung yang memiliki pemahaman agama yanh mumpuni, tak punya modal apa-apa selain rumahnya yang nampak megah itu. Betul. Dia juga bukan pendakwah. Bukan penyanyi. Bukan artis. Dia sosok kiai pelaku poligami yang banyak didatangi oleh masyarakat bersowan dengan tujuan dan maksud masing-masing.

Baca Mantan Dalam Membangun Relasi Yang Baik

Selain dikenal sebagai pelaku poligami yang tulen, kiai ini juga dikenal dengan kiai yang nyentrik, aneh, dan sulit ditebak. Karenanya dia sering membuat orang heran dengan perilakunya.

Alquran sudah jelas memberikan batasan-batasan tertentu, sesuai dengan firman-Nya

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

“Nikahilah wanita-wanita yang kalian senangi. Dua, tiga, atau empat” (al-Nisa: 3).

Terlepas dari beragamnya tafsir, ayat di atas menurut jumhur atau mayoritas ulama berpendapat bahwa orang boleh berpoligami maksimal 4 istri.

Lantas apakah kiai Masyhurat salah? Menyalahi alquran? Entahlah….. Sebab masih ada sebagian ulama yang menafsirkan di luar batas di atas.

Namun kita tidak boleh terlalu fokus dengan dalil di atas saja, kita perhatikan dalil berikut juga,

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً

“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja”. [An-Nisa/4 : 3].

Lalu selanjutnya alquran menegaskan lagi :

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu) walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian” [An-Nisa/4 : 129].

Dengan demikian, kita ini sebenarnya jauh dari bisa berbuat adil dalam hal berpoligami. Tuhan dengan tegas berkata demikian. Karena keadilan itu soal perasaan. Maka seyogyanya kita memahami ayat-ayat di atas dengan nalar sehat dan kuat.

Agama sudah jelas memberikan regulasi. Bahwa poligami pada sejatinya memang bukan anjuran tapi boleh jadi sebagai jalan keluar yang harus mempertimbangkan batasan dan keadilannya.

Kenapa ada yang mendukung ada yang tidak tentang poligami? Begini penjelasan Bunda Estiana Arifin seorang pakar public consulting

Pertama, cara pandang yang dihasilkan pemikiran. Umumnya mereka yang menentang poligami memandang tidak ada segi positif dari pernikahan jenis ini dan perempuan adalah pihak yang paling dieksploitasi, dimanipulasi sampai yang terposisikan inferior. Karena poligami menjadikan perempuan bawahan pria mengontrol para istri. Ini dipandang bukan relationship ideal. Bagi penentang poligami, pernikahan jenis ini bahkan dipandang sebagai penyiksaan psikis.

Berbeda dengan mereka yang mendukung, poligami dipandang dari perspektif agama dan karena datangnya dari anjuran tuhan maka poligami pasti memuat banyak manfaat bagi laki-laki dan perempuan. Pernikahan ini dianggap menyatukan apa yang terserak dan meningkatkan loyalitas terhadap ajaran agama, menunjukkan kualitas iman yang tinggi tentang arti ikhlas dan ridho. Makanya pahala perempuan yang dipoligami adalah surga dan pria yang mempoligami dijamin rezekinya.

Kedua, dukungan dan penolakan juga datang dari kepentingan. Jika kepentingan kita terganggu oleh suatu sistem, kita akan menentang sistem. Jika kepentingan kita difasilitasi sistem, kita akan mendukung sistem itu.

Ketiga, dukungan dan penolakan juga terkait dengan keuntungan. Jika orang dirugikan maka orang akan menentang, jika diuntungkan orang akan menyokong, Tidak akan pernah sebaliknya tentang ini.

Perdebatan tentang poligami akan ada terus selagi poligami dilakukan dan dianjurkan. Poligami akan tetap dilakukan selagi pria menganggap ini sesuai dengan dorongan dan kebutuhan seksualitasnya dan perempuan yang dipoligami mempercayai ini jalan keluar bagi masalah status dan finansial.

Pada istri pertama yang  dimadu akan bersedia dengan poligami saat dia menganggap iman dan ketentuan agama lebih adil dari perasaan sakit pada dirinya. Selagi orang menganggap takdir dan ketentuan tuhan itu tidak pernah salah, maka tidak ada masalah dengan apa yang batin keluhkan.

Terkahir sebagai penutup, saya pernah baca artikel kisah Roel Mustafa yang menafkahi 1000 janda tanpa ia nikahi, bagi saya dia jauh lebih berwibawa dan bersahaja bahkan bisa jadi lebih mulia (dalam tanda kutip) dibanding mereka yang berpoligami (boleh tidak setuju)

Itu saja…………

Sumber foto: qureta.com

Wallahu’alam

Related Posts