Situ Santri Tawaduk Benaran Atau Jangan-jangan Memang Bodoh Benaran



Penulis: Moh. Syahri


Atorcator.Com – Salah satu ukuran ketinggian akhlak santri di pesantren adalah tawaduk. Siapapun yang bisa menjaga ketawadukannya dialah orang yang memiliki akhlak. Harus kita akui bahwa akhlak di atas ilmu.


Tawaduk adalah puncak tertinggi dari akhlak. Pesantren merupakan tempat orang tawaduk, tempat santri menempa diri untuk mencari ketawadukan. Setinggi apapun ilmu seorang santri tatkala belum memiliki sikap tawaduk maka ilmu yang ia miliki terasa hambar bahkan tak jarang kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat.


Sebagai gambaran sederhana, tawaduk adalah menghormati, menghargai dan memuliakan yang lebih tua dan lebih alim. Orang tawaduk biasanya sering mengalah, tidak ambisi, enggan merebut posisi sebagai pemimpin, dan sering merendah dihadapan orang lain tatkala didorong untuk jadi pemimpin. Tak terkecuali dalam urusan memimpin tahlil, shalat jamaah dan lain-lain. Karena bagi santri yang tawaduk, sering merasa dirinya kurang pantas dan masih banyak yang lebih pantas dari dirinya.


Pengalaman saya dulu ketika mondok, sudah biasa saling dorong mendorong ketika disuruh mimpin tahlil, fatihah saja masih saling tunjuk menunjuk. Dan bukan hal yang baru acara selamatan lama gara-gara masih berdebat soal siapa yang pantas jadi pemimpin tahlil, siapa yang pantas nanti jadi penutup doa. Parah. Membuat tuan rumah jadi tidak percaya lagi dengan kehebatan santri.


 Baca Keinginan Menulis Berjamaah Dalam Pesantren


Setiap ada acara kenduri di dekat-dekat pesantren, tak jarang santri selalu dilibatkan dalam mengisi acaranya karena santri dipandang sebagai sosok yang dianggap punya pemahaman lebih soal agama. Juga ketika seorang santri pulang ke kampung, jadwal tausiyah, sampai baca ayat-ayat suci Alquran untuk hajatan kampung akan diserahkan kepada santri.


Kenapa harus takut? Bukankah santri sudah diajarkan keberanian dalam hal apapun, ta’limnya jangan ditanya hampir tiap detik nadzom alfiyah dan imriti selalu membasahi bibirnya dan kesufiannya selalu menggetarkan hatinya, tirakatnya jangan diragukan, ilmu kanuragannya pun jangan coba-coba. Lah saya tawaduk mas. Lagi lagi tawaduk.


Begini, para barisan abnaittolabah yang sedang berjihad, santri memang harus tawaduk akan tetapi ketawadukan itu harus ditempatkan pada posisi yang benar. Jika dalam hal memimpin ritual keagamaan saja kalian enggan bahkan masih saja berdebat sama halnya kalian menunjukkan kegoblokan, kebodohan di hadapan masyarakat.


Maka jangan kaget jika suatu saat orang yang memimpin tahlil, tausiyah, diambil alih oleh mereka yang tidak paham dengan agama. Begitu juga dengan kehidupan politik, posisi pemimpinan dalam pemerintahan, seperti kepala desa, camat, bupati, dan presiden. Jangan menyesal jika suatu saat pemimpin itu dipimpin oleh orang yang tidak kompeten, tidak profesional dan tidak memiliki kapasitas dalam memimpin.


Sumber foto: alinea.id


Wallahu ‘alam

  • Moh. Syahri Founder Atorcator dan Pimpinan Redaksi Atorcator

Related Posts