Ibu Saya Muslimat, Tapi Nggak Tau NU Apa Tidak



Di desa saya dulu ada semacam kumpulan rutinan setiap hari selasa sore. Ibu saya adalah salah satu anggota aktif yang ikut rutinan itu. Salah satu acara rutin yang diikuti dengan aktif oleh ibu saya ya acara Selasa sore itu saja.


Saya yang masih kecil, hanya sering mendengar dengan istilah “kumpulan Muslimatan”, ketika saya nanyak ke ibu, “Bu, ibu mau kemana, kok pakek seragam biru-biru?”. “Ibu mau ke Muslimatan nak” jawab beliau.


Ibu saya memang sering pakek seragam yang biru-biru (maaf warna hijau bagi orang Madura ya tetap warna biru) itu, sekalipun banyak teman-temannya yang tidak pakai seragam itu. Dan jawaban ibu ketika ditanya selalu seperti itu, artinya beliau tidak pernah menambahi kata “NU” di belakang kata Muslimat, mau ke Muslimatan NU nak, tidak. Dan bahkan beliau enggan menjelaskan dirinya itu NU.


Acara rutinan ini, dipelopori oleh ibu Nyai yang ada di desa saya, dia dikenal dengan tokoh agama yang santun dan ramah. Karena beliau seorang ibu nyai yang banyak disegani masyarakat sekitar, tentu pengikut beliau juga banyak di acara rutinan muslimat itu. Saya melihat hampir perempuan satu desa ikut semua karena saking banyaknya waktu itu.


Ketika masih kecil, saya tidak tau apa itu muslimat, pertama kali saya ikut ke acara itu. Saya kaget. Kok semuanya pada perempuan, laki-lakinya mana? Dalam hati saya membatin.


Baca juga: Ikhlas dan Sabar Kunci Utama Menjaga Nahdhatul Ulama



Ketika pulang saya coba iseng-iseng nanyak-nanyak ke ibu “Bu, kok tadi perempuan semua, laki-lakinya mana kok nggak ikut? Nak itu memang khusus perempuan, namanya juga muslimat bukan muslimin,” jawab beliau dengan suara yang agak ngeledek saya. OWalah gitu ya bu.


Mulai saat itu saya tau apa itu muslimat dan apa saja isi dari acara kumpulan muslimat itu. Dimulai dari shalat ashar berjamaah, kemudian membaca yasin bersama, tahlil bersama, burdah, shalawat dan diakhiri tausiah dari ibu Nyai. Itulah kira-kira serangakaian acara yang dilakukan oleh ibu-ibu muslimat yang diikuti oleh ibu saya dulu.


Ini lah kenapa sampai saat ini saya masih ragu, almarhum ibu saya itu Muslimat NU apa tidak. Tapi bagi saya tidak terlalu penting mau Muslimat NU apa tidak. Yang terpenting jadilah Muslimat yang baik, ramah, santun, toleran, berakhlak mulia, pintar, cerdas dan mati khusnul khatimah


Wallahu ‘alam


Sumber Foto: NU online

Related Posts