Liburan yang Katanya Tidak Terlalalu Penting-penting Amat, Kata Siapa?



Penulis: Moh Syahri


Liburan itu tidak penting berroo, anak muda tidak boleh ada kata libur. Jika Ingin sukses harus terus berkarya dan berprestasi, masak mau libur. Mana ada?


Ndasmu.…..liburan itu tidak penting, kalau tidak wajib, iya….. Sok-sokan ae koen. Liburan itu penting dan perlu.

Berkali-kali saya diceramahi seorang teman ketika saya hendak mau berlibur atau membicarakan soal liburan. Buat apa liburan, toh di rumah juga gak ngapa-ngapain? Mendingan di pondok, belajar, buka kitab, diskusi, dan musyawarah bersama. Ujarnya


Tidak dimana-mana, di pondok, di kost, di tempat kerja model orang seperti ini pasti ada. Ia sering menjelma sebagai orang sok bijak dengan motivasinya dan seolah-olah menjadi lebih baik ketika sudah berhasil menceramahi orang. Tapi nggak papa, Ini sudah takdir tuhan, orang pilihan yang memiliki jiwa-jiwa yang selalu ngehek kalau melihat unggahan foto liburan orang.


Pada sejatinya, semua butuh liburan dalam kapasitas yang berbeda-beda. Tak terkecuali dalam urusan kerja, mencari ilmu, atau apa saja yang sangat potensial mendatangkan kebosanan dan kemalasan. Karena tidak ada satupun pekerjaan yang tidak mendatangkan kebosanan dan kemalasan. Semua akan sampai pada puncak kebosanan dan kemalasan.


Disitulah posisi peran liburan dibutuhkan. Kadang ada benarnya juga berlibur bisa jadi sebagai penakluk kesalahan. Bisa jadi juga sebagai penakluk kejengkelan, kedengkian, kesombongan, dan keangkuhan dan hal-hal negatif yang bersarang di hati dan pikiran. Lebih-lebih bisa memberikan rasa tawar hambar yang selama ini kian mencekam dari sebuah keseriusan dan penuh dengan tekanan.


Baca juga: Pengalaman Naik Motor yang Konyol



Kita ini butuh penyegaran dari sebuah rutinitas yang  bersifat membakar. Jika di atas saya sebutkan berlibur sebagai sebuah penakluk kesalahan dan lain-lain. Maka berlibur juga bagian dari mengurangi porsi kejenuhan dan dari sebuah profesi pekerjaan. Semulia apapun pekerjaan anda pasti mengalami titik kejenuhan.


Ya mohon maaf saja, jika anda butuh liburan yang syar’i, berpahala umrah saja. Di sana anda akan menemukan sejuta ganjaran pahala yang melimpah ruah. Mantap saja, namun pertanyaannya sekarang? Sudahkah anda punya uang sebanyak 35 juta buat umrah. Mari kita menoleh ke belakang lagi.


Buat saya tidak aneh jika melihat aktivis, pekerja keras, politisi, yang kelakuannya muring-muring, ngerundel, dan sering tidak jelas, demen bikin hoax bisa jadi ia kurang piknik alias kurang liburan.


Tulisan ini tidak ada maksud untuk memprovokasi. Perkara libur Ini hanya soal pilihan saja. Jika tanpa berlibur anda enak-enak saja, its oke no problem.


Tapi bagi saya pribadi berlibur itu sudah mendekati pada kebutuhan primer, ibarat kita butuh makan, kuota internet dan lain-lain. Anehnya, kadang ada orang yang tidak merasa berlibur tapi pada sejatinya ia berlibur. Kenapa bisa sedemikian? Karena saking tidak bisa membedakannya dimana nikmat liburan dan bukan liburan.


Ini hanya sederet alasan berlibur yang mungkin menurut anda kurang terpuji, kurang syar’i, bahkan kurang berpahala.Tapi memang ia, berlibur tidak melulu harus syar’i dan berpahala. Karena perkara libur itu soal mencari kenikmatan diri yang harus dipastikan tidak menggangu kenikmatan orang lain.


Jika anda seorang santri, liburan anda bisa kalian manfaatkan untuk membantu orang tuanya di rumah. Sah, sah saja. Karena bagi santri definisi libur sangat berbeda sekali dengan definisi libur versi mahasiswa.


Jadi sekali lagi saya katakan bahwa, pada intinya liburan itu hanya soal pilihan saja yang tidak perlu anda-anda sekalian mengejek lawan bicaranya karena tidak sejalan dengan cakrawala berpikirnya.


Mari berlibur sesuai dengan isi dompet, karena mewah atau tidaknya liburan itu tergantung seberapa tebal dan besar isi dompet dan ATM.


Menyambut libur yang insyaallah barakah…..


Wallahu a’lam


Sumber Foto: Travelingyuk.


Baca juga: Anjuran Rasulullah Ketika Melihat Orang Mencari Barang Hilang di Masjid

Related Posts