Modal Pemimpin Versi Atorcator, Catatan untuk Jokowi dan Prabowo


Penulis: Redaksi


Memasuki tahun politik yang sudah ada di depan mata, tentu akan banyak menimbulkan konflik batin yang tidak semuanya bisa diselesaikan oleh manusia itu sendiri. Lebih-lebih soal memilih pemimpin negara.


Sebagai orang yang akan dipimpin tentu kita harus banyak berpikir, menimbang dan menganalisis dari sekian banyak calon yang akan kita pilih. Karena suara kita akan menentukan 5 tahun ke depan.


Percaturan politik yang belakangan ini ditampilkan oleh masing-masing timses sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda karakter calon pemimpin yang mereka usung. Agendanya masih ada dalam lorong saling sikut-menyikut, hantaman meteor kebencian dan perlawanan, bukan membangun kepercayaan terhadap masyarakat.


Padahal untuk menjadi pemimpin harus memiliki modal yang besar dan kuat, dan seharusnya para timses sudah saatnya mengeksplorasi kemampuan dan modal yang dimiliki calon pemimpinnya. Bukan meladeni permainan yang sama sekali tidak memiliki nilai substantif dalam kontestasi politik.


Baca juga: Kerasukan Abu Jahal



Sedikitnya ada 5 modal yang harus dimiliki pemimpin.


Pertama, seorang pemimpin harus benar dan dipercaya oleh mereka yang dipimpinnya. Kepercayaan itu tumbuh oleh karena ketulusan seorang pemimpin.


Setiap apa yang sudah dipercaya oleh masyarakat, tentu akan banyak memberikan pengaruh dukungan. Kepercayaan ini dibangun atas apa yang sudah diperbuat oleh seorang pemimpin itu sendiri, track record yang dia miliki.


Biacara soal kepercayaan sebenarnya memang sulit untuk didapatkan. Di atas sudah dijelaskan bahwa dengan ketulusan pemimpin akan mudah dipercaya. Bagaimana cara membangun ketulusan itu? Tidak lain dengan selalu banyak mendekat kepada Tuhannya dan terus dilatih dalam dirinya.


Kedua, adalah memiliki kemampuan merumuskan dan sekaligus menjelaskan tentang gambaran ideal yang akan diraih bersama. Gambaran itu adalah terkait dengan hal-hal yang bersifat ideal, mulia, dan memberi manfaat bagi banyak orang. Tujuan jangka pendek dan hanya menguntungkan sebagian dari semua yang dipimpin, tidak akan melahirkan semangat, kerja keras, dan kebersamaan.


Baca juga:  PSI Kebohongan Lebay dan Piala Penghargaan yang Lebih Lebay



Dalam bahasa lain seorang pemimpin harus punya visi dan misi yang jelas. Di masa yang seperti ini, seorang calon pemimpin mestinya banyak bicara tentang “apa yang harus saya berikan” daripada “apa yang harus saya dapatkan”. Dan pada faktanya, masing-masing timses dari kedua calon ini lebih sibuk mencari kekurangan lawan daripada mengeksploitasi kekayaan dan kelebihan diri sendiri.


Ketiga, adalah semangat atau etos yang kuat. Pemimpin harus memiliki semangat yang kuat untuk meraih keberhasilan. Semangat itu harus dibagi-bagi kepada semua pihak yang dipimpinnya. Oleh karena itu, pemimpin harus pandai berkomunikasi untuk membakar semangat bagi semua yang dipimpin.


Semangat seorang pemimpin akan melahirkan etos, kepercayaan, dan loyalitas. Jika iklim seperti itu sudah terbentuk, maka negara yang dipimpin akan semakin kokoh, dinamis dan berkembang.


Keempat, kesediaan berkorban. Tidak pernah ada pemimpin sukses tanpa ada kesediaan berkorban. Pemimpin harus mau berkorban. Keberhasilan seorang pemimpin bukan diukur dari pertambahan gaji atau kekayaannya, melainkan bukti adanya kesanggupan dalam melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.


Dalam hal apapun kesediaan berkorban harus ada dalam diri seseorang. Karena hidup ini memang pengorbanan, hidup tanpa pengorbanan akan terasa hambar.


Kelima, adalah memilih selera humor. Seruwet apapun pemimpin harus bisa ketawa dan bisa bikin ketawa. Negeri ini sudah kehilangan banyak kesempatan dalam ketawa. Negeri ini sudah terbukti berhasil dibawah kepemimpinan Gus Dur yang mana sejak masa kepemimpinannya penuh dengan gelak tawa dan canda. Jangan buat negeri ini galak karena tontonannya yang sering horor, penuh dengan cacian, umpatan, fitnah sana sini yang terus bertebaran.


Pemimpin yang hanya bermodalkan semangat, tanpa bermodal kepercayaan dari banyak pihak, visi dan misi yang jelas, dan kemauan berkorban hanya akan menghasilkan kekecewaan yang berkepanjangan. Akhirnya, tatkala orang berkeinginan menjadi pemimpin, maka harus pandai membaca dirinya sendiri, apakah bekal-bekal dimaksud sudah ada padanya.


Keinginan memang perlu dimiliki, tetapi modal lainnya sebagaimana disebutkan di muka, perlu dilihat kembali dan dipertimbangkan oleh yang bersangkutan.


Wallu a’lam


Sumber Foto: asumsi.co


Baca juga: Situ Mau Pilih Presiden Apa Guru Ngaji?

Related Posts