Warung Makan dan Tragedi Tukang Parkir

Sudah bukan rahasia lagi bagi saya dan teman-teman kost dulu di jogja cari makan itu bukan hanya menunya apa, harganya berapa dan banyaknya seberapa, enaknya seperti apa, tapi ada parkir motornya apa tidak. Ada banyak pertimbangan yang kadang membuat saya dan teman-teman gak jadi lapar banget, tapi laparnya jadi biasa-biasa saja.


Sebagai orang pendatang, perantau sekaligus mahasiswa tentu punya warung favorit yang ia sukai di tempat ia tinggal. Misalkan seperti angkringan, burjo, atau tempat kuliner lain.


Dari daftar warung yang ia sukai dan favoritkan selain pertimbangan soal kualitas kuantitas makanan dan harga soal parkir pun tak kalah penting menjadi persoalan pelik. Bagi saya, maklum saja, biasanya orang seperti ini memiliki kecerdasan ekonomi dengan kalkulasi biaya yang cukup penting sampe uang parkir harus menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.


Pernah suatu ketika saya diajak teman makan di warung-warung terdekat sekitar malang. Karena sudah menjadi pelanggan setia sebuah warung yang harganya sangat bersahabat dengan mahasiswa tentu dia gak perlu banyak mikir untuk ngajak saya makan di tempat itu. Hitung-hitung sebagai testimoni karena punya temannya sendiri.


Setelah nyampe ke tempat itu, ternyata warungnya tutup, entah kenapa tutup dia pun gak tau. Yang jelas tidak seperti biasanya. Jam-jam segini biasanya gak tutup, kata dia.


Terpaksa kita cari warung lain, yang tidak jauh beda dengan warung temannya itu, baik dari harganya, menunya, dan hal-hal lainnya. Saya yang masih berstatus pendatang baru ikut saja apa kata dia, yang penting saya kenyang, gak peduli harus muter kemana-mana.

Baca juga: Warung yang Harganya TakBertoleransi dengan Pelanggan



Dalam hati saya membatin, “kok di malang ini cari warung makan susah banget ya” bagaimana tidak mengucapkan seperti itu, saya dan teman saya itu dua jam keliling kota malang hanya mencari warung makan yang gak ketemu-ketemu. Ini gak lucu banget, dikira kita ini mau survei warung makan, kok setiap ada warung makan berhenti tapi berangkat lagi.


Usut punya usut, setelah saya tanya bercampur kesel dan sedikit marah, “bung ente kok muter-muter tok, mau makan apa nggak nih? Ya makan, katanya. “Lo ente kok muter-muter ngini piye toh, setiap ada warung dilewati apa kita ini tukang survei warung makan? Survei aja seharusnya masuk ke dalam, tanya saya dengan nada yang agak kesel dan sedikit marah.


Betul dugaan saya, ternyata warung yang sekelas warung punya temannya itu banyak ditemui di kota Malang, namun yang menjadi persoalan adalah keberadaan parkirnya. Hanya persoalan parkir saja membuat kita harus berjihad dalam 2 jam yang tak terasa. Gak perlu ditanya apakah di warung temannya itu ada parkirannya apa tidak kalian pasti bisa jawab sendiri.


Jadi sudah bukan menjadi parameter khusus makanan enak atau tidaknya sebuah warung jika tukang parkir saja tetap menjadi momok yang menakutkan. Parkirlah kadang yang menentukan makan enaknya sebuah warung.


Seenak apapun mie ayamnya jika itu dihadapkan kepada mereka yang alergi parkir, tetap soto itu biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Tapi sehambar apapun baksonya jika jaket biru berselendang kuning dengan lampu panjangnya tidak berseleweran di sekitar gerobak, tetap bakso itu terasa enak dan lezat untuk dinikmati. Modarrrrr


Kayak ada dendam kesumat terhadap tukang parkir ae yo….


Sumber Foto: Mojok.co

Related Posts