Kejahiliyahan Moderen - Atorcator

Kejahiliyahan Moderen

Oleh: Prof. Rochmat Wahab

Kejahiliyahan pada mulanya kita kenali ketika Rasulullah saw dilahirkan. Kejahiliyahan tidaklah diartikan sebagai bodoh dari ilmu pegetahuan dan peradaban, melainkan terkait adanya penolakan terhadap hidayatullah dan
hukum-hukum yang diturunkan dari Allah swt. Hal ini tersirat dari firman Allah sw, “…Mereka lebih menyukai kebutaan daripada hidayah… (…fastahabbul ‘amaa ‘alalhudaa…”, QS, As Sajadah: 17).

Kondisi jahiliyah itu idealnya harus segera dibumihanguskan, namun pada kenyataannya orang-orang yang didentifikan sebagai jahiliyah justru mempertahankan dengan bangganya, terkait dengan sebutan jahiliyah, karena menurut keyakinan mereka bahwa sebutan itulah yg benar sebab hidayatullah identik dengan kebodohan, ketakhayulan, keterbelakangan, dan kemerosotan. Itulah gambaran orang-orang Arab yang tinggal di Makkah dan sekitarnya yang hatinya terhijab oleh iman yang sesat.

Dengan kelahiran seorang Muhammad yang membawa agama tauhid membuat perubahan setahap demi setahap mampu keluarkan orang-orang Arab yang tergolong jahiliyah dari kegelapan menuju ke alam yang terang penuh cahaya tauhid dan akhlaq mulia (kharajuu minadz-dzulumaati ilan-nuur).

Dalam konteks kehidupan dewasa ini, adanya perubahan jaman berkonsekuensi logis munculnya kejahiliyahan moderen, di antaranya (1) Kemajuan iptek dimanfaatkan untuk menyesatkan manusia dari tuntunan Ilahi, (2) Manusia merasa sombong di hadapan Allah setelah menghasilkan temuan spektakuler, (3) Berbagai teori “ilmiah” yang menjerumuskan manusia kepada penyelewengan dalam berbagai sektor kehidupan, (4) Malapetaka akibat teori evolusi, dan (5) Kebebasan Wanita (Muhammad Qutub, 1989).

Setelah mengetahui ciri-ciri kejahiliyahan moderen, kita tidak bisa diam terhadap kemajuan ipteks, justru kita harus bersikap proaktif untuk bisa ambil bagian sebanyak-banyaknya untuk taqarrab ilallaah, karena jika disadari bahwa kemajuan apapun termasuk iptek tidak akan pernah tercapai tanpa sentuhan bantuan Allah swt. Ingat, bahwa kebenaran ilmiah itu bersifat tentatif, karenanya harus dimanfaatkan untuk menemukan kebenaran hakiki dengan bermodal prior knowledges dan prior experiences serta wisdom, yang pada akhirnya menemukan kebenaran dari Allah swt, sebagaimana yang banyak ditemukan para ilmuwan, terutama para fisikawan yang cepat menemukan kebesaran Allah swt.

Selanjutnya harus benar-benar disadari hahwa ilmu yang kita miliki setinggi apapun itu sedikit di mata Allah swt, sehingga kita harus penuh tawadlu, dan tidak ada peluang untuk bertakabbur, merasa paling hebat, apalagi kini eranya collective intelligence yang mengakui bahwa penyelesauan masalah hidup yang kompleks jauh lebih efektif bukan secara disipliner, melainkan secara multidisipliner, interdisipliner, atau transdisipliner.

Selain daripada itu, untuk menunjukkan tanggung jawab moral akan kepemilikan ilmu, kita harus menjaga ilmu itu dengan mengamalkannya baik secara konvensional maupun secara moderen, sesuai dengan situasi dan kondisinya. Juga sebagai ummat Muhammad, kita seharusnya mengacu kepada rujukan sumber ilmu dari Al Qur-an dan Al Hadits tentang proses kejadian makhluk Allah, wabil khusus proses kejadian manusia sejak manusia pertama hingga saat ini dan masa-masa mendatang.

Selanjutnya perlu dimaklumi bahwa kebebasan atau dan emansipasi wanita harus dimanaj dengan baik, sehingga martabat dan kemuliaannya tetap terjaga, bahkan terhindar dari mushibah yang bisa menjatuhkan martabat wanita. Berdasarkan buku Megatrend for Women oleh Patricia Aburden dan John Naisbitt bahwa Tahun 2000 adalah masa kebangkitan para wanita, secara perlahan-lahan kini sudah dibuktikan pensmpilan dan kejayaan wanita. Agar tidak kontra produktif, para wanita harus memanaj sendiri atau dimanaj dengan strategi yang tepat.

Akhirnya, bahwa dalam menghadapi era apapun, kita harus teguh dalam menjaga iman kepada Allah swt dan mengutamakan committed dengan hukum-hukum Allah swt, serta tidak meng-ilah-kan teknologi digital, produk inovasi, dan sebagainya, sehingga kita siap menghadapi badai sekeras apapun dan kita terhindar penyakit jahiliyah moderen, yang dangat merugikan bagi kehidupan kita di dunia, terlebih-lebih kehidupan di akhirat. (RE-YOG, 12/02/19), pk. 05.01

komentar

Related Posts