Mengapa Islam Tidak Langsung Mencetak Al-Qur'an? - Atorcator

Mengapa Islam Tidak Langsung Mencetak Al-Qur’an?


Oleh Mujib Romadlon

Atorcator.Com – Abad 15 mesin cetak ditemukan oleh Guttenberg, seketika semua orang Barat memperoleh akses untuk mendapatkan pengetahuan. Padahal sebelumnya, jika seseorang ingin memiliki pengetahuan ia hanya bisa mencarinya di bar maupun kafe. Karena hanya bibir ke bibir terus berpindah ke telinga, otomatis sulit untuk mengklarifikasi data pengetahuan tersebut, bias menjadi tak terelakkan.

Buku adalah sebuah kemewahan, saat itu buku termasuk kebutuhan tersier. Buku diproduksi dengan cara menulis manual tangan. Sehingga anda bisa bayangkan, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah buku? Maka harganya bisa ditebak, lebih baik buat membeli segentong beer untuk kebutuhan sebulan di musim dingin.

Barat menjadi gelap, karena satu-satunya otoritas peletak segala pengetahuan harus muncul dari apa yang telah disepakati oleh gereja. Nicolas Copernicus dan Galileo Galilei adalah dua nama besar yang telah tercatat dalam sejarah. Dengan otoritasnya, Gereja telah membatasi ruang hidup mereka. Bila berani menantang segala pengetahuan yang telah berurat berakar. Hidup dalam cemoohan dan ‘dianggap sesat’ itulah yang didapatkan.

Kedatangan mesin cetak, mengantarkan cara baru dalam mendapatkan pengetahuan. Media baru ini massif menyegarkan alam pikiran Barat. Semua orang mendapatkan hak yang sama untuk berbicara tentang pengetahuan, bukan semata gereja saja. Publikasi karya ilmiah menantang doktrin pengetahuan lama.
Media baru ini menandakan satu momentum kebangkitan. Dengan mesin cetak, semua orang mendapatkan akses kemudahan untuk membaca dan belajar apapun, pengetahuan menjadi titik pijar Barat.


Namun mesin cetak tak begitu saja di terima di Timur dekat. Penerimaan media cetak, baru diterima di dua abad kemudian. Melalui kegigihan Ibrahim Mutafarriqah selama 10 tahun meminta pada Sultan Ahmad III dari Turki Utsmani lewat risalah berjudul wasilat al-thab’i. Yang boleh dicetak pun hanya pengetahuan sekuler, ilmu agama tetap dilarang. Termasuk percetakan al-Qur’an. Wilayah Islam lainnya, seperti Mesir bahkan baru menerima di 5 Abad kemudian, di awal abad 20. Melalui para tokoh reformis mereka; Abduh, Rasyid Ridla, Jamaluddin al-Afghani.

Logikanya:
Bukankah mencetak al-Qur’an itu baik demi dakwah? Karena dakwah Islam melalui al-Qur’an yang dicetak pasti akan dapat menjamah seluruh elemen masyarakat?

Kenapa ulama Islam tidak serta-merta menerima mesin cetak?

Lagi-lagi:

Tidak semudah itu Ferguso…

Tradisi pembelajaran al-Qur’an itu tidak memakai input dari kuping ke kepala, seperti selayaknya cara penerimaan pengetahuan pada umumnya. Kita yakin bahwa penurunan wahyu itu merupakan sebuah peristiwa transmisi yang diterima hati. Penurunan wahyu tak bisa disamakan seperti guru ceramah bersuara menjelaskan didepan kelas. Muridnya mendengar kemudian tahu. Bukan seperti itu,
wahyu bukanlah peristiwa inderawi kuping atau mata yang berujung menjadi data.

Meminjam istilah Jabiri, penurunan wahyu adalah ‘irfani. Ia merasuk ke hati, mendapatkan pengetahuan melalui ini, butuh persiapan yang tak mudah, tak sekedar mendengar. Anda teringat kisah Nabi dicuci hatinya oleh malaikat Jibril? Atau Nabi mendapatkan wahyu pertama berwujud ru’yah shadiqah untuk menyepi di Gua Hira? Semuanya itu adalah tahapan suci, proses untuk mendapatkan limpahan pengetahuan yang diperantarai Jibril dari Allah.

Al-Qur’an adalah kalamullah, persis tiada yang berubah saat dari Allah ke Jibril dan Nabi saw. Aspek pelafalannya otentik memakai sistem yang ketat mengikuti apa yang dilafalkan Nabi. Generasi seterusnya mengikuti kelisanan ini tanpa menggubah apapun, menjaganya dengan sistem tajwid. Dari Nabi ke sahabat ke tabi’in ke atba’ tabi’in terus sampai generasi kita saat ini. Ahruful muqotho’ah di setiap surat ya dilisankan alif-lam-mim, bukan dibaca alamma. Qof ya nyeqluq, bukan hanya kof seperti bilang kakap. Apalagi alladzina, jangan dibaca allad-zina, wah fatal!

Kalau anda pendidikan pesantren, atau setidaknya pernah ngaji pada kyai kampung dan menyambungkan ilmu kelisanannya pada sesepuh guru yang sampai Nabi saw. Anda akan membaca paragraf sebelum ini, mudah saja melafalkan sensasi mulut yang geli berputar-putar. Lha kalau gurumu tak pernah punya sejarah kelisanan yang absah?

Apalagi kalau ngajinya pakai iqra’, yang notabene kelisanan pembacaan aksara hijaiyahnya saja sudah berubah dari alif ba’ ta’ tsa’ jim pindah ke a ba ta tsa ja.

Aspek itulah yang hendak dijaga oleh para ‘Ulama. Ada pakem kelisanan yang berakar pada sejarah pewahyuan Rasulullah saw. disambungkan ke sahabat ya sama, ke selanjutnya sampai tahun 2019 terjaga rapih. Pelafalan al-Qur’an bukanlah pengetahuan dari apa yang didapat secara autodidak sendiri atau ditirukan dari audio mp3 Syaikh Ghamidi dan Syaikh Sudais. Ada sistem norma dan tradisi yang diyakini berakar kuat pelafalannya pun transmisinya sama tak berubah saat diberikan Allah kepada Nabi saw.

Bila dipindah ke media cetak yang notabene tulisan. Aksara tak bisa mewakili kelisanan. Sehebat apapun alih transliterasi ke aksara latin, pasti ada bias yang tak bisa dianggap remeh. Dan institusi yang mewakili kuat tradisi kelisanan sebagai salah satu bukti kewahyuan, ialah gaya pembelajaran yang masih tradisional. Mensyaratkan talaqqi, sudah jelas ini adalah persambungan kelisanan murid ke guru, juga koneksi hati ke hati.

Itu salah satu faktor mengapa komunitas muslim tak serta merta menerima tradisi media cetak, karena apa yang muncul di cetak tetap tak bisa menjaga tradisi kelisanan kewahyuan al-Qur’an. Di tambah juga, ada beberapa pertimbangan lain, seperti takut jika al-Qur’an versi cetak akan jatuh pada orang yang tak tahu bagaimana cara menghormatinya. Itu adalah resiko yang tinggi, dianbil para ulama.

Karena sistem klasik yang terdahulu dalam pembelajarannya, kelisanan al-Qur’an tetap menjadi aspek utama. Baru kemudian bila si murid hendak menuliskannya melalui media dengan tulis tangan, hal itu tetap dikroscek oleh gurunya. Maka otomatis penulisnya akan tahu cara yang tepat memperlakukan mushaf al-Qur’an itu sendiri.

Takdzim pada al-Qur’an! Itulah alasannya. Sekarang generasi kita telah menerima media cetak, memang massif sekali al-Qur’an hampir ada di setiap rumah. Tak jarang di tempat-tempat yang katakanlah publik sekuler, juga didapati al-Qur’an dengan berbagai varian fitur pelengkapnya.
Tapi apakah dengan seperti itu kewahyuan dan kelisanan al-Qur’an masih terjaga?

Dengan kemudahan akses mendapatkan alqur’an versi media cetaknya, maka apakah membacanya tinggal dilafalkan sekenanya saja?

Hebatnya sekarang ini, beberapa orang dengan merasa tak berdosa mendapati potongan ayat al-Qur’an di cetak di merchandise; kaos, gantungan kunci, topi, sticker dll. Sebagai sebuah euforia, menampilkan identitas yang saking Islaminya, sampai tak tahu cara menghormatinya. Disimbolkan populer pada wilayah identitas tapi meresikokan membunuh cara yang tepat tentang ketakdzimannya.

Sistem tradisional adalah yang terbaik untuk menjaga adab dan ketakdziman generasi selanjutnya terhadap al-Qur’an. Aturan kelisanan dalam kewahyuan al-Qur’an bukanlah hal yang bisa diambah secara kilat. Lisan tak bisa dibentuk dari pulpen yang dapat bersuara audio Mp3 al-Qur’an, apalagi menghafal al-Qur’an dengan mencocokkan lisan sesuai dengan youtube.

Tapi ya bagaimana? Wong dia kuliahnya di kampus Islam kok, pasti Agamanya bagus:
SD Negeri 1,
SMP Negeri 1,
SMA Negeri 1,
S1 Kampus Islam.

Pernah Mondok?

Dia lulusan TPA khatam Iqra’ kelas 6 SD, terus setelah SMP sudah tak pernah ngaji lagi. Mapel PAI seminggu 2 kali.

Maka jangan heran bila di kemudian hari anda akan mendapati orang yang membaca al-Qur’an di Kafe Galeria Mall seperti ini:

“ka-ha-ya-‘a-sha”

komentar

Related Posts