Menyikapi Fenomena Dakwah Sugi Nur yang Asal-asalan - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Kamis, Februari 21, 2019

Menyikapi Fenomena Dakwah Sugi Nur yang Asal-asalan


Oleh: Santri Kiri

Atorcator.Com - Entah inspirasi macam apa yang dimiliki oleh Sugi Nur sehingga merubah haluannya dari penjual pembalut menjadi seorang da’i yang berdiri di atas mimbar dengan propaganda-propaganda yang sangat frontal, seolah-olah dialah yang paling benar.

Setidaknya, jika kita melihat apa yang dia propagandakan serta napak tilas perjalanannya diatas mimbar, setidaknya terdapat tiga corak yang sering dimunculkan oleh Sugi Nur: 

Pertama, mendukung secara nyata kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang jelas-jelas telah dilarang secara resmi oleh Pemerintah berdasarkan konstitusional. 

Kedua, mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah dalam semua tindak-tanduk kebijakan pemerintah hampir tidak pernah luput dari pedasnya kritik Sugi Nur dan semakin gencar dia lakukan setelah direkrut oleh oposisi petehana. 

Ketiga, menghina, mencaci, dan melecehkan Nahdlatul Ulama’ lebih-lebih pengurus yang saat ini sedang menjabat.

Sayangnya, corak-corak seperti yang dilakukan oleh Sugi Nur ini hampir kita lihat merata dan pergerakannya pun secara massif sangat bisa kita rasakan. Walaupun tidak seradikal yang dilakukan oleh Sugi Nur namun fenomena ini patut kita khawatirkan. 

Sebuah Fenomena baru menjadikan seorang bebas menyebarkan propaganda miskin ajaran islam dan justru sebaliknya, diatas mimbar agama! Fenomena ini jika tidak segera diatasi maka akan sangat berbahaya bagi berlangsungnya ajaran islam yang benar. Bukan maslahah yang diperoleh umat justru masalah. Fenomena ini harus segera dilawan.

Setidaknya ada dua model perlawanan yang harus dilakukan untuk mengatasi fenomena ini. Pertama, perlawanan secara konstitusional. Perlawanan secara hukum yang dengannya gerakan-gerakan ini akan sedikit tereduksi. 

Namun perlawanan ini tidak lantas harus untuk dilakukan. Artinya tidak perlu untuk membuat RUU membatasi setiap orang untuk bebas berpendapat dan menyuarakan pemikirannya di atas mimbar. Karena kita tidak tahu apakah fenomena ini akan terus ada atau akan punah usai pilpres?

Baca juga: Ini Penjelasan Esensi Doa Pernikahan adalah Kerukunan


Kedua, saya rasa ini hal penting dan sangat dibutuhkan, yaitu sebuah perlawanan dengan membuat tandingan yang sepadan. Jika fenomena Sugi Nur ini datang dengan membawa wajah yang kasar untuk memperbaiki sesuatu yang dianggap salah, maka harus ada perlawanan dengan wajah yang ramah. 

Membangun militansi sangat berpengaruh bagi berlangsungnya perlawanan. Sebuah militansi yang mampu menyadarkan masyarakat bahwa jika ada hal yang salah dari apapun itu tidak seharusnya dilawan dengan bertindak sarkastis hingga terjadi caci maki yang berujung pada perpecahan.


Mengapa yang kedua penulis anggap sebagai bentuk perlawanan yang paling dibutuhkan? 
Pertama jelas bahwa setiap orang memiliki hak untuk mengungkapkan pikirannya secara bebas. Kedua karena jika hal ini terjadi, maka akan menyebabkan semacam gesekan diantara keduanya, dengan gesekan itu akan memunculkan sebuah kesadaran untuk selalu bersikap bijak dan berorasi dalam koridor yang baik dan sopan, dan tentu akan menghasilkan persepektif yang akan membawa masyarakat untuk tidak selalu memandang dunia dengan pandangan hitam dan putih.

Sumber Foto: islami.co