Tanah, Rakyat Kecil dan Air Mata Warga Sampang Madura


Atorcator.Com – Ratusan pengungsi Sampang yang
sudah 6 tahun terusir dari kampungnya jelas tak perlu menjadi subjek pembagian
tanah reforma agraria.
Mereka tak perlu digerakkan dan
diyakinkan dengan seruan “saya akan bagi-bagikan untuk rakyat kecil!”
Mereka bahkan tak perlu air mata.
Mereka hanya perlu dikembalikan
ke kampung halamannya dan difasilitasi untuk hidup rukun kembali yang modal
sosialnya begitu kuat. Sesuatu yang gagal dipahami dan dipenuhi pemerintah
selama 6 tahun lebih.
Mereka tak perlu pembagian tanah
sebab meski mereka hidup di udik, tapi mereka orang-orang bermartabat dan
berdaya.
Mereka punya tanah dengan luas
keseluruhan sekitar 30-an hektare. Rata-rata setiap mereka punya luas bidang
tanah 1/5 hektare. Mereka bertani dan berkebun.
Selama 6 tahun lebih di
pengungsian mereka bukan hanya kehilangan hak untuk pulang dan bekerja mencari
nafkah namun juga kehilangan tanah.
Kini rumah mereka keropos dimakan
waktu dan menjadi ilalang. Tanah dan kebun mereka entah bagaimana nasibnya. Di
pengungsian, kehidupan sosial ekonomi mereka hancur berkeping-keping.

Baca juga: Resolusi Konflik

Sejak 2012 kami telah melalui
rezim SBY yang mengecewakan dalam penyelesaian kasus Sampang. Dari pintu ke
pintu birokrasi, lembaga pemerintah dan negara bahkan militer dan polisi kami
datangi mencoba membangun kerja sama menyelesaikan kasus Sampang.
Pada 2014 saya menaruh harapan
besar terhadap Presiden baru. Lagi-lagi pintu-pintu kekuasaan itu kami ketuk.
Tapi langgam tak juga berubah.
Setiap kementerian dan lembaga
yang kami temui menagih jalan keluar penyelesaian, tanpa malu masih mengeluhkan
hal yang sama: saling lempar bodi, merasa tak punya cukup kewenangan dan power.
Keadaan tanpa penyelesaian ini
begitu mengecewakan dan saya menyaksikan begitu lumpuhnya negara menyelesaikan
kasus yang sangat mikro dibanding klaim gagah mereka untuk menjaga NKRI sebagai
harga mati dan di saat seorang presiden justru begitu dielu-elulkan melebihi
era-era silam. Situasi ini saya lalui hingga 2016.
Tapi saya tak (sudi) menumpahkan
air mata di depan mereka. Saya lebih sering menelan pahit dan melupakan
kekecewaan-kekecewaan itu dengan berdoa jika penindasan tak bisa dielakkan
perbanyaklah mereka yang peduli untuk melawannya.

Andai saja saya bisa mencuri 30
menit waktu dari kekuasaan seorang Presiden, maka saya akan melakukan hal-hal
yang benar yaitu ketika konflik komunal terjadi tugas negarawan adalah
merukunkan bukan melanggengkan relokasi dan pengusiran.

Sumber Foto: islami.co

Related Posts