Tanda-Tanda Hati Seorang Hamba Mati - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Senin, Februari 25, 2019

Tanda-Tanda Hati Seorang Hamba Mati


Oleh: Santri Kiri

Atorcator.Com - Hati dalam diskursus ilmu tasawuf dianalogikan sebagai raja. Jika hati sebagai raja ini dalam kondisi yang baik, maka tubuh yang dipimpin oleh hati sebagai raja akan ada dalam kondisi baik pula. Namun sebaliknya jika hati ini dalam kondisi tidak baik, maka tubuh akan menerima konsekuensi yang sama seperti hati.

Hati, sebagaimana raja pada umumnya, dia dapat juga mati. Artinya tubuh akan mengalami kekacuan sebab hati sebagai raja telah meninggal. Imam Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Bin Athoillah As-Sakandari atau lebih familiar dengan laqob (sebutan) Ibnu Athoillah As-Sakandari dalam magnum opusnya kitab al-Hikam telah memberikan ciri-ciri akan kematian hati bagi tubuh ini. Beliau berkata:

مِنْ علاَماَتِ مَوْتِ القلبِ عَدَمُ الحُزنِ على ماَ فاَتكَ منَ المُواَفَقاَتِ وَتركُ النَّدَمِ علىَ ما فَعلتهُ من الزَّلاَّتِ

“Sebagian tanda dari matinya hati adalah tidak adanya rasa sedih ketika suatu kewajiban ditinggal, serta tidak merasa kecewa ketika melakukan suatu perbuatan melanggar dosa”.

KH. Muhammad Nafi’ dalam pengajian rutin, ahad pagi menyampaikan bahwa “kematian hati ini dapat diidentifikasi tatkala seseorang yang memiliki kesempatan untuk berbuat baik namun tidak digunakan dengan sebaik mungkin, sungguh disayangkan tatkala seseorang tersebut tidak merasa sedih atas tindakan itu kesempatan itu berlalu begitu saja”.


Baca juga: Benarkah Bacaan Shalat ada Korelasinya dengan Keutuhan NKRI?


Imam Muhammad bin Ibrahim mengomentari maqolah Imam Ibnu Athoillah as-Sakandari dia atas bahwa hati tidak mampu bersedih atau menyesal atas kelalaian itu adalah:

Perbuatan seorang hamba dibagi menjadi dua, perbuatan baik dan perbuatan buruk. Keduanya, merupakan tanda adanya ridlo dari Allah SWT terhadap hamba dan juga sebagai tanda adanya murka Allah SWT kepadanya. Sehingga tatkala Allah menetapkan pada hambanya untuk beramal baik, maka hal ini adalah tanda bahwa dirinya sedang dalam ridlonya. Dalam kondisi seperti itu, akan bertambah harapan kepada Allah. Namun tatkala Allah menarik ridlonya dan tidak menjaganya, maka hamba ini akan melakukan kemaksiatan dan akan membuat hamba ini menyadari bahwa dirinya sedang dalam murka Allah SWT.”

Dari pandangan ini, dapat disimpulkan bahwa kesadaran hati seorang hamba untuk tidak menyesal atas kesempatan yang terbuang sia-sia dan merasa kecewa atas perbuatan dosa yang dilakukannya merupakan tanda bahwa hati sebagai raja dari sebuah kerajaan bernama  tubuh telah mati dari jiwa seorang hamba.


Penulis berpendapat bahwa kesadaran hati ini, bisa dan akan timbul dari seorang yang benar-benar istiqomah dalam melakukan ibadah kepada Allah. Apakah orang yang tidak istiqomah dalam beribadah tidak dapat merasakan kesadaran ini? Bisa saja. 

Namun penting diketahui, bahwa hati yang mudah bergejolak ini sangat sulit ditebak. Kesadaran yang timbul dari hati pasti akan memberikan perubahan dalam hidup, dan ini tidak mudah karena hasil dari keistiqomahan itu sangat besar dan tidak bisa didapat oleh orang yang hanya berpangku tangan dan suka berangan-angan. Sebagaimana sebuah maqolahistiqomah (konsistensi) lebih baik dari seribu kemulian”.

Sumber Foto: Republika