Maunya Syar’i Nyatanya Nggak Syar’i Kok

NU.or.id

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
(Antropolog budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi)

Atorcator.Com – Ada sejumlah kelompok umat Islam di Indonesia yang demen banget dengan label “syar’i” sampai semua hal “disyar’ikan”. Pokoknya kalau nggak syar’i nggak okeh. Padahal masyarakat Islam di Arab Timur Tengah sendiri biasa-biasa ajah, nggak lebay njeblay, dan nggak begitu-begitu amat.

Wacana dan praktik syar’a-syar’i itu adalah produk dari “ajaran” sejumlah kelompok Salafi unyu-unyu. Tapi lucunya karena terlalu kesyar’i-syar’ian alias “terlalu semangat dalam bersyari’ah” malah nggak syar’i. Maksudnya, tidak sesuai dengan jalan atau garis-garis besar yang dimandatkan dalam teks-teks, doktrin, dan ajaran keislaman.



Misalnya begini: tentang pembangunan kompleks “perumahan syar’i” yang khusus atau eksklusif untuk umat Islam golongan tertentu. Ada lagi yang bikin “kos-kosan Islami khusus Muslim / Muslimah”? Dimana syar’inya? Dimana Islaminya?

Bukankah Al-Qur’an justru mengajarkan umat manusia dari berbagai suku-bangsa untuk bersosialisasi dan saling kenal-mengenal satu dengan lainnya atau berta’aruf? Bagaimana bisa berta’aruf dengan orang dari kelompok, etnis, suku-bangsa dan agama lain kalau tinggal nyungsep sendirian kayak manuk emprit lagi patah hati?
Ada lagi yang berbusana jilbab dan hijab aneh-aneh dengan desain unik tertentu dan glamor penuh dengan pernak-pernik ini-itu jadi kayak suwiwi dan buntut burung cendrawasih supaya dibilang lebih syar’i.
Lah syar’inya dimana busana seperti ini? Bukankah asal-usul membuntel tubuh dengan jilbab atau pakaian abaya itu adalah untuk dan simbol kesederhanaan? Mana ada Muslimah jaman dulu yang berbusana aneh-aneh model begitong? Jenis busana model begini malah sangat bid’ah dan sangat tidak syar’i sekali.๐Ÿ˜€
Silakan cari sendiri contoh-contoh yang lain ada semonas jumlahnya: ada minuman syar’i, musik syar’i, kafe syar’i, hotel syar’i, film syar’i, jenggot syar’i, kondom syar’i, ngencuk syar’i.๐Ÿ˜€ Jadi, beragama itu yang wajar dan nggak usah lebay atau overdosis lah entar malah keloloden modar koen.

Selengkapnya di sini

Related Posts