Tanda-Tanda Kealiman Seseorang Menurut Imam Jalaluddin As-Suyuthi

republika



Penulis: Edi Mulyono


Karena gak begitu ingat lagi, baiknya saya sebut insya Allah saja.


Begini:


Mengatakan “wallahu a’lam” atau “aku tidak tahu” merupakan salah satu ciri dari kealiman seseorang. Imam Suyuthi menasihatkannya.

  من فقه العالم ان يقول لا ادري علي الحال الذي لا علم فيه والله اعلم بالصواب..

“Di antara tanda kealiman seorang ahli ilmu ilah berkata tidak tahu pada sesuatu yang ia kurang menguasainya dan Allah lebih tahu akan kebenarannya….”


Bersama Jalaluddin al-Mahalli, beliau yang bernama asli Jalaluddin as-Suyuthi mengarang Tafsir Jalalain itu, yang amat kondang dan umum dikaji di begitu banyak pesantren, termasuk di pondok saya dulu, Denanyar, Jombang, eranya Mbah Sohib Bisyri dan Kiai Aziz Mayshuri.


Imam Suyuthi juga ahli fiqh. Juga ahli hadits. Dia salah satu rujukan primer dalam tradisi ilmiah Nahdliyin. Tentunya pula dalam sidang bahtsul masail.


Pernah saya temukan pendapat fiqhnya tentang hukum dzikir jahr (keras) dan berjamaah. Beliau menuliskan panjang sekali ulasan yang kesimpulannya begini: dzikir dengan keras atu berjamaah usai shalat atau tidak, misalkan, istighasah, boleh saja dan bahkan bernilai utama bila dengan cara demikian menghadirkan semangat lebih kuat untuk berdzikir dan menambah ilmu bagi jamaah.


Baca juga: Mengenal Ciri_Ciri Ulama


Beliau lalu ditanya, bukankah dalam al-Qur’an ada ayat yang menyuruh kita berdzikir dengan tidak keras dan juga hadits yang mengatakan supaya berdzikir dengan tenang karena yang kita dzikiri adalah Allah yang Maha Tahu?


Jawabannya, ayat tersebut Makkiyah dan asbabnya memaksudkan supaya menghindarkan gangguan atau ancaman dari kafir Quraisy yang tidak senang pada aktivitas mengagungkan asma Allah Swt.  Ketika di Madinah, lanjutnya dengan mengutip riwayat dari Ibnu Mas’ud, dituturkan bahwa usainya shalat jamaah Rasulullah Saw ditandai dari terdengarnya dzikiran kepada Allah Swt.


Poin yang menarik betul dari tuturannya dalam konteks ini, Imam Suyuthi yang hidup di era Mamluk abad ke-15 M, memungkasi fatwanya ucapan: wallahu a’lam bish shawab….


Kiranya, pelajaran dari tokoh Sunni Syafii sekliber beliau ini ialah kebesaran hati untuk selalu menyertakan Kemahatahuan Allah Swt di akhir pendapat-pendapatnya sebagai yang lebih benar dan itu menjadikan kebenaran dirinya relatif sekalipun telah ditopamg oleh argumen yang kokoh. Juga, mencerminkan rasa takutnya yang mendalam kepada Allah Swt untuk mengatakan hal yamg kurang diketahuinya, sebagaimana termaktub dalam ayat: 

ولا تقف ما ليس لك به علم 



“janganlah mengatakan/menetapkan hal yang kamu tak punya pengetahuan tentangnya”


Sedangkan kita kini…. ah.

Related Posts